“Kabur” pun kini menjadi trend ...

May 18, 2010 Qeeya Aulia 0 Comments

Rasanya dengan membaca judul diatas anda sudah bisa memprediksi apa yang akan kita bahas kali ini. Ya, kabur atau pergi dari tempat asal dengan sembunyi – sembunyi memang menjadi marak akhir-akhir ini. Padahal sebelumnya masyarakat hampir terserang syndrom bunuh diri di tempat – tempat ramai ataupun berlomba – lomba nekat memanjat tower telepon untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi kini, alih- alih berkembang ke arah yang lebih baik, kini trend pun bertambah dengan syndrom kabur dari rumah. Terutama setelah beberapa orang yang menamakan diri mereka public figure melakukannya . Sebenarnya tidak ada yang salah seratus persen dalam kejadian – kejadian tersebut. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena sesuatu terjadi pasti ada sebab yang mengawali dan melatarbelakangi kemunculannya. Seorang anak biasanya akan berpikir untuk lari dari masalah (jika ada beberapa hal yang menekannnya) daripada berfikir dingin untuk menyelesaikan konfliknya. Mungkin menurutnya lari dari masalah adalah solusi yang teringan yang harus dipilihnya. Dengan kabur, ia bisa menghindari pertengkaran dengan orang yang bersangkutan yang mungkin berada dalam lingkungan terdekatnya. Dengan kabur, mungkin ia bisa mendapatkan apa yang selama ini ia tak pernah mendapatkannya. Dengan kabur, mungkin ia akan terbebas sesaat dari hal – hal yang menekannya. Dengan kabur, mungkin ia akan merasakan betapa indahnya dunia tanpa orang yang harus membuatnya melipat muka dan terus menerus mengeluh. Banyak tawaran yang menggiurkan dari kabur. Tapi kabur bukanlah alternatif yang baik dan juga efisien. Kabur bukan penyelesaian masalah, tapi penambah masalah. Tidak ada yang bisa menjamin apa yang kita dapatkan setelah rencana pendek kita (baca : kabur) hidup kita akan menjadi lebih baik. Adanya konflik karena individu tidak dapat memilih dorongan mana yang harus dipuaskan terlebih dahulu. Biasanya masalah terjadi karena kurangnya komunikasi diantara individu yang bersangkutan. Dan juga biasanya masalah dilahirkan dari tuntutan – tuntutan orang yang lebih berkuasa kepada orang yang dibawah kuasanya. Akhirnya kabur menjadi alternatif sepihak yang bisa merugikan dan mungkin bisa juga menguntungkan seseorang. Banyak dari orang yang kabur karena ingin maju mendapatkan keinginannya setelah keluar dari lingkungan yang tidak kondusif. Tapi banyak juga yang menerima resiko yang berat dan tidak dapat ditolong lagi setelah pergi dari lingkungan yang sebenarnya baik baginya tapi ia tak tahu itu. Kabur mungkin adalah salah satu tindakan yang mencerminkan campuran ekspresi emosi dari rasa muak, bosan, sedih, dan marah yang tak tertanggulangi lagi. Ketika rasa kecewa menguasai diri sampai logika tak berkuasa lagi, kesalahan fatal biasanya yang akan terjadi. Ketika rasa marah memanaskan kepala, kata – kata kotor tak jarang keluar dengan lancar dan mudahnya. Itu semua mungkin terjadi pada setiap manusia. Tidak memandang apakah ia dokter, doktor,professor, orang tua sampai anak kecil, kecuali ia bisa menahan gejolak hatinya. Jika anda sebagai orang tua mendapati anak anda kabur dari rumah, yang menjadi pertanyaan pertama adalah ada apa dengan para penghuni rumah tersebut. Karena biasanya anak kabur dari rumah setelah menumpuk berbagai masalah yang dialaminya. Meskipun mungkin saja sebaliknya. Jangan menyalahkan orang lain jika anda masih melihat diri anda sempurna dan tak mungkin melakukan kesalahan tersebut. Jangan menuntut orang lain jika anda sendiri tidak mampu melakukan hal – hal yang anda harapkan dari orang tersebut. Jangan mengatakan orang lain bodoh jika anda belum mengajari orang tersebut hingga ia mampu. Dan jangan samakan orang lain dengan diri anda karena manusia berbagai macam keunikan yang hanya dimiliki oleh pribadi yang berbeda. Semua hal bisa menjadi alasan dan semua hal bisa menjadi jawaban. Semua hal bisa menjadi masalah dan semua hal bisa menjadi solusi. Mungkin hanya ini yang bisa saya tulis, mohon bimbingannya karena ini hanya berdasarkan ilmu “sok tahu” saya ^^. Thank’s for all. See you Qeeya Aulia

You Might Also Like

0 komentar: