PARA WANITA HEBAT YANG ‘DIKUBUR’ SEJARAH

August 20, 2010 Qeeya Aulia 0 Comments

Siapa dan apa karya pahlawan wanita yang anda tahu? Kartini dengan emansipasi wanitanya? Siapa dan apa lagi?
Bila beberapa dari anda menggelengkan kepala, berikut ringkasan artikel yang ditulis oleh Adian Husaini, MA pada rubrik “Kolom” Majalah Bina Da’wah No. 350 Edisi Bulan Mei 2009.
Mereka yang nama dan jasanya sengaja “ditenggelamkan” oleh Belanda, antara lain sebagai berikut :
1. Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan dari Aceh
Sultanah Safiatuddin adalah sosok wanita yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Ia menguasai beberapa bahasa. Antara lain : Bahasa Aceh, Melayu, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa kepemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Karena itulah lahir karya-karya besar Nuruuddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri dan Abdul Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. Dan hasilnya, VOC tidak dapat memonopoli perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan baik bagi wanita ataupun bagi pria.

2. Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan
Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F Matthes, ahli sejarah Sulawesi Selatan dari Belanda ini mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo yang mencakup didalamnya lebih dari 7000 halaman folio. Ikhtisar epsos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak – anak pria maupun wanita.

3. Dewi Sartika dari Bandung
Dewi Sartika bukan hanya berwacana tentang pendidikan kakum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakolah Kautamaan Istri yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.

4. Rohana Kudus dari Padang
Rohana Kudus melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Dewi Sartika di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan amal Setia dan Rohana School, Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Kota Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. WAnita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.” Itulah visi tegas Rohana Kudus yang kini tenggelam oleh berbagai rekayasa sejarah Indonesia.

5. Malahayati
Panglima Angkatan Laut wanita pertama di Kerajaan Aceh (jauh sebelum masa Kartini dan Cut Nyak Dien)

6. Cut Nyak Dien
Pejuang Indonesia yang sangat tegas dan kuat.

7. Tengku Fakinah
Seorang Ulama wanita di Aceh yang juga ikut berperang dalam melawan Belanda

8. Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Cupto Fatimah
Para pejuang wanita yang sangat gigih dan ikhlas mengeluarkan negaranya dari belenggu penjajahan
Dan masih banyak lagi nama yang belum disebutkan disini dan karyanya melebihi RA Kartini yang selama ini kita kenal. Tanpa mengurangi rasa hormat kami pada RA Kartini dengan perjuangannya, tapi perlu kita ketahui bahwa di zaman Kartini juga masih banyak wanita-wanita hebat yang tidak diungkap dalam sejarah bahkan tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia.
Sejarah yang kita ketahui dan pelajari selama ini rasanya perlu ditinjau ulang. Banyak scene yang ditambahkan dan dikurangi. Banyak pahlawan-pahlawan yang sebenarnya “tidak berjasa” menjadi berjasa, begitupun sebaliknya. Rekayasa demi rekayasa bermunculan dari berbagai pembahasan tentang sejarah negeri ini. Entah dari foto pahlawan, kisah pahlawan sampai tokoh-tokoh yang di “booming” kan pun ikut di rekayasa.
Habis gelap terbitlah terang. Tapi kini cahaya terang belum muncul dan gelap masih menyelimuti negeri ini. Kegelapan masih menyelimuti ibu pertiwiku. Indonesia kapankah engkau bangkit dari kegelapan itu?

Ciparay, 20 Agustus 2010

You Might Also Like

0 komentar: