“RIN, KAU BAIK-BAIK SAJA?”

March 07, 2011 Qeeya Aulia 7 Comments

Aku benci tatapan itu. Sunggguh. Benci karena aku tak bisa bersikap seperti yang aku inginkan. Bersikap kasar padamu dan berkata “Aku benar-benar muak!”. Tapi, aku tak bisa. Entah karena apa. Karena kau kini ada di dekatku, kah? Atau karena memang aku tak pernah membuka topeng manisku di hadapanmu? Argh, kau terlalu membuatku merasa bodoh, merasa lemah dan merasa tak berdaya.

“Rin, kau baik-baik saja?”
Suara itu menghancurkan kembali kata-kata jahat yang sudah ku susun.
“Hem..”, aku mengangguk lemah.
“Baik kalau begitu, aku pergi dulu”, pamitnya.

Aku menatapnya tak percaya, bahkan kami tak menghabiskan waktu lima menit untuk bertemu dan ia hanya berkata “Rin, kau baik-baik saja?” lalu dengan mudahnya meninggalkanku begitu saja?! Cih, menjijikan! Selalu seperti itu.

Ia tersenyum membalas tatapan tak lazim dariku seraya berkata, “Nanti ku usahakan untuk menghubungimu lagi.”

Dan sosoknya pun hilang di tengah keramaian di luar café tempat kami bertemu tadi.
Sungguh, aku tak tahan lagi. Tak tahan ingin memakinya. Tak tahan ingin mencacinya. Juga tak tahan untuk memeluknya. Ya, aku rindu. Aku merindukannya lebih dari apapun dan siapapun di dunia ini (mungkin).

Tetes demi tetes air mata yang sedari tadi ku tahan kini mengalir dengan derasnya. Beberapa pelayan yang hilir mudik mengantarkan pesanan menatapku iba, namun kubalas dengan delikan tajam sampai mereka menjadi salah tingkah.

Kutangkupkan kedua telapak tanganku di muka. Ku atur nafas sedemikian rupa. Kuseka air mata dengan beberapa helai tisu yang tersisa. Ingatan demi ingatan berkelebat hebat dan cepat, lebih cepat dari yang kuinginkan. Lebih detail dari yang pernah kuingat sebelumnya. Tapi sayang, ingatan dan kenangan yang berkelebat hanya kenangan bersamanya, kenangan aku bertemu dengannya, kenangan berbagai kebaikannya.
Ya, dulu Ia begitu manis, begitu baik, terlihat begitu sayang padaku. Tapi mungkin itu hanya kamuflase saja. Buktinya, tepat setelah Ia bilang mencintaiku, sikapnya berubah.tidak begitu manis seperti dulu, tidak begitu baik bahkan tidak terlihat sayang padaku.

Ia tak pernah bertanya apapun tentangku lagi. Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutnya, “Rin, kau baik-baik saja?” CUMA ITU!

Ia tak pernah ingin tahu bagaimana kehidupanku setelah ia dengan mudahnya pergi dan datang pada saat yang ia inginkan. Ia tak pernah ingin tahu bagaimana perasaanku padanya. Ia tak pernah ingin tahu bahwa hingga kini hanya ada dia di hatiku. Ia tak pernah ingin tahu segalanya yang kuingin ia tahu. Bahkan mungkin ia tak pernah tahu bahwa aku … Ah, sudahlah, biarkan saja ia tak pernah tahu karena toh ia memang tak pernah ingin tahu.

Aku sudah terlalu bosan terus mencacinya, aku sudah terlalu bosan membencinya. Tapi aku tak pernah bosan menyayanginya hingga aku tak pernah bisa mengikisnya. Terkadang aku menyesal, kenapa namaku Rinai, mungkin itu yang menyebabkanku selalu mudah menitikkan air mata.

Bergegas ku kemas barang-barang yang tadi berceceran di mejaku. Dan beranjak dari tempat itu. Mungkin dengan berjalan ke alam terbuka membuatku lebih tenang dan berfikir positif.

Tiba-tiba ponselku bordering,
Mia Calling..
Mia? Kenapa tiba-tiba Mia menelponku?
“Hallo, Rii, kamu dimana?”
“Di jalan Strata, ada apa Mii?”
“Oh, baguslah, aku tunggu kamu di apartement. Cepat ya?!”
“Eh, aku…”

Tut..tut..tut.. Mia mematikan telepon.
Aku menggerutu pelan, tapi bergegas berbalik arah. Mungkin ini memang hal yang sangat darurat, pikirku.

***

“Riiiiii”, teriak Mia sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Ada apa, Mii?” tanyaku padanya, ia tak berubah, selalu penuh senyum dan tawa.
“Ayo ikut aja!”
“Eh, jangan tarik-tarik dong! Sakit nih.”
“Hehe, ayo nona cantik,” godanya

Kami memasuki lift yang kebetulan masih terbuka. Lantai demi lantai kami lewati, namun Mia masih belum mengatakan tujuannya. Sampai di lantai tertinggi. Ia mengajakku naik atas menggunankan tangga.

“Mau ngapain sih kita?!” ujarku marah karena pertanyaanku tak pernah di gubrisnya.
“Sudahlah, yang penting ikut saja! Cerewet banget sih,” jawabnya santai.
Aku membuntutinya. Kami disambut oleh hembusan kencang angin, jelas saja, gedung ini lebih dari 15 lantai.

“Mii, kita mau kemana sih?ngapain?”
“Tunggu sebentar ya,” jawabnya sambil tersenyum

Ternyata tidak terlalu buruk berada di sini, sejenak aku bisa menitipkan tumpukan penat dan kesalku pada angin yang terus berhembus kencang. Untunglah aku naik pada saat yang tepat, tidak terlalu panas. Aku terlalu lelah karena menangis terlalu lama tadi. Hatiku kembali tenang. Rasanya aku tak perlu tahu untuk apa Mia mengajakku kemari.

Lima belas menitpun berlalu begitu saja, kini Mia terlihat gelisah dan terlihat lebih sibuk dengan gadget di tangannya. Aku tak berani mengganggunya. Lima menit kemudian ponselnya berbunyi. Kubuang pandanganku ke arah langit yang perlahan bertambah gelap.

Tiba-tiba Mia menarik tanganku dan memaksakku untuk berdiri. Jika ia bukan sahabatku sejak kecil, mungkin sudah kumarahi karena mengganggu relaksasiku sore itu.

“Rii, kita harus turun sekarang. Adri di rumah sakit!” teriaknya berusaha mengalahkan desauan angin yang kian mengeras.
“Eh, turun? Adri? Rumah sakit? Apa maksudnya, Mii?”
“Sudahlah, ayo cepat!”

Setengah bingung aku berlari mengikuti Mia yang turun dengan terburu-buru. Adri? Rumah sakit? Spekulasi demi spekulasi menari di kepalaku. Apa arti ini semua?.
“ Rii, kumohon, jangan sedikitpun berpikir yang tidak-tidak. Adri hanya mencintaimu, itu yang ku tahu,” ujar Mia menghancurkan kumpulan puzzle yang ku coba menyusunnya sendiri.

“Kau tahu, Rii? Aku diam-diam mencatat nomor Adri dari ponselmu, hanya karena kau selalu menangis setiap bertemu dengannya. Kau selalu berkata bahwa kau sangat membencinya tapi tak pernah bisa berhenti untuk menangisi segala tingkah lakunya padamu. Dan aku merasa, kau benar-benar mencintainya.”

“Ketika aku menanyakan alasannya langsung pada orang itu, kau tahu apa jawabannya?” Mia menoleh padaku. Aku menggeleng pelan. Lagi-lagi aku menangis tanpa sebab.
“Kurang lebih ia menjawab seperti ini, ‘Aku terlalu menyukainya, setiap aku bertemu dengannya jantungku berdegup lebih kencang, tanganku serasa bergetar tak karuan dan aku tak ingin membuatnya merasa tak nyaman. Karena itulah aku tak bisa bersamanya terlalu lama sebelum ia benar-benar jadi milikku.’ Sayangnya kau salah mengartikan itu semua, Rii”

Aku menatap Mia dengan tatapan ‘bagaimana bisa kau melakukannya?’. Tapi Mia hanya menghembuskan nafasnya panjang. Kami keluar dari gedung itu dan bergegas menyetop taksi. Kupikir Mia akan meneruskan penjelasannya, ternyata tidak. Kami hanya diam sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya berhenti di salah satu rumah sakit yang ada di kota ini.

“Pasien korban kecelakaan dirawat di kamar mana ya, Mbak?” Tanya Mia pada petugas rumah sakit itu.

“Oh, yang kecelakaan mobil ya? Sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Dari sini naik ke lantai tiga lalu lurus ke kanan. Kamar 305”, jawab petugas tersebut ramah.
Kecelakaan? Adri kecelakaan? Bagaimana bisa? Aku saja tak pernah tahu ia masih ada di kota ini setelah beberapa saat tadi kami bertemu, bagaimana Mia tahu?

“Dan kau tahu, Rii? Tadi sore sebenarnya Adri berniat untuk melamarmu. Ia meminta bantuanku untuk membawamu kesana. Tapi naas, mobilnya di tabrak truk yang ugal-ugalan. Rii, ia begitu baik, tidak seperti yang kau fikirkan tentangnya. Ia tulus mencintaimu, tapi ia tak tahu bagaimana ia menyampaikannya. Dan aku tahu, kau pun merasakan apa yang ia rasakan, bukan?” Tanya Mia padaku yang sudah sibuk menyeka air mata.

Kami berhenti di depan kamar 305. Mia menggenggam tanganku seraya berkata, “Masuklah, Rii. Ia membutuhkanmu.”

Aku bergegas masuk. Hanya ada dua orang disana. Satu ibu-ibu yang sudah terlihat cukup sehat sedang merapikan barang-barangnya dan satu lagi seperti seorang pemuda yang penuh bebat di sekujur tubuhnya. Aku bahkan tidak pernah percaya bahwa itu Adrian, orang yang selalu membuatku menangis setelah bertemu dengannya. Orang yang kata Mia tadi sore hendak melamarku namun urung. Orang yang tadi bertemu denganku kurang dari sepuluh menit dan dengan mudahnya meninggalkanku sendirian disana.
Ya, aku takkan pernah percaya bila tidak membaca nama yang terpampang pada papan di tempat tidurnya. Ia memang Adrian. Orang yang selalu membuatku merasa bodoh dan tak berdaya. Aku menahan tangisku yang sebenarnya sudah membuncah kembali sejak aku masuk ke ruangan ini.

Tubuh penuh kain kasa itu bergerak perlahan. Matanya mengerjap dan beberapa menit kemudian kembali tersenyum seperti tadi siang. Bibirnya bergerak perlahan seperti hendak mengatakan sesuatu.

Aku mendekatinya sambil terus sesegukan. Mendekatkan telingaku ke arahnya agar mendengar apa yang dikatakannya dengan jelas.

“err…Riin, kau baik-baik saja?”

Seketika aku tak bisa untuk tak memeluknya.

You Might Also Like

7 komentar: