ARTI MENJAUH (Part 2)

February 05, 2012 Qeeya Aulia 0 Comments


Aku tak tahu apakah aku harus menyesal atau bergembira, untuk kedua kali dengan rentang waktu yang begitu panjang, ia kembali mengirimkan sebuah pesan padaku. pesan yang senada dengan pesan sebelumnya. pesan yang bermaksud satu, tentang perasaannya padaku. 

“All I did, just want to know how my feel to you, and now I knew exactly how.. I love you.”

Pesan itu diakhiri dengan kata-kata yang sama, “Tak usah membalas pesan ini, aku hanya ingin kau tahu perasaanku.”

Lagi, setelah semuanya terjadi, ia menghilang bak ditelan bumi. Menjauh perlahan tapi pasti.Meninggalkanku yang masih (lagi-lagi) tergoncang seperti menjadi bagian dari tsunami.

Ah, Tuhan..begitu rumitkah kisahku? ataukah aku yang terlalu membuat ini semua menjadi rumit?

Aku tak pernah berpikir aku akan kehilangan asa bila tanpanya. Aku tak pernah merasa aku akan gagal menghadapi cita hanya karena masalah cinta. Aku tak pernah percaya, bahwa sebenarnya aku juga mempunyai perasaan yang sama. Hatiku membalas semua pesannya sebagaimana pesan yang ia kirimkan padaku walau aku tak pernah membalas pesan-pesan itu. 

Hidupku mulai tak seperti biasa. Bila boleh meminjam kosa kata anak zaman sekarang, mungkin apa yang kurasakan sekarang adalah “kegalauan” yang tak bisa kumengerti sendiri. Cerita mulai mengalir saat temanku terlihat siap mendengarkan semua keluh kesah yang kurasa. Ajaib! ternyata temanku itu sempat mendengarkan ia bercerita tentang alasan kepergiannya.

“Dia terlalu baik buat gue. Gue masih berandal. Gue masih mahasiswa yang hobinya cuma main dan main. Gue emang punya perasaan yang special buat dia dari dulu. Tapi untuk saat ini dia masih sangat terlalu baik buat gue.”


Terlalu baik katanya? Aku? Apa yang baik dariku?

Ah, kawan..
Butuh waktu lebih dari satu purnama untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa itu wujud cintanya padaku. Butuh waktu lebih dari 720 jam untuk percaya bahwa perasaannya bukan hanya ucapan semata. Butuh 30 hari untuk meyakini bahwa anggapan terlalu baiknya bagiku adalah semangat untuknya (dan juga untukku) menjadi lebih baik lagi. Butuh lebih dari puluhan malam untuk kuhabiskan dalam perenungan yang dalam, bahwa cintanya cinta yang berbeda. 

Cinta itu bagiku bukan mendekat, tapi menjauh tanpa sekat. Cinta itu bagiku bukan merapat, tapi melepas layar di malam yang pekat. Cinta itu bagiku bukan melesat dan berapi-api, tapi meredam dan menghilang bak ditelan bumi. Cinta itu arti menjauh. 


-Selesai-

You Might Also Like

0 komentar: