ONLINE

July 24, 2012 Qeeya Aulia 0 Comments

Aku suka dunia maya. Tepatnya lebih menyukainya daripada dunia nyata. Alasannya, aku bisa menahan diri untuk memberikan respon-respon negatif yang cenderung spontan terekspresikan bila aku bertatap muka dengan orang lain. Aku juga merasa lebih nyaman bila berhubungan dengan orang lain secara tidak langsung daripada bertatap muka dengan mereka. Walau menurut beberapa orang temanku, aku termasuk orang yang mudah bergaul. Ah, tau apalah kita tentang diri kita sendiri.

Dari dunia maya kudapat beberapa orang yang cukup nyaman untuk diajak berkomunikasi. Tidak terlalu sering dan tidak terlalu jarang. Cukup sesuai dengan porsi keinginanku. Dari dunia maya kudapat banyak informasi yang tak bisa kutahui. Dari dunia maya, kudapat membaca beberapa lembar artikel yang tak jarang malas kulakukan bila kutemui versi cetaknya. 

Dari dunia maya kutemukan banyak kabar tentang orang-orang yang jarang bahkan tak pernah kutemui di dunia nyata. Di dunia maya tak banyak kewajiban ataupun tuntutan yang harus kupenuhi setiap harinya. Dari dunia maya juga aku sukses dibuat iri oleh banyak keberhasilan teman-temanku. 

Entah apa arti sukses bagimu. Bagiku, sukses itu dapat rukun dengan orang tua, kuliah atau plesiran ke luar negeri sana, mempunyai usaha yang sesuai passion, menciptakan sesuatu yang luar biasa di usia muda, mengikuti berbagai kegiatan tanpa ada halangan berarti,  bebas berekspresi tanpa ada banyak harapan yang terlalu berat kuemban. Bagiku, sukses adalah menemukan ketertarikan yang dapat membuatku lupa waktu, lupa makan, lupa tidur dan lupa online. Terlalu muluk ya? memang. 

Arti sukses bagiku, sudah dicapai orang lain. Ini yang membuatku setengah sedih dan setengah gembira. Sedih karena aku tak bisa mencapainya, sedangkan orang lain dengan mudahnya mencapai itu semua. Gembira karena aku tahu mereka pantas mendapatkannya. 



Suatu hari seorang teman berkata padaku, "Ki, doakan ya. Saya sedang menulis buku. Pengorbanan lulus di tahun ini semoga terbayar lunas."

Ah, Tuhan. Mimpi lainku sudah dicapai orang lain. Lagi.

"Sukses ya. Berada diantara orang hebat itu bukan membuatku hebat, tapi malah minder," kataku.

"Semua orang hebat, Ki. Termasuk kau."

"Hebat katamu? aku tak pernah bisa benar-benar menyelesaikan apa yang kumulai. Hebat darimana?"

"Temukan energi minimalmu, Ki. Dengan energi minimal kau bisa melakukan apapun dengan maksimal karena kau seakan lupa segalanya saking asiknya dengan apa yang kau lakukan."

"Aku suka online, selalu lupa waktu bila berada dalam jaringan internet. Apa itu energi minimalku? Ah, rasanya tidak keren!" keluhku.

"Haha. Mungkin ya dan mungkin juga tidak. Perlu kau tahu, karena kau suka online, kau buatkan aku blog dan itu sangat bermanfaat, Ki. Sungguh. Terimakasih."

"Hei, pembicaraan kita tentang energi minimalku belum selesai. Apalah artinya sebuah blog. Akupun sudah lupa itu semua."

Dan seterusnya. Pembicaraan kami mengalir entah kemana.

Kata-katanya membuatku teringat pada kisah Sang Penandai karya Tere Liye. Mungkinkah aku seperti Patra eh entahlah siapa itu namanya. Tokoh yang membantu tokoh utama, Jim, mewujudkan kisah yang menjadi tugasnya. Ia ditakdirkan untuk menjadi jembatan orang lain menyelesaikan kisah yang ditakdirkan untuk mereka. 

Aih, rasanya terlalu berlebihan. Lagipula, mimpi dan cita-cita apa yang telah kubantu hingga tercapai?

Baiklah, apapun akhir keputusan yang Tuhan tentukan. Aku berharap, semoga kebiasaan dan kesukaan onlineku dapat bermanfaat bagiku dan bagi orang lain. Terimakasih Tuhan telah mengijinkan manusia mengembangkan internet :D

You Might Also Like

0 komentar: