TEGURAN INDAH

September 09, 2012 Qeeya Aulia 0 Comments

Sore itu, entah pasal apa  menjadi kelam sekelam-kelamnya senja yang pernah ada. Mukaku terlipat ratusan lipatan. Bibirku manyun puluhan milimeter. Langkahku gontai bukan kepalang. Tas ransel yang selalu kubawa kemana-mana bak parasut itu juga terasa seperti karung beras berton-ton beratnya. Sungguh, moodku sore itu membuatku lebih lelah dari biasanya. 

Aku berjalan sendirian seperti biasa. Menyusuri jalan yang cukup dilewati dua mobil secara bersamaan bagiku saat itu seperti lari bolak balik bukit shafa dan marwah. terlalu hiperbolis memang, tapi begitulah adanya. Lelah, penat dan sebal mengelilingiku. Rasanya aku bisa mendengar suara tawa para setan yang sedang memperingati hari bahagia mereka. Hari dimana salah satu hamba Tuhan luput bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Nya.

Suasana hatiku tak menjadi lebih baik. Apalagi setelah melihat antrean kendaraan yang tidak ada habisnya berjajar bak ular di jalan raya. 

"Ah, lagi-lagi macet!" keluhku.

Aku terdiam beberapa saat. Berusaha menikmati banyak hal yang bisa kunikmati sore itu. Harum masakan dari deretan rumah makan berbagai spesialisasi masakan. Pekikan klakson dari berbagai penjuru jalan raya yang seolah menunjukkan mereka tak akan berhenti memencet benda bising itu kecuali mereka mempunyai sayap. Angin sepoy-sepoy yang membawa wangi aneka parfum dari toko parfum yang ada di belakangku. Tapi sayang, semua itu tak bisa membuatku benar-benar menjadi baik suasana hatinya. 

Tiba-tiba, pekikan klakson deretan kendaraan yang sejak tadi mengantri itu saling bersahutan. Aku menengok ke arah rambu lalu lintas. Aih, ternyata warna merah berganti warna menjadi hijau. Pantaslah mereka berebut menyalakan klakson seperti mereka berebut untuk datang ke rumah lebih cepat daripada siapapun di dunia. Puluhan kendaraan sudah banyak berlalu melewatiku yang masih diam berdiri dipinggir jalan. Mobil angkutan umum berwarna coklat itu belum datang juga. Rasanya hari ini aku sungguh sedang sial.


Tapi kalimat terakhir dalam paragraf diatas rasanya harus kukoreksi karena suatu hal. Sebuah motor vespa berjalan perlahan di jalan raya. Terjebak kemacetan yang kembali mengular setelah lampu hijau berganti merah kembali. Ada sosok yang membuat semua suram sore itu menjadi kebalikannya. Sosok yang ada di atas vespa kuning yang terlihat terawat. Ia duduk ditengah. diapit oleh dua orang dewasa yang kusinyalir sebagai orang tuanya. Gadis itu gadis kecil berambut keriting. Memakai topi kotak-kotak yang selaras dengan baju yang ia kenakan. Karenanyalah sore hari itu menjadi sore hari paling berharga bagiku. 

Yang ia lakukan hanya satu. Tersenyum. Saat gadis kecil itu tersenyum, jalan raya ini seperti dipenuhi pelangi. Senyum gadis itu membuatku tak bisa menahan diri untuk membalas senyum sambil sedikit menganggukkan kepala. Ah, gadis itu melakukan satu hal yang aku lupakan.

Aku pernah mendengar, bahwa apa yang diberikan dari hati akan sampai ke hati juga. Entah darimana aku mendengarnya. Lupa. Dengan segera aku mengklaim bahwa senyuman gadis itu adalah senyuman dari hatinya. Aku berpikir itu peringatan kecil dari Tuhan. Betapa hal kecil seperti senyum dapat membuat orang lain merasa senang dan gembira. SOre itu, aku masih sibuk dengan diriku sendiri. masih sibuk dengan urusan pelik yang kubuat sendiri. Dengan kesusahan-kesusahan yang kubuat sendiri dan tersadarkan hanya dengan senyuman dari seorang gadis kecil bertopi kotak-kotak. 

Hei, kawan. Jangan mengiraku yang bukan-bukan. Aku juga heran mengapa hanya karena sebuah senyum moodku bisa cepat membaik. Rasanya mungkin lebih baik gadis kecil itu yang menyampaikan teguran Tuhan itu padaku. Bagaimana jadinya bila lelaki muda nan tampan yang melakukan itu semua? Aih, rasanya aku tak bisa tidur berbulan-bulan. Hahaha. 

Kawan, sejak sore itu, aku tahu bagaimana rasanya sebuah senyuman, hal kecil yang sederhana dan bisa dilakukan siapa saja itu membuat hariku lebih baik daripada sebelumnya. Semoga aku bisa melakukan hal serupa (kalau bisa dengan skala yang lebih besar) dengan gadis kecil bertopi kotak-kotak itu. Terimakasih Tuhan, Kau menegurku dengan cara yang sangat indah! :)

You Might Also Like

0 komentar: