TAK CUKUP DUA RIBU

May 25, 2013 Qeeya Aulia 0 Comments



Sore itu memang mengasyikkan. Kami menduga-duga interpretasi dari bercak-bercak tinta yang ada di depan kami. Kami sedang belajar tes kepribadian proyektif yang tersohor sulit untuk dipelajari. Namanya tes Rorscach alias Ro. Setiap jawaban ditransformasi menjadi kode-kode skoring tertentu dan sedikit banyak mencerminkan kepribadian orang tersebut. Sulit, namun mengasyikkan. Belajar tes-tes psikologi selalu membuatku merasa beruntung mempelajari teori-teori kepribadian dan teori-teori psikologi lainnya sebelumnya. Intinya, sore dimana kami belajar bersama dalam kelas Ro selalu menyenangkan.

Tapi yang akan kuceritakan bukan tentang interpretasi Ro ataupun administrasi tesnya. Tapi tentang dua orang teman dekatku di kelas itu, Eli dan Nisa. Eli biasa kupanggil Mamen karena kebiasaannya menambahkan kata itu dibelakang percakapan dalam bahasa inggris saat kami kursus bahasa Inggris di tingkat satu. Nisa sering kupanggil Teh Nisa karena penampilannya yang terlihat kalem dan lembut, padahal aslinya jauh dari penampilannya. Haha.

Singkat cerita, kelas Ro selesai 15 menit setelah adzan maghrib berkumandang. Kami bergegas untuk meninggalkan ruangan kelas. Entah mengapa rasanya ingin sekali kuperiksa keberadaan dompetku saat itu. Kucoba merogoh saku, yang kutemukan hanya uang dua ribu. Kucoba periksa semua sisi dalam tas ranselku. Hasilnya nihil. Sepertinya dompetku jatuh entah dimana.

Eli dan Nisa bertanya apa yang sedang kulakukan, aku menjawab apa adanya. Mereka kaget dan ikut kebingungan. Lucunya, saat ekspresi kaget dan bingung mereka muncul, mereka sama-sama mengecek saku dan dompet. Berusaha membantuku yang bodohnya hanya cengengesan tak punya solusi.

Mereka mengeluarkan uang yang ada di dalam dompet. Memisahkan beberapa lembar untuk ongkos pulang lalu memberikan sisanya kepadaku.

“Eli belum ambil uang di ATM, Ki,” kata Eli.
“Aku gak bawa dompet yang satu lagi, Ki. Adanya segini doang,” kata Nisa.

Sungguh aku tak pernah meminta mereka untuk meminjamkan uang padaku. Aku berceritapun memang karena hanya ingin bercerita saja. Kini aku kebingungan dan kaget karena tindakan mereka yang langsung patungan saat mendengar ceritaku.

“Cukup gak, Ki?” tanya mereka berbarengan.

Aku hanya tertawa. Kocak. 

Aku mengangguk dan berterimakasih kepada mereka karena berkat mereka aku bisa pulang ke rumah. Andai saja rumahku dekat dengan kampus dan hanya membutuhkan ongkos dua ribu, mungkin kejadian ini tak akan pernah terjadi. Beberapa hari setelah kejadian itu, mereka berdua kerap menanyaiku hal yang sama sebagai candaan : “Bawa dompet kan, Ki? Atau kita harus patungan lagi?”

Tuhan, Kau selalu baik. Lagi-lagi mempertemukanku dengan orang-orang baik. Terimakasih.

You Might Also Like

0 komentar: