TERIMAKASIH, DINA

May 25, 2013 Qeeya Aulia 0 Comments



Aku termasuk orang yang saat ini tak bisa dengan mudah menahan emosi negatif terutama marah. Ya, jikalau amarah bisa berubah menjadi uang, mungkin aku sudah menjadi orang terkaya sedunia karena terlalu sering marah-marah. Jeleknya, setiap marah pasti orang-orang yang ada disekitarku kena imbasnya. Nyolot sana, nyolot sini. Menyebalkan.

Umumnya, bila sedang marah, teman-temanku enggan mendekat karena malas kena semprotan yang panjang bukan main. Tapi berbeda dengan temanku satu itu. Dina.

Namanya Dina Hazadiyah, ia sering menuliskan kata “rainbowstar” diakhir nama depannya sebagai nama gaul di barang-barang miliknya termasuk berbagai akun sosial media yang ia punya. Dina termasuk orang tersabar dari segelintir orang yang sabar berinteraksi denganku. Ia orang yang pemalu, baik, ramah dan juga sabar.

Suatu hari entah karena apa, aku tak bisa menahan diri. Marah-marah tak jelas. Mengoceh tak tentu arah. Intinya, saat itu aku marah besar. Padahal aku sedang bergerombol dengan teman-temanku yang lain. Mereka diam saja tak menanggapiku yang mengoceh terus-terusan. Merasa tak didengar, akhirnya aku diam. Kesalku semakin bertambah. Teman macam apa mereka? Pikirku saat itu. Hahaha. Memang dasar orang egois tak ada tandingannya. Aku tak memikirkan betapa kesalnya mereka karena terus-terusan mendengar ocehanku.

Kami mampir disebuah warung pecel lele di pinggir jalan. Seperti biasa, setelah memesan makanan sang pemilik warung menyediakan satu gelas teh hangat untuk setiap pembeli. Semua mendapatkan minuman hangat mereka kecuali aku. Sang penjual salah menghitung jumlah pembelinya. Kesalkupun bertambah.

Tiba-tiba Dina menyodorkan gelas teh hangatnya kepadaku.

“Ini buat Kiki dulu, minum dulu biar tenang,” ujarnya.

Aku mengambil gelas itu tanpa berkata-kata. Tak lama kemudian pesanan makanan kami siap disantap. Dina lagi-lagi mengajakku berbincang.

“Mau kerupuk, Ki? Dina ambilin kalau mau,” tawarnya.

Bukannya mengangguk atau memberi jawaban pasti, aku malah menangis. Amarah yang hampir mengkristal di hatiku, seketika pecah berserak tak bersisa.

“Kenapa? Udah jangan nangis, makan yuk sekarang,” ajak Dina sambil menyerahkan kerupuk padaku.

Sialnya, air mataku malah bertambah deras. Sesaat kemudian aku mulai tenang. Menghentikan tangisku dan ikut makan seperti teman-temanku yang lain. Pastinya dengan kondisi lebih tenang dan tak merasa kesal lagi. Setengah jam berlalu, kami meninggalkan warung pecel lele itu.

Makasih Dina,” kataku.

Dina hanya tersenyum cengengesan seperti biasanya. Selalu, ia selalu tersenyum seperti itu sambil berkata, “Apa sih kamu, biasa aja.”

Rasanya baru kali itu ada orang yang tetap bersikap baik padaku walaupun aku sudah marah-marah padanya. Rasanya baru kali itu ada orang yang tetap tersenyum menawarkan bantuannya untukku saat aku kesal dan mengesalkan. Rasanya aku diperintahkan Tuhan belajar menjadi baik seperti Dina atau mungkin orang-orang baik lainnya. Ah, Tuhan.. Kau selalu tahu diri ini selalu bebal bila hanya mendengar nasehat-nasehat yang berseliweran indah di telinga.

Terimakasih Dina 

You Might Also Like

0 komentar: