HARMONY

June 05, 2013 Qeeya Aulia 0 Comments



Beberapa hari yang lalu lagi-lagi kutonton film yang ada. Salah satu film dari film yang kutonton adalah Harmony. Kupikir ini seperti film August Rush, tentang composer, music dan mungkin tentang harmonica. Entah darimana pikiran itu muncul, aku pun tak tahu. Yang jelas, dari awal kutekan tombol play, aku tak berani berekspektasi berlebihan. 

Film ini berasal dari negeri Gingseng yang sedang perang dingin (eh apa perang panas, ya?) dengan tetangganya di bagian Utara.  Diawali dengan adegan seorang ibu melahirkan. Linu, ngeri dan lucu bercampur menjadi satu. Tak lama, anaknya lahir dan berjenis kelamin laki-laki.

Singkat cerita, usia anak bernama Moo (anak laki-laki tadi) menginjak 1 tahun. Seorang wanita tua menjahit baju lucu untuk si kecil. Adegan berganti dengan dua orang tahanan memaksa tahanan lain memberi hadiah. Awalnya aku heran, mengapa film ini bersetting di dalam penjara. Tapi beberapa menit kemudian pertanyaan itu terjawab. Ibu Moo adalah salah seorang tahanan di rumah tahanan wanita di Korea Selatan.

Ibu Moo beserta ketiga temannya ditambah satu sipir wanita merayakan ulang tahun Moo yang pertama. Setiap orang memberikan kado untuk Moo. Ibu Moo berusaha menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”, tapi bukannya senang, Moo malah menangis ketakutan. Teman-teman Ibu Moo meledeknya dan memerintahkannya untuk berhenti bernyanyi.

Mereka mengambil foto bersama dibantu oleh sipir wanita yang ikut berpesta. Celakanya, pimpinan sipir penjara melihat kilatan blitz kamera dan segera mendekat ke kamar tahanan itu. Ia beserta timnya menggeledah kamar tahanan dan menyita kamera yang mereka gunakan. Ibu Moo yang bernomor tahanan 572 itu diperingatkan bahwa tidak ada satu pengecualianpun untuknya walaupun ia memiliki anak.

Kamar tahanan yang dihuni mereka berempat memang menyenangkan. Mereka saling akrab satu sama lain. Tapi semua berubah saat ada seorang gadis muda yang baru ditahan karena kasus pembunuhan. Gadis itu mendorong Moo yang menghampirinya dan berusaha memeluknya. Moo menangis dan itu membuat ibu Moo marah. Mereka berdua berkelahi. Suasa kamar tahanan tak semenyenangkan dulu lagi. Keduanya dipisahkan dan dihukum di ruangan yang berbeda. Si gadis muda ini terus menerus melukai dirinya dan berusaha untuk mati. Menurut sipir wanita yang bersahabat dengan para tahanan, gadis itu dimasukkan ke penjara karena membunuh ayahnya dengan tidak sengaja saat ayah kandungnya itu berusaha mencabulinya selama bertahun-tahun. Sejak itu, ia menolak bertemu ibunya walaupun ibunya setiap hari selalu datang menemuinya.

Kisah kelam yang membuat mereka mendekam di penjara satu persatu terungkap dengan apik dalam film ini. Ibu Moo masuk penjara karena tidak sengaja mendorong suaminya yang terus menerus menendang kandungannya dan berniat membunuh bayi Moo beserta ibunya. Suaminya terjerembab ke atas meja kaca dan mati saat itu juga.

Lain lagi dengan si gendut teman kamar tahanan Ibu Moo. Ia adalah atlet gulat professional. Ia berkencan dengan managernya, hubungan mereka sangat baik hingga sang manager menggelapkan uangnya. Ia mematahkan leher sang manager dan berakhir di rumah tahanan itu. Si penyanyi malam yang juga teman ibu Moo tak kuketahui kenapa ia masuk ke penjara itu.

Kisah wanita tua yang menjahitkan baju untuk Moo juga tragis. Satu hari sebelum konser musiknya, temannya yang mengajarkan piano dan rencananya akan dibelikan sepatu oleh wanita itu berselingkuh dengan suaminya. Ia menemukan mereka mesra dengan suaminya di rumahnya. Ia kalap. Wanita tua yang dulu masih muda itu menabrak suami dan teman wanitanya hingga mereka tewas. Anaknya membencinya dan tak pernah mau memanggilnya ibu.

Semua kisah tragis itu menjadikan mereka pembunuh yang membuat mereka mendekam di penjara. Hari-hari di penjara dihabiskan oleh ibu Moo bersama anaknya. Tak ada penghuni penjara yang tak tahu ibu muda itu sangat menyayangi anaknya.

Suatu hari, para tahanan disuguhkan penampilan paduan suara yang sangat indah. Semua orang terpaku melihat para anggota paduan suara bernyanyi dengan penuh penghayatan. Ibu Moo memikirkan suatu terobosan yang benar-benar controversial. Ia menghadap pimpinan penjara dan mengutarakan maksud kedatangannya. Ia mengusulkan pengadaan grup paduan suara di penjara tersebut. Menurutnya, dengan berlatih paduan suara, energy mereka akan teralihkan dengan positif. Kepala sipir menolak usul tersebut, namun pimpinan penjara sebaliknya. Ia menyetujui usulan ibu Moo.

Ibu Moo berusaha membujuk semua orang yang potensial untuk bergabung di grup paduan suara itu sebelum ia membuat pengumuman resmi. Wanita tua yang tinggal sekamar dengannya diminta menjadi pelatih grup tersebut. Kau pasti tahu jawabannya, teman. Tidak. Ia menolak. Bayangkan, memegang piano saja sudah mengingatkannya pada masa lalu yang kelam. Apalagi setiap hari memainkannya.

Ibu Moo tetap memaksa. Ia mengatakan bahwa bila proyek ini berhasil, maka ia dan Moo bisa berkunjung ke luar penjara dan merasakan dunia bebas selama satu atau dua hari.

Wanita itu tetap memutuskan untuk tidak bergabung. Tapi keputusan itu berubah saat ia memainkan piano sendirian. Wanita tua itu mengira tidak ada siapapun disana. Ia rindu pada anaknya. Satu-satunya keluarga yang dimilikinya saat itu. Tak sengaja ibu Moo dan sipir wanita mendengar dentingan piano yang dimaikan wanita tua itu. Mereka masuk secara diam-diam dan duduk mendengarkan alunan piano. Setelah selesai, mereka bertepuk tangan dan kembali mengajak wanita tua itu untuk bergabung dalam grup paduan suaranya. Ia setuju.

Keesokan harinya, pengumuman disebarkan. Ada banyak tahanan yang ingin ikut serta dalam paduan suara tersebut. Mulailah wanita tua itu menyeleksi dan mengelompokkan mereka menurut suaranya. Alto, sopran dan mezzo. Aku tak tahu jenis suara macam apa mezzo. Tapi menurut kamus inggris yang tertanam di komputerku, artinya sedang. Mungkin ini adalah jenis suara diantara sopran dan alto.

Di tengah latihan, ada salah seorang tahanan menolak untuk ikut berlatih dan memaki wanita tua yang menjadi konduktor karena selalu menyuruhnya melakukan banyak hal saat bernyanyi. Pertikaian terjadi. Ibu Moo dipanggil dan diberikan tenggang waktu hingga 6 bulan kedepan. Bila tidak berhasil, grup paduan suara itu akan dibubarkan.

Ternyata semua rencana tentang paduan suara tidak mudah. Harus ada salah satu penyanyi yang mempunyai suara baik sehingga dapat diikuti oleh yang lain. Wanita tua itu mulai pesimis. Apalagi ia memegang dua posisi, sebagai pemain piano dan sebagai konduktor. Aih, sangat rumit sekali, nyonya.

Ibu Moo mengatakan bahwa sipir wanita yang sering menemani mereka bisa bermain piano. Walaupun sebenarnya ia tak menyelesaikan kursus pianonya sehingga tak dapat bermain dengan baik. Intinya, latihan di minggu-minggu awal adalah latihan terkacau sepanjang sejarah paduan suara itu. Wanita tua itu sangat membutuhkan suara sopran yang baik saat bernyanyi. Kau tahu, ibu Moo menemukan sang pemilik suara emas itu. Gadis muda yang sekamar dengannya.

Ibu Moo mendengar suara seseorang bernyanyi dengan indah. Tapi menurutku suaranya seperti suara hantu, fufufu. Ia menelusuri sumber suara. Ternyata yang sedang bernyanyi adalah gadis muda yang selalu terlihat kesepian itu.

Ia mengabarkan wanita tua tentang temuannya dan memintanya untuk menemui gadis muda tersebut. Wanita tua itu menyanggupi dan berencana menemuinya di ruangan latihan paduan suara yang juga berfungsi sebagai ruangan pertunjukkan bagi para tahanan. Gadis muda itu menolak dan mengatakan hal yang menyakiti hati wanita tua tersebut. Wanita tua itu menamparkan dan memastikan paduan suara akan tetap berjalan dengan atau tanpa bergabungnya gadis muda tersebut.  

Keesokan harinya, gadis muda itu menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada wanita tua. Wanita tua itu menerima permintaan maafnya kemudian mengajaknya bercerita sambil bermain piano. Mereka berdua menangis bersama. Bayangkan, dua orang dengan cerita menggenaskan saling berbagi. Yang satu tidak diterima putrinya karena malu mempunyai ibu seorang pembunuh, yang satu lagi tidak mau menemui ibunya karena benci ibunya diam saja melihatnya dicabuli ayah kandungnya sendiri. Keduanya merasakan kepahitan yang sama walau kadarnya tak ada yang tahu perbandingannya.

Gadis muda itu menyanyi di depan seluruh anggota paduan suara. Saat ia menyanyi, seluruh anggota paduan suara terpukau olehnya. Singkat cerita, latihan paduan suara menjadi lebih mudah saat kedatangannya. Gadis muda itu mulai bersosialisasi dengan yang lainnya. Ia juga mengajarkan ibu Moo untuk bernyanyi dengan baik agar anaknya tak menangis saat ia menyanyi. Semua orang belajar dengan giat. Wanita tua belajar mengendalikan grup paduan suaranya dengan berbagai lagu dan notasi yang ia rangkai. Sipir wanita belajar kembali memainkan piano hingga bisa membantu grup paduan suara tersebut. Ibu Moo belajar bernyanyi dan seluruh anggota paduan suara belajar bernyanyi dalam kelompok. Semua itu membuat bernyanyi lebih menyenangkan dan membuat hari-hari mereka menjadi ceria.

Enam bulan berlalu. Saatnya pertunjukkan. Penampilan mereka luar biasa memukau. Energik dan bersemangat. Membuat semua orang yang hadir disana ikut menari dan bahagia. Pimpinan penjara mendapatkan pujian dari pimpinannya. Kepala sipir yang awalnya sinis kepada mereka mulai melunak. Para tahanan sangat menanti pertunjukkan selanjutnya dan seluruh kru paduan suara bahagia tiada dua. Usaha mereka berhasil dan mereka melakukannya dengan baik sekali.

Hadiah untuk ibu Moo sudah pasti menjadi haknya. Tapi hari itu menjadi hari yang paling menyedihkan baginya. Ia harus berpisah dengan anaknya karena memang sudah ketentuan hukum yang berlaku demikian. Moo harus pergi dari penjara dan diasuh oleh orang tua angkat, kecuali ibunya mau menyerahkannya ke saudaranya. Tapi itu tidak dilakukan ibu Moo. Ia memutuskan untuk memberikan Moo kepada orang lain. Menurutnya, lebih baik Moo tak pernah ingat ibunya ada di penjara.

Semua orang menangis mengetahui kabar ini. Ibu Moo adalah orang yang paling menderita saat itu. Tapi yang ia ambil adalah keputusan yang menurutnya benar. Ia seperti orang yang depresi selama beberapa hari. Wanita tua konduktor paduan suara menasehatinya dan memintanya kembali beraktivitas seperti dulu. Ibu Moo menangis sejadi-jadinya. Tapi hari-hari berikutnya bergulir seperti biasanya.

Hingga suatu hari ada undangan tampil di malam natal pada kompetisi paduan suara wanita di Seoul. Ada kisah sangat mengharukan disana. Air mataku tak ada habis-habisnya keluar tak bisa terbendung lagi. Ending cerita ini membuatku tak mengerti banyak hal yang ada di negeri Gingseng itu. Ah, lebih baik kau tonton saja sendiri film ini. Terlalu banyak detail cerita yang sangat menarik yang tak bisa kuceritakan semuanya disini karena terlalu panjang dan membuat orang malas membacanya. Yang jelas, setelah menontonnya aku langsung menghampiri ibuku, menyelimutinya dan mencium tangannya. Aku tak mau kehilangannya, Tuhan.

Film ini sangat baik bila ditonton seluruh keluarga tapi tetap harus ada pengawasan dari orang tua karena ada beberapa adegan yang tak baik ditonton anak-anak. Seperti biasa, ada beberapa hal yang kubingungkan saat menontonnya :

  1. Sebenarnya berapa lama masa tahanan yang dijatuhkan kepada para pembunuh “tidak sengaja” di Korea Selatan? Apakah tidak ada pemotongan masa tahanan walaupun tahanan tersebut berbuat baik selama mereka menghabiskan waktu di penjara? Apakah tidak ada apresiasi khusus untuk mereka yang berjasa mengharumkan nama LP?
  2. Bagaimana mungkin moratorium hukuman mati dicabut tanpa menimbulkan resistensi masyarakat terutama mereka yang sudah lama ditahan jauh sebelum moratorium itu dicabut?
  3. Lucu, Moo lahir bersih tanpa darah. Ini mustahil. Hehehe.
  4. Penjara di Korsel enak ya, ada televisi, kamar tahanannya pun enak, seperti kamar kos. Kok bisa ya? Ah ya mungkin kebijakannya yang berbeda.

Terlepas dari seluruh pertanyaan bodohku, lagi-lagi film ini sangat bagus. Aku suka :) 

You Might Also Like

0 komentar: