Dari Tak Mungkin menjadi Mungkin

October 12, 2013 Qeeya Aulia 0 Comments

Tiba-tiba teringat dengan beberapa kompetisi tingkat nasional yang kami ikuti. Bukan, bukan saya yang mengikuti kompetisi itu, tapi mahasiswa/i Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang diakomodir oleh SMF Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beberapa minggu yang lalu, kami mengikuti sebuah event tahunan dari fakultas Psikologi salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Event ini terdiri dari berbagai cabang lomba olahraga dan seni. Dari sekian banyak cabang lomba, kami hanya mengirimkan 3 tim (Futsal putra, basket putra dan tari) karena keterbatasan kuota yang disediakan panitia untuk cabang lomba tertentu. 

Masih teringat jelas raut muka kebingungan teman-teman bidang pengembangan seni dan olahraga. Hal mendasar yang paling membuat mereka bingung adalah bagaimana memfasilitasi pemain atau peserta lomba dengan sebaik-baiknya. Berbagai cara sudah kami upayakan. Namun kekurangan pasti tak bisa dinafikan. 

Hari keberangkatan tiba. Bus biru tua bertuliskan Angkatan Udara Republik Indonesia datang setelah kami menunggu lama. Padahal pelepasan peserta sudah dilakukan beberapa jam sebelumnya. Terlepas dari lamanya kami menunggu bus itu datang, bila kau tahu bagaimana cerita dramatis yang ada di belakang kehadiran bus itu, kau bisa saja beranggapan seperti kami : Bus itu adalah bus penyelamat. Terdengar terlalu berlebihan memang, tapi itulah yang sesuangguhnya terjadi. 

Melihat bus itu datang, raut muka kebingungan fasilitator sedikit memudar. Baru sedikit saja.

Kami berkumpul di tiang bendera depan gedung rektorat dan berdoa bersama. Apapun dan bagaimanapun hasilnya, mereka tetap orang-orang terbaik yang pernah dimiliki psikologi UIN SGD BDG.

Perjalanan dimulai. 

Bus itu mengangkut sekitar 35 orang dan langsung berangkat menuju Jakarta selepas Ashar. Sungguh, melihat keberangkatan mereka saja membuatku haru sekaligus bangga. Meskipun fasilitas yang kami berikan disana hanya ala kadarnya saja, tapi semangat untuk mengikuti kompetisi ini semakin bekobar. 

Mengapa saya tidak ikut? Ada banyak hal yang harus diselesaikan dengan segera disini. Kegiatan tak lantas berhenti hanya karena berfokus pada satu kegiatan yang sedang berjalan, bukan? Tapi saya berjanji akan menyusul kesana saat giliran tim tari tiba. Karena jadwal mereka cocok dengan pengaturan jadwal pribadi yang saya buat. Selain itu, hanya ada 1 orang staf bidang pengembangan olahraga dan seni yang ikut ke pertandingan tersebut. 

Pertandingan demi pertandingan berlalu. Kalah dan menang bergantian dicapai. Namun hasil akhir menunjukkan bahwa kami (tim futsal dan basket) belum bisa lolos ke babak selanjutnya. Sama halnya dengan perlombaan tari yang kami ikuti, kami belum bisa mempersembahkan kemenangan untuk semua orang yang telah mendukung kami. Tapi kekalahan tak pernah jadi masalah, karena tujuan utama menerima tawaran mengirimkan delegasi ke kompetisi tersebut bukan hanya 'meraup kemenangan' saja tapi memberikan kesempatan teman-teman kami di Psikologi UIN SGD BDG untuk merasakan maupun mempelajari penyelenggaraan kompetisi tingkat nasional. 

Terlepas dari hasil akhirnya, evaluasi besar-besaran perlu dilakukan dengan benar agar kedepannya lebih baik lagi. Meskipun kita semua harus menyadari bahwa semua orang yang terlibat dalam kompetisi ini baik pelatih, pemain maupun pihak kami sebagai official sudah berusaha sekuat tenaga dan sebisa mungkin. Mari saling menghargai. Bukan dengan sejumlah uang, bukan pula dengan pujian-pujian, tapi dengan pengakuan bahwa kita semua sudah berusaha pol-pol-an. 

Secara khusus saya ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu kita semua mengikuti kompetisi ini. Semua hal yang sekarang telah berlalu itu sempat berkali-kali terasa mustahil bagi kami. Tapi dengan bantuan semua pihak, hari-hari itu telah kita lewati bersama. Sekali lagi, terimakasih sebanyak-banyaknya dan maaf atas segala kekurangannya. 

Sukses selalu! Salam hangat :)







You Might Also Like

0 komentar: