Menikah

November 11, 2013 Qeeya Aulia 0 Comments

Menikah. Satu kata yang melahirkan begitu banyak persepsi bagi orang-orang yang membacanya. Kata yang menurutku merujuk pada keinginan tiada henti manusia yang merasa kebutuhannya harus terus menerus dipenuhi. Yang lajang ingin memiliki pasangan, yang memiliki pasangan terkadang ingin menjadi lajang, menambah pasangan atau bahkan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang perkawinan. Yang sudah menikah ingin memiliki anak. Yang punya anak ingin anaknya cepat sekolah saat ibu dan ayahnya lupa dulu mereka sulit sekali menyelesaikan sekolah, dan selanjutnya dan selanjutnya. 

Nikah, kawin, sama saja. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun tak menjelaskan apa yang seharusnya dipakai karena keduanya sama lazimnya digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun dalam tulisan ilmiah. Terserah tentang KBBI, aku tak akan membahas itu. 

Ada seseorang yang bilang padaku, nikah itu merujuk pada ikatan sakral yang biasanya ditandai dengan pengucapan ijab kabul dan sejenisnya. Sedangkan kawin itu adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh wanita dan pria. Mungkin orang yang berbicara padaku itu sering melihat hewan 'kawin' sehingga apa yang dianalogikannya menjadi cukup lucu bagiku. Terserah bagaimana bagimu.

Menikah itu menurutku awalnya hanya ide orang-orang saja yang dipertegas oleh hukum-hukum agama, norma sosial bahkan dianggap sebagai tugas perkembangan yang harus diselesaikan oleh seseorang pada fase pertumbuhan tertentu. 

Menikah akhir-akhir ini menjadi jalan keluar dari masalah-masalah yang ada di sekitar seseorang. Percaya atau tidak, hampir semua teman dekatku yang sudah menikah dan bercerita tentang alasan ia memutuskan menikah adalah untuk mengeluarkan dirinya dari masalah yang cukup lama digelutinya. Beberapa orang menikah karena merasa sudah umurnya dan ada tekanan yang halus dari lingkungan sekitar, orang tua, teman-teman, dll untuk menikah. Kalau menurut riset kecil-kecilan yang aku baca, alasan ini disebut konformitas. Mungkin aku salah mengerti dengan hasil riset yang kulakukan, jadi jangan jadikan tulisan ini sebagai pegangan. Ini hanya ceritaku saja. 

Beberapa yang lain menikah karena sudah muak dengan kondisi keluarga yang amburadul dan ada seseorang yang ingin menyelamatkan dirinya dari keamburadulan kelompok kecil terdekat bernama keluarga itu. Jadilah sang lelaki bak pangeran berkuda putih yang siap berperang di medan perang. #halah

Beberapa yang lain merasa sudah sangat siap dan memang sudah punya pasangan sebelumnya. Pasangan disini adalah pacar. Walaupun menurutku tidak ada hasil ilmiah apapun yang menunjukkan hubungan yang linier antara usia pernikahan dan usia pacaran. Ah sudahlah, abaikan asumsiku satu ini. 

Beda dengan yang lainnya, ada juga orang yang menjadikan menikah adalah sebagai cita-cita. Ya seperti cita-citaku menikah dengan dokter, mungkin. Sungguh, aku sempat mewawancarai seseorang yang merasa menikah adalah cita-citanya yang tercapai (kebetulan saat itu ia sudah menikah). 

Menikah bagiku tak jauh berbeda dengan yang lain. Mempercayakan kehidupan selanjutnya dengan orang yang tak jarang tidak kita kenal sebelumnya (entah kl sudah kenal). Ini cukup sulit. Percaya pada orang tua saja sulit, apalagi dengan orang lain yang akan selalu menghabiskan hari-harinya dengan kita. Aku pernah mendengar orang berkata, "sekarang kau akan bilang senang dan bahagia bila kau bertemu denganku setiap hari, bisa saja beberapa bulan lagi (dimana kau melihatku setiap hari) akan muak melihat wajah ini."

Bagaimana jika dikhianati atau mengkhianati? Bagaimana jika aku kecewa dan mengecewakan? Bagaimana jika menjauh perlahan atau dijauhi perlahan? Bagaimana jika...

Betapa rumit ikatan bernama pernikahan di otakku. Mungkin itu bisa terjadi karena hingga saat ini aku berpikir bahwa berhubungan dekat dalam jangka waktu yang cukup lama dengan intensitas bertemu yang amat tinggi cukup sulit. 

Tapi lagi-lagi pandanganku tentang pernikahan tidak stagnan pada suatu titik dimana aku merasa belum pantas untuk melakukannya. Pernah beberapa kali aku berpikir untuk menikah cepat dengan cara ta'aruf atau bagaimanalah. Toh aku tidak sedang mencintai siapapun (entah bila ada yg cinta, mungkin matanya sudah buta). Inginnya aku menikah dengan dokter yang kualitas otak, iman dan hatinya baik. Itu terjadi bila terkadang aku khilaf dan tak sadar diri. Mereka yang menurutku sempurna pasti mencari orang-orang yang sempurna juga di matanya. Terkadang aku menolak mentah-mentah gagasan nikah muda (menikah dibawah usia 24 tahun), terkadang aku juga ingin merasakannya (walaupun sekarang umurku menginjak 23 tahun lebih sekian bulan). Intinya, pandanganku tentang pernikahan tidak pernah tetap. 

Hingga saat ini aku masih berpikir bahwa pernikahan adalah 'ajang' (jeileh bahasanya) belajar dari orang lain yang sah secara hukum dan agama untuk selalu mendampingiku. 

Entahlah seperti apa pernikahanku nanti, dengan siapa aku menikah nanti, kapan aku menikah hingga dimana aku tinggal setelah menikah.. Siapa dan bagaimana anakku nanti? Sudikah mereka betah tinggal di rumah dengan makhluk semengerikan aku? haha. Semoga saja ada orang yang cukup waras dan tepat yang tersihir untuk datang ke rumahku. Sihir yang kumaksud disini yaitu daya tarikku (kau pasti tahu kalimat ini kutulis dengan bulu kuduk merinding karena terlalu menjijikkan). 

You Might Also Like

0 komentar: