HEBAT JAHAT KUAT

January 23, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments


Untukmu, orang-orang hebat yang tak pernah terlihat payah dan jera

Aku sebenarnya cukup heran dengan gunungan semangat yang kau punya. Ah, kalian maksudku. Aku pernah menjadi bagian dari kalian, tapi kalah oleh jarak dan berbagai pengorbanan yang membuatku berada dalam kondisi cukup sulit. Itu sebenarnya tak boleh dibiasakan menjadi alasan, tapi itu benar kenyataan. Sudah, cukup. Aku tak mau membahas tentang diriku disini. Aku membahas tentang kalian, orang-orang hebat tiada dua.

Hebat itu menurutku saat seseorang atau sekelompok orang berusaha mengabdikan diri kepada negeri. Mengabdi dengan melakukan tindakan berbagi seperti mengajar, bakti sosial, membuat program yang mendukung pengembangan potensi masyarakat, termasuk anak-anak dan remaja. Hebat menurutku bukan saat orang-orang lantang berbicara dan menghujat orang-orang yang pantas dihujat. Tidak. Itu tidak hebat. Apapun alasannya. Apapun teknik netralisasi yang dilakukannya. Aku tak pernah bisa menerima kata hebat disandangkan untuk mereka yang hanya bisa berteriak tanpa mengajukan solusi dan melakukan tindakan yang mendukung orang lain untuk tegak bertahan menghadapi hari. Hebat hanya untuk mereka yang bekerja dengan sepenuh hati. 

Aku dimana? Aku belum menjadi orang hebat. Aku masih suka menghujat. Aku masih minim bertindak. Aku masih belajar untuk menjadi hebat. Dan semoga begitu juga dengan kau.

Itu menurutku. Entah menurutmu.

Mereka yang hebat tak jarang dianggap jahat, sedangkan mereka yang jahat seringkali dianggap hebat. Ah, hebat .. jahat..

Hebat dan jahat itu unik. Mereka dihubungkan dengan satu kata : KUAT. Tak ada orang hebat yang tak kuat. Tak ada orang jahat yang tak kuat. Masing-masing kuat di sisi yang saling bertolak belakang. Yang tak jarang tertukar, oleh kepala-kepala yang otaknya sudah terlipat.

Mereka yang hebat selalu kuat walau dianggap jahat. Aku tak tahu bagaimana perihnya titik nadir para orang hebat ini. Aku selalu menemukan mereka berada pada titik kulminasi kehebatan yang tak bisa sulit diejawantahkan dengan kata-kata. Walau tak ada pujian yang terlayangkan untuk mereka. Jikapun ada, mereka tak akan melayang karenanya. Walau selalu cacian yang mereka terima. Ah, hati mereka terlalu lapang untuk mengerti bahwa mulut busuk orang-orang itu tak pantas dilayani.  

Aku dimana? Hanya bisa menjadi observer dan sedikit-sedikit mengikuti mereka. Aku heran juga pada diriku sendiri, mengapa resiko menaklukkan diri begitu sulit kulakukan! Aku ingin menjadi hebat! Aku ingin menjadi kuat untuk sebuah kehebatan dalam persepsiku sendiri. Aku ingin mencetak satu dari jutaan jejak kaki kebaikan yang orang-orang hebat tapakkan.

Apakah aku masih termasuk orang-orang jahat? Orang-orang dengan kata-kata yang menyayat. Orang-orang dengan merasa mereka lebih kuat, sehingga mereka pantas menyadarkan siapapun yang sedang kalap. Tentunya dengan cara-cara yang membuat orang lain semakin kalap.

Atau orang-orang jahat bermuka malaikat berhati serigala? Orang-orang yang bersembunyi dibalik kehalusan tutur bahasa, ketampanan rupa, kerapian bahasa. Namun raganya ditinggali oleh setan tua yang berharap menjadi raja tiada dua di dunia. Jahat, si Jahat yang kuat. Kuat dalam kejahatan yang membuatnya semakin jahat.

Tulisan ini tidak kurancang untuk diberi kesimpulan. Tapi akan kututup dengan kata-kata yang sedari kuulang. Aku ingin menjadi hebat dan kuat. Kuat mewujudkan kehebatan yang dalam persepsiku berwujud kebaikan. Itu saja.

You Might Also Like

0 komentar: