Mendung Lagi

April 06, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Mendung lagi. Setiap tahun selalu mendung. Tahun lalu, aku berusaha menjadi dukun hujan. Mencegah mendung menurunkan hujan karena manusia dibawahnya tak semua memiliki penangkal hujan. Hujan air lebih baik daripada hujan cacian. Aku jengah, sungguh benar-benar jengah. Bagaimana tidak, setiap hari mendengar orang menghujat. Setiap hari mendengar orang menyebutkan kesalahan dan mengajak berkelahi. Andai aku tak punya otak, entah sudah berapa kepalan tangan aku layangkan. Bukan ke manusia yang menyebalkan, tapi ke tembok yang aku temui sepanjang jalan. 

Mendung itu selalu datang karena muatan-muatan uap air yang ada di dalam awan. Hembusan angin membuatnya berdiam diatas sebuah rumah. Rumah dimana sang angin pernah berucap bahwa ia takkan mengganggu siapapun dalam rumah itu. 

Angin itu datang lagi. Merusak semua konstalasi yang sudah kami usahakan ratusan hari. Mungkin mereka pikir semua keringat kami hanya ludah yang pantas dibuang begitu saja. Mereka lupa, ludah membuat mereka mudah mencerna makanan. Mereka alpa, mereka mengakui manfaat ludah itu lantas membuangnya menjauh dari tubuh mereka. 

Rumahku berwarna ungu. Angin dan mendung jelas berwarna hitam. 

Angin dan mendung tak pernah mau tahu, bahwa rintik hujan yang mereka bawa bisa melunturkan warna rumah kita, rumahku juga rumah mereka. Rumah yang kabarnya mereka ingin jaga warnanya bersama-sama. 

Semua hal memang berdinamika, sebagian orang mengaku salah, sebagian yang lain sibuk ribut menyalahkan, sebagian sisanya mudah abai pada usaha orang-orang yang tak ingin mereka ribut karena mendung yang berkali-kali terjadi setiap tahunnya. 

Aku gagal. Mendung datang setiap tahun. Angin ribut di tahun lalu, angin tornado di tahun ini. Tak ada yang baik dari angin-angin itu. 

Lalu aku memutuskan menjauh. Menenangkan diri. Mencaci diri karena abai pada solusi. Kini aku kembali. Mungkin wujudku sekarang hanya sebagai daun jatuh yang tak akan terdengar gerakannya. Tapi aku masih ingin mengulurkan tangan. Sebelum tanganku putus dan tak bisa terulur lagi. Aku tak ingin mendung kembali menghampiri. Semua lelah dengan keributan yang dilabeli dinamika. Semua muak dengan ambisi menjatuhkan sesama. Semua paham, yang dibutuhkan mencari jalan tengahnya. 

You Might Also Like

0 komentar: