BANGGA

May 20, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Minggu lalu saya sah menjadi enumerator penelitian sebuah NGO di Indonesia. Penelitiannya bertujuan untuk melihat pengaruh pelatihan pengaturan usaha yang diberikan kepada masyarakat beberapa waktu silam. Mereka sudah melakukan dua pelatihan dan bekerjasama dengan organisasi lokal untuk penyelenggaraan pelatihan tersebut. Pembagian tugas lapangan disesuaikan dengan wilayah domisili enumerator. Saya dengan lima orang lainnya terpilih menjadi enumerator penelitian ini di Bandung. 

NGO ini bekerja sama dengan salah satu BMT untuk menyelenggarakan pelatihan yang saya ceritakan diatas. Hebatnya, BMT ini bekerjasama juga dengan BMT lainnya yang tersebar di segala penjuru Bandung. Mulai dari Lembang, hingga Majalaya bahkan Cipatat. Hebat bukan? 

Excited? Exactly YES!!!


Ini kali pertama saya bekerja di sebuah NGO dengan tugas sebagai pengumpul data lapangan alias enumerator. Jadi, tak usah diceritakan betapa tertarik dan penasarannya saya dengan penelitian ini. 

Waktu terus berlalu. Naik turun gunung, blusukan ke gang-gang hingga menyisir jalan yang sama berkali-kali dalam satu hari saya lalui. Respon berbeda dari setiap responden sangat menarik.

Dari sekian banyak responden yang saya temui, Bu N adalah ibu yang paling menarik untuk diceritakan. Ia lahir tahun 60-an. Saat Facebook bahkan internet belum ada di dunia. Saat saya datang ke rumahnya, ia sedang duduk menonton televisi. Saya melewati warung kelontong kecil di teras rumahnya. Ia menjual berbagai macam makanan hingga kebutuhan sehari-hari. 

Awalnya saya berpikir Bu N seperti responden-responden saya lainnya. Nyatanya saya sudah salah duga.

Ia sangat antusias dan bersemangat ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya berikan. Tak ragu memperlihatkan banyak kreasi cemilan yang ia ciptakan setelah berpikir matang-matang.

"Ibu teh mikir gini neng, kalau ibu jualan seperti orang lain, ya warung ibu gini-gini aja weh, tapi kalau ibu jualan yang berbeda dengan orang lain, orang-orang akan datang kesini dengan sendirinya," jelasnya.

Ia bercerita banyak hal. Berbagi banyak pesan-pesan kehidupan. Wanita tua yang ditinggal mati suami tapi menolak untuk terlena dalam kesedihan. 

Bu N cukup beruntung, ia dikaruniai tiga orang anak yang mengerti kondisi kehidupan mereka.

"Ibu mah kaget waktu si Aa (panggilan untuk anak tertuanya) mau bawa jualan ke sekolahnya waktu dia masih SMP. Si Aa bilang: biar Mah, Aa bantuin jualan, biar Mamah dapat uang."

Tiba-tiba suara Bu N bergetar. Menahan tangis yang membuatku terheran-heran. Saya menahan diri berkomentar, hanya ber-hem-hem ria alias melakukan nudging probe. Bu N mengusap air matanya dengan telapak tangan.

Ternyata anak tertuanya itu mematrikan rasa bangga tak terkira di hati ibunya. Bu N bercerita panjang lebar tentang anak tertuanya itu. Setelah sekolah di MTs terdekat dari rumahnya, anak tertua Bu N melanjutkan sekolahnya ke pesantren modern di Jawa Timur hingga berkuliah dan lulus S1 disana. Tuhan tak pernah bermain dadu. Anak tertua Bu N mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah pascasarjana di Kairo, Mesir. 

Senyum ibu itu membuatku berhitung dan berpikir, "hal membanggakan apa yang pernah saya lakukan dan bisa membuat ibu dan ayah saya bangga hingga menangis bahagia?"

Penelitian ini bukan saja memberi saya pengalaman, tapi juga pemahaman hidup yang sangat mendalam. Terimakasih Bu N, semoga saya bisa merasakan membuat bangga orangtua dan menjadi orangtua yang bangga pada anaknya.

You Might Also Like

0 komentar: