Jejakan Pertama di 1922 MDPL (1)

June 23, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Naik gunung. Saya sangat terobsesi ingin melakukan hal itu. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk membentuk karakter saya yang menye-menye enggak jelas ini. Rencana demi rencana sempat tersusun. Mulai dari Gunung Papandayan, Gunung Tangkubanparahu hingga Gunung Gede. Semua rencana itu batal dengan berbagai alasan yang membuat saya cukup patah hati. 

Di salah satu grup LSM yang dulu pernah saya ikuti, dipaparkan rencana 'jalan-jalan' ke Gunung Rakutak. Kebetulan rencana saya pergi ke Gunung Gede batal beberapa hari yang lalu. Dengan semangat 45 saya mendaftarkan diri untuk ikut 'jalan-jalan' tersebut. Sialnya, setelah mendaftar saya baru ingat kalau ada pentas seni di sekolah di hari itu. Malu-malu saya mengabari bahwa saya tidak bisa ikut. Yah, gagal lagi ngasah mentalnya :-(

Hari Sabtu, 21 Juni 2014, saya masih ada di Sukabumi untuk melakukan penelitian. Saya semakin galau untuk ikut atau tidak ke Gunung Rakutak. Tepat di hari yang sama pada jam 21.30 WIB saya sampai di rumah. Setelah berbaring beberapa saat, saya pergi ke sekolah karena pentas seni sedang diadakan. Disanalah saya baru tahu kalau hari itu adalah hari terakhir pentas seni. Jadi, saya bisa ikut jalan-jalan ke Gunung Rakutak! Yippie!

Segera kuhubungi temanku untuk daftar kembali. Sambil harap-harap cemas menunggu kabar dari temanku itu, aku pulang ke rumah dan beristirahat. Capek juga ternyata berdiri di bus sepanjang perjalanan Sukabumi-Cianjur yang macet total karena perbaikan jalan. 

Minggu, 22 Juni 2014. Jam 05.30 WIB saya terbangun oleh dering telepon. 

"Ki, kamu udah dimana? Nunggu di Ciparaynya dimana?"

Kesadaranku yang belum sempurna mengap-mengap menjawab pertanyaan sederhana itu. Fufufu. Setelah menetapkan meeting point, saya bersiap diri dengan segera. Karena di otak saya jalan-jalan ini hanya melewati track yang biasa-biasa saja, saya hanya membawa jaket, air minum, dan snack. Ritual meminta izin dnegan bujuk rayu terlewatkan dan terganti dengan leading question yang tidak bisa dijawab dengan "tidak" oleh ayahku. 

Sebelum bertemu, saya menyempatkan diri terlebih dahulu untuk membeli nasi bungkus untuk makan siang. Saat itu saya masih berpikir kalau saya akan jalan-jalan bukan naik gunung. Hahaha.

Gunung Rakutak, gunung dengan tinggi 1922 MDPL ini adalah gunung yang terletak di Kec. Pacet Kab. Bandung. Cukup dekat dengan rumahku dibanding gunung-gunung terkenal yang ada di Jawa Barat. Sialnya, saya baru tahu ada gunung ini di dunia. Padahal teman saya berkali-kali meyakinkan saya bahwa ada gunung di Kab. Bandung yang menarik untuk dikunjungi. Keyakinannya selalu saya jawab dengan jawaban nyinyir khas orang-orang sok tahu. 

Rombongan kami berjumlah 10 orang. Kami diantar oleh Bang Sihombing yang cukup setia menemani kami berkegiatan kemana-mana. Kami berangkat dari Ciparay menuju Pacet. Desa Sukarame. Kami berasumsi pintu utama menuju Gunung Rakutak itu ada di daerah atas Pacet. Yaaa, daerah Kertasari lah. Nyatanya terlewat jauh. Setelah agenda nyasar-menyasar terlewati, akhirnya kami sampai di posko Himapala Gunung Rakutak. 

Posko yang mirip dengan sebuah warung kelontongan ini membuatku semakin under-estimate dengan kesulitan yang akan kami tempuh disana. Saya masih yakin kami hanya akan berjalan-jalan santai disini. 

Ada 3 jalur pendakian ke Gunung Rakutak, yaitu 2 jalur punggungan (Jalur Pasir Nyatuh dan Sewaan Cijahe) dan 1 jalur lembah (Jalur Panginuman) yang lebih jauh dibandingkan lewat punggungan. Kami menggunakan jalur punggungan, tapi saya lupa apakah jalur pasir nyatuh atau sewaan cijahe. Hehe. 

Setelah mendaftarkan diri, kami memulai perjalanan. Melewati rumah warga dan mengikuti arahan warga menuju Gunung Rakutak. Ternyata oh ternyata, Gunung Rakutak itu gunung tinggi yang kami puji-puji sepanjang perjalanan karena keindahannya. Bentuknya tidak seperti segitiga yang biasanya ada di gambar-gambar anak sekolah bertemakan "pemandangan". Bentuknya seperti perahu, ada puncak kanan dan kiri. Disini saya mulai mempertanyakan kata 'jalan-jalan' di pengumuman kegiatan yang saya ikuti saat itu. 

Dari awal memasuki perkebunan, perjalanan kami sudah mendaki. Ya...mendaki yang cetek-cetek lah. Saya menikmati perjalanan ini karena sudah jarang sekali bertemu teman-teman saya dari LSM. Selain itu, saya mulai berpikir persepsi saya tentang jalan-jalan adalah salah total. Naik gunung ini bukan sekedar jalan-jalan.

Perkebunan terlewati satu persatu. Mulai dari kebun bawang daun, tomat, cabe, hingga kacang panjang. Hawa segar dan candaan ringan mewarnai langkah kami. Ah, menyenangkan!

Sialnya, persepsi saya salah lagi. Pendakian kami nyatanya tidak menyenangkan.


(bersambung)

You Might Also Like

0 komentar: