Pecahan Hari (1)

June 13, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Hari ini terlewati dengan cukup unik. Diawali dengan evaluasi hasil survey penelitian beberapa hari lalu dan diakhiri dengan kehujanan di detik-detik terakhir sampai ke rumah. Mari saya ceritakeun (dengan nada Pak Harto ya :D ) rangkaian hari menarik ini. 

Pagi
Saya lupa jadwal evaluasi penelitian yang dijadwalkan hari ini jam 10 tadi pagi. Saya sedang asik membuat gorengan tahu untuk disantap setelah kegiatan cuci-mencuci baju selesai. Tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Rasanya ada yang terlewat. Sambil membolak-balik gorengan tahu agar tidak gosong, saya baru ingat, hari ini ada jadwal evaluasi. Sial, sudah jam 9! Saya menyiapkan diri dan lupa dengan tahu yang ada di kuali. Taraaaa! Singkat cerita, tahu gosong. Baiklaaaaaah. Gagal lah usaha saya menjadi gadis oke yang andal memasak tahu goreng. Haha.

Perasaan kalut menghantui. Pasalnya, ini bukan kali pertama saya terlambat mengikuti briefing penelitian. Bisa-bisa saya di-blacklist dari jabatan enumerator yang recommended di dunia penelitian! Hufft. 

Kau tahu apa yang terjadi saat saya datang kesana? Pertemuan belum dimulai. Hahaha. Tapi beruntung, karena belum dimulai, saya sempat berdiskusi dan bersilaturahmi (tepatnya meminta surat rekomendasi) dengan dosen saya yang inspiratif. Ada nasihat beliau yang sangat meresap ke hati saya. 

"Usahakan jangan ada kata 'harus' dalam mimpi-mimpi kamu. Kita semua mempunyai track  masing-masing, yang sudah ditentukan Sang Pencipta. Bila memang kamu gagal di suatu bidang, itu cara Tuhan mengembalikanmu pada track yang sudah digariskannya. Fleksibel saja. Jangan terfokus dengan kekuranganmu. Sampai kapanpun ikan tidak akan bisa survive di daratan atau memanjat pohon kelapa. Ikan bisa unggul jika ia hidup di air. Sering berbicara dengan dirimu sendiri. Sering berbicara dan berkomunikasi dengan pembuat track kita di dunia. Jika inginnya kita sesuai dengan track yang sudah ditentukan-Nya, apapun yang kita lakukan maka kita akan bahagia."

Nyesss!!!

Mungkin inferiority complex yang menjangkiti diri ini karena saya tidak faham dengan track  yang sudah digariskan Tuhan untuk saya. Saya termasuk orang yang percaya bahwa setiap manusia mempunyai misi berbeda di dunia. Saya belum tahu apa misi yang dititipkan Tuhan untuk saya di dunia ini. Kau juga merasakannya? Mungkin kita bisa coba nasihat dosen kerenku satu itu. 

Perbincangan kami berlanjut ke perbincangan asik yang jarang saya obrolkan bersama dosen-dosen lainnya. Akhirnya obrolan itu ditutup dengan titipan buku asli negara asal bila saya diterima beasiswa. Ah, dosenku itu memang senang menyemangati mimpi saya yang muncul tenggelam. 

to be continued...

You Might Also Like

0 komentar: