Pecahan Hari (3)

June 13, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Sore
Tak terasa urusan di IDP selesai. Kami menuju salah satu tempat makan untuk memadamkan kelaparan yang terjadi di dunia percacingan di perut kami. Selain itu, saya juga menunggu beberapa teman lainnya untuk makan bersama dan juga berdiskusi tentang rencana kegiatan sosial komunitas kami di bulan ini. Kami datang ke tempat tersebut dan langsung memesan makanan dan minuman kemudian bergantian untuk shalat. Sayang disayang, temanku tak bisa bepergian terlalu lama. Anaknya menunggu di rumah. Sebelum bertemu temanku yang lainnya, temanku satu itu pergi meninggalkanku sendiri menyepi kekenyangan. Karena merasa tak nyaman ditinggal sendiri dengan hot plate dan gelas yang kosong melompong di atas meja, akhirnya saya memesan minuman lagi.

Saya mulai resah. Resah karena banyak hal, salah satunya karena kekenyangan. Entah mengapa saya selalu merasa tidak nyaman saat merasa terlalu kenyang. Yaaa, persis seperti ungkapan Pak Ahok, Wagub DKI Jakarta, "kalau lapar galak, kalau kenyang bego."

Saya telepon berkali-kali teman yang saya tunggu itu, tapi tak diangkat juga. Mungkin ponsel miliknya ia simpan di tas sehingga tidak bisa mengangkat teleponku. Kucoba menghilangkan bosan dengan berkirim pesan dan menelepon teman, nyatanya baterai ponselku tak mendukung rencanaku itu. Dayanya tinggal 13% lagi.

Mungkin ini rasanya bagaimana teman-temanku menungguku yang seringnya telat datang dalam berbagai perkumpulan. Maafkan temanmu ini, Teman. Haha.

Waktu berlalu, ternyata teman yang kutunggu-tunggu datang lebih lama dari waktu yang kuprediksi sebelumnya. Mereka datang dengan wajah bersalah. Mereka mengganti waktuku menunggu dengan sepiring kentang goreng. Wehehehe, I love gratisan :D

Sambil menyantap makanan, teman-temanku menceritakan banyak hal. Tentunya membahas pula tentang rencana penyelenggaraan kegiatan komunitas di bulan ini. Saya menyantap kentang goreng dengan penuh semangat, seakan lupa beberapa menit yang lalu saya hampir mati gaya karena bosan dan kekenyangan. Singkat cerita, makanan mereka sudah lenyap dari pandangan mata. Pembahasan kami sore itupun sudah selesai dibahas juga. 

Terkadang kita harus menunggu satu jam untuk membahas hal penting selama setengah jam. Yang jelas, membahas hal penting secara tatap muka terasa lebih jelas dan tuntas daripada berjam-jam menelepon untuk bertukar pendapat tentang rencana yang akan direalisasikan. Urusan kegiatan komunitas selesai. Waktunya untuk pulang ke rumah.

to be continued...

You Might Also Like

0 komentar: