Pecahan Hari (4)

June 13, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Malam
Malam menjelang saat saya dan teman-teman beranjak dari tempat makan. Saya dengan seorang teman menggunakan angkot sedangkan teman yang lain menggunakan motor dan menempuh jalur pulang ke rumah yang berbeda. Angkot adalah salah satu moda transportasi umum yang sangat sering saya gunakan. Ada banyak kejadian menarik yang saya dapatkan selama saya menumpang di berbagai angkot yang tersebar di kota-kabupaten Bandung. Salah satunya di malam ini.

Kemacetan Tegalega memang tak bisa dielak. Saya memilih turun dari angkot berwarna ungu dengan trayek Cisitu-Tegalega beberapa meter sebelum tempat pemberhentian seharusnya. Macet sekali. Berbagai kepentingan manusia bercampur disitu. Kepentingan para pedagang yang menghabiskan ruang bagi para pejalan kaki, kepentingan para pejalan kaki yang berjalan dengan langkah panjang-panjang walau beberapa dari mereka berhenti kemudian menghampiri para penjual di pinggir jalan, hingga kepentingan para pengendara motor dan mobil, termasuk angkot dari berbagai jurusan. 

Tegalega bisa dikatakan salah satu tempat transit banyak angkot dari berbagai tujuan. Maka tak heran angkot berbagai warna mampir disini. Termasuk angkot yang ingin kutumpangi, Tegalega-Ciparay. Saya berjalan mencari angkot Ciparay yang berisi beberapa penumpang agar saya tidak kesepian. Nyatanya nihil. Semua angkot yang berbaris kosong tak berpenumpang. Saya memilih yang ada di barisan paling depan dengan harapan mobil bercat hijau-kuning-merah itu cepat berjalan.

Angkot ini tidak penuh. Hanya berisi beberapa orang dewasa saja. Mereka turun satu persatu dan meninggalkan saya duduk sendiri di dalamnya. Saya sudah biasa menjadi penumpang terakhir, tapi hati saya kebat kebit di malam ini. Saya takut. Hehe.

Sang sopir menanyakan kepada saya, apakah saya mau ikut mereka memotong jalan ke daerah pinggir sungai yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Saya memilih untuk diturunkan di tengah jalan. Akhirnya saya diturunkan di pinggir jembatan Sungai Citarum yang gelap gulita. Aduh mama sayange! Serem benjet!

Saya ketakutan. Saya menyetop angkot apapun yang lewat di depan saya. Adalah angkot hijau-kuni jurusan Dayeuhkolot-Kebon Kalapa yang berhenti dan bersedia mengangkut saya.

Saya masuk ke angkot yang berinterior warna merah itu. Seorang ibu yang tadi hampir naik ke angkot Ciparay yang saya tumpangi sebelumnya itu bertanya, 

"Kenapa turun disini, Neng? Memangnya mau kemana?"
"Ke Ciparay, Bu. Tadi angkotnya mau belok. Saya tidak tahu jalannya, jadi saya turun saja."
"Loh, memang angkot ini ke Ciparay ya?" Ibu itu bertanya ke sopir.
"Enggak sih bu, tadi saya ketakutan, jadi saya naik saja dulu sampai ada tempat terang. Hehe."
"Iya, Neng. Cari aman saja dulu sekarang mah," kata pak sopir.
"Oh, iya. Betul itu, Neng. Ibu saja yang sudah emak-emak begini takut kalau turun disitu. Apalagi Neng yang masih gadis. Aduh, berharga banget. Apalagi sekarang mau puasa dan lebaran. Hati-hati ya, Neng."

Alamaaak, ibu itu sukses membuat saya parno walaupun saya tidak tahu apa hubungannya antara berharganya saya sebagai perempuan dengan puasa dan lebaran. Haha.

Ibu itu turun dengan berulang kali menitipkan saya ke sopir angkot yang saya tumpangi. Syukurlah, saya ditemukan dengan orang-orang baik hati di malam itu. Saya diturunkan di perempatan tugu Baleendah dan menunggu angkot Ciparay di kawasan yang cukup ramai. Tak lama angkot yang saya tunggu-tunggu datang. 

Belasan meter setelah saya naik, ada tiga orang pemuda yang melambaikan tangan sebagai isyarat bahwa mereka adalah calon penumpang angkot berikutnya. Angkot merapat. Satu orang memilih untuk duduk di depan, satu orang yang lain memilih duduk di dekat pintu angkot dan yang terakhir duduk di dalam. Dua orang pertama memilih tempat duduk yang bisa membuat mereka leluasa untuk merokok tapi tidak mengganggu paru-paru penumpang lain yang tidak merokok. 

"Turun dimana, A?" tanya seorang ibu kepada perokok yang duduk di dekat pintu angkot.
"Di X, Bu. Aya naon, Bu?" 
"Nanti ongkos Aa dan teman-temannya saya yang bayar ya."
"Eh, kenapa? Enggak usah repot-repot, Bu."
"Ucapan terimakasih saya saja karena sudah menjadi perokok yang ngerti."

Saya yang tadinya terkantuk-kantuk mengerjapkan mata berkali-kali. Saya tidak salah dengar, kan?

Saya kira itu ungkapan basa-basi yang sangat biasa terjadi. Nyatanya tidak. Ibu itu menanggung ongkos tiga pemuda tadi. Saya cukup salut dengan ibu itu walaupun saya pikir mereka (3 orang pemuda tadi) tidak terlalu ngerti juga. Toh, tetap merokok di kendaraan umum.  Kalau ngerti, ya dimatikan dong rokoknya. Ya sudahlah, biarkan saja. Mumpung Ibu itu melakukan kebaikan. Hehe.

Perjalanan melelahkan itu hampir berakhir. Tahap terakhir dari perjalanan panjang pulang adalah naik ojeg untuk sampai ke rumah.Tukang ojek langganan saya langsung tersenyum ketika saya datang. Saya sebut ulang tujuan saya walaupun mereka ingat. Perjalanan berjalan lancar pada awalnya, tapi ditengah jalan, rinai hujan mulai membasahi bumi. Semakin lama semakin deras dan saya kehujanan. Rasanya kehujanan hingga basah sekujur tubuh di menit-menit terakhir untuk sampai rumah itu seperti mau karaokean di happy hours tapi happy hours tidak berlaku di menit-menit akhir habisnya paket. Haha.

Tapi hari ini sungguh menarik. Menarik dengan kisah unik yang tak habis-habisnya membuatku geleng-geleng kepala. Sungguh, dunia bukan hanya terdiri dari daratan dan lautan, namun juga rangkaian kisah yang seringnya selalu cocok dijadikan bahan untuk tebak-tebakan. 

-Selesai-

You Might Also Like

0 komentar: