Saat Kata Tak Lagi Hanya Kata

June 01, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Sore menjelang malam. Saya masih duduk manis di depan komputer. Sebagai aktivis di dunia perfesbukan, pastinya kubuka media sosial. Awalnya tak terlalu menarik. Mulai dari mengintai teman yang muncul di timeline hingga mengomentari hal-hal tak penting kulakukan. Ya beginilah kerjaannya orang-orang kurang kerjaan. Sampai akhirnya kulihat salah satu catatan yang dituliskan oleh teman penulis yang ada di fesbuk. 

Inti dari catatan itu adalah seruan untuk berhati-hati saat menuliskan sesuatu. Banyak pikiran yang akhirnya menjadi believe hanya karena adanya pengulangan dan kesesuaian dari setiap hal yang diyakini oleh seseorang. Bayangkan bagaimana jadinya bila Karl Marx tidak pernah menuliskan idenya? Akankah ada pemikiran-pemikiran Marxisme yang bertebaran di dunia? Bagaimana bila Gus Dur tidak menuliskan pendapatnya? Akankan ada para pengikut Gus Dur yang sampai sekarang tak pernah jemu membahas pemikirannya? Well, mungkin contohnya agak sedikit tidak nyambung, yang jelas yang mau saya katakan disini adalah tulisan dapat mempengaruhi diri kita maupun orang lain yang membacanya. Pantaslah kitab suci berupa tulisan. Eh, tapi kalau jaman dulu ada fasilitas audio visual, kira-kira akan seperti apa ya jadinya? Ah, sudahlah. 

Pikiran adalah pemimpin.
Pikiran adalah pelopor.
Jika pikiran, ucapan, tindakan buruk, maka akan mendatangkan keburukan.
Sama seperti bekas roda pedati yang ditarik seekor lembu.
(Menggilas hingga menimbulkan penderitaan)
Pikiran adalah pemimpin.
Pikiran adalah pelopor.
Jika pikiran, ucapan dan perbuatan baik, maka akan mendatangkan kebaikan.
Seperti bayangan yang menempel pada benda.
(Begitu ringan dan membahagiakan)
YM. Sucirano Terra

Lalu saya berkontemplasi semua tulisan saya di blog, status fesbuk, twitter, dan media sosial lainnya. Rasanya saya tahu mengapa rasa pesimis, minder dan tak berguna selalu menghantui diri ini. Saya terlalu sering mengeluh, menganggap remeh diri sendiri, meracau tak jelas, bahkan tak segan memaki. Negativistik. Haha.

Baiklah, mari menjadi orang yang lebih positif, karena seringnya kata tak lagi hanya sekedar kata. 

You Might Also Like

0 komentar: