Tea For Two: Saat Manis Cinta Pudar Rasanya

June 04, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Tea For Two, sebuah novel dari Clara Ng ini baru selesai kubaca. Padahal buku itu sudah naik cetak sejak 2009 lalu. Ah, betapa tak up date-nya diriku ini. Karya kesebelas dari Clara Ng ini mengisahkan tentang kisah cinta Sassy, CEO perusahaan makcomblang bernama Tea For Two. 

Sassy adalah gadis cantik, mapan dan cerdas. Ia percaya dengan konsep cinta abadi. Konsep cinta yang ditawarkan dengan seringnya oleh banyak film dan novel di dunia. Konsep cinta yang terkadang membuat orang lain geli karenanya. 

Ia mendirikan perusahaan biro jodoh. Mengajak para jomblo di kota metropolitan untuk bertemu jomblo lainnya. Bila nyatanya cocok, hubungan mereka tak jarang berakhir di pelaminan. Bila tidak, perusahaan Sassy tidak akan memaksakan mereka saling suka. Intinya, peran orangtua, teman dan sahabat yang biasanya menjodohkan seseorang, dianggap celah bisnis yang menjanjikan oleh Sassy. Bisnisnya bertambah menjadi wedding organizer para klien TFT. Apakah bisnis ini sukses? Tentu. 

Alan, lelaki tampan pegawai kelas atas perusahaan asing raksasa di Jakarta. Menyihir Sassy dengan mudahnya, tepat di pandangan pertama. Kejutan, kata-kata dan berbagai tindak tanduk manis ia persembahkan untuk pujaan hatinya, Sassy. Sukseskah? Jelas sukses.



Kisah cinta Sassy dan Alan memang klise. Diawali dengan semua hal yang rasanya terlalu manis. Alan dengan lihainya menjatuhkan Sassy hingga titik akut kebergantungan. Sassy, wanita cerdas, cantik dan mapan itu sudah tak berdaya. Pernikahan awalnya dipilih menjadi cara untuk menyatukan cinta mereka. Hari pertama bulan madu mereka sangat manis. Sejak bangun tidur, Sassy banyak menemukan ungkapan cinta Alan disetiap sudut rumah mereka. Sayang disayang, selalu ada dampak negatif dari sebuah hal yang berlebihan. Singkat cerita, Sassy mengalami KDRT.

Buku ini menggambarkan bagaimana keterpurukan yang dialami wanita korban KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Didalamnya juga menggambarkan bagaimana para pelaku melakukan aksinya hingga membuat korban jatuh di tangan mereka dengan mudahnya. Selain itu, diceritakan pula bagaimana keluar dari jerat cinta mematikan dalam hubungan yang penuh KDRT.

Orang-orang yang mengalami KDRT tidak akan dengan mudahnya move on. Mereka terlanjur terbiasa dengan adanya kekerasan yang menguji adrenalin mereka. Maka, jika anda mengalami KDRT, sepahit apapun pengalaman KDRT yang anda alami, ceritakan. Ceritakan pada orang terdekat seperti orangtua dan sahabat. Memang akan ada muncul perasaan bahwa kisah kelam yang anda alami itu memalukan. Tapi perlu anda ingat, cinta tidak bisa diejawantahkan dengan perlakuan kasar apapun. 

Yang kusukai dari novel ini adalah mengangkat peran psikolog. Profesi yang masih dianggap sebelah mata di Indonesia. Saya suka bagaimana penulis menjelaskan detail ceritanya, apalagi saat ada penjelasan tentang apa yang dialami oleh para korban KDRT menurut konsep psikologi. Ah, saya fans baru Mbak Clara Ng. :D

Intinya, saat cinta tak semanis yang kita duga, itulah saat dimana kita memikirkan kembali apa definisi cinta di pikiran kita. Tea for two mengajarkan kita cara menghadapi situasi dimana saat-saat manisnya cinta pudar rasanya. 

Selamat membaca novelnya secara full version

You Might Also Like

0 komentar: