Hati-hati

July 18, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Menakutkan. Itu kesimpulanku dari film Salt yang baru saja kutonton. Film yang diluncurkan pada tahun 2010 (which is four years ago) ini kok rasa-rasanya cocok dengan berbagai propaganda yang dilakukan dalam berbagai 'kegiatan politik' di negara manapun, bahkan di lingkup paling kecil, organisasi kampus. 

Evelyn Salt, seorang agen CIA yang nyatanya adalah seorang agen Rusia. Ia agen ganda yang sudah dipersiapkan sejak dini. Setelah diberi pelatihan ekstra keras tentang berbagai hal termasuk penanaman ideologi, anak-anak Rusia ini dioperasi mukanya. Dengan berbagai cara mereka 'diselundupkan' ke Amerika Serikat. Semua orang dari anak-anak di kamp pelatihan itu harus bisa menyusup ke badan keamanan AS atau kalau bisa dunia. Mulai dari NATO hingga CIA. Mereka membawa misi yang berbeda bertujuan sama, membangkitkan Rusia. Gila.

Pembunuhan presiden Rusia direncanakan, agar sikap anti Amerika merebak luas di penjuru Rusia. Rencana itu tepat di hari dimana Presiden Rusia datang ke pemakaman -entah siapa saya lupa- di Amerika. Beragam kejadian terjadi. Saya sampai dibuat bingung, Salt ini agen mana sebenarnya. Ternyata, rencana pembunuhan Presiden Rusia adalah awal mula Day X. Hari dimana misi sesungguhnya dimulai. Misi yang sebenarnya adalah membunuh Presiden AS dan meluncurkan roket nuklir ke Teheran dan Mekah. Politis sekali. 

Pun saya tahu, film ini kurang lebih melakukan 'brainwash' secara halus. Memberikan perspektif baru tentang tuduhan-tuduhan yang menempel pada negara adidaya, Amerika. Menawarkan pemahaman bahwa semua stigma negatif yang menempel beberapa diantaranya merupakan hasil propaganda orang lain, terutama musuh bebuyutan mereka, Rusia. 

Teringat kenangan hampir belasan bulan yang lalu. Kabar miring tentang capres BEM bernama X disebarkan oleh para pendukungnya sendiri. Menggiring opini publik agar bersikap negatif terhadap pendukung 'lawan politiknya'. Banyak contoh lain yang bernada sama. Sama-sama jahat. Sama-sama mencari aman dan posisi terbaik untuk menembakkan peluru-peluru tak terlihat yang busuk luar biasa. Bisa saja yang terlihat paling baik adalah dalang terbusuk yang pernah ada. Semua bisa terjadi, jadi tak usah dimasukkan hati. Begitupun dengan pilpres yang baru-baru ini seakan-akan menggoncang Indonesia.

Mungkin terdengar terlalu disambung-sambungkan sehingga tulisan ini tak ubahnya bagian dari ilmu sambungologi *ngarang. Tapi ada pelajaran yang menurut saya memberikan sisi baru untuk melihat sesuatu. Kita semua perlu ekstra hati-hati memahami segala bentuk pemberitaan yang ada dari media apapun. Banyak hal kecil yang kita lakukan dengan (katakanlah) tidak sengaja dan sangat emosional, justru merupakan respon yang didambakan oleh pihak lainnya. 

Seorang kakak tingkat saya yang nguli di Intervensi Sosial sebuah kampus populer di Depok pernah mewanti-wanti hal yang hampir senada. Hati-hati memahami informasi yang ada di sekitar kita. Chaos kecil yang menumpuk dan meledak jadi kerusuhan besar sudah banyak terjadi dimanapun. Banyak informasi yang sudah 'diolah' sebelum disajikan. Banyak orang-orang yang sudah 'diarahkan' untuk berbuat sesuatu sebelum terjadi sebuah kejadian. Intinya, hati-hati.

You Might Also Like

0 komentar: