Luka Anjing!

July 09, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Sebenarnya saya malas mengingat kembali apa yang saya alami, tapi kisah ini sukses membuat saya juga kesal dengan makhluk berjakun yang tak punya akal. Em, sebelum bercerita, Anda perlu tahu telapak tangan saya mendadak dingin dan saya mendadak ingin menangis. Saya menyesal mengapa saya tidak melakukan hal yang bisa membuat muka makhluk berjakun bodoh itu bubuk. Ah, sudahlah. Semoga hal ini tidak terjadi padamu, para wanita pengguna transportasi umum. 

Sore itu saya dan teman-teman baru pulang dari kampus. Kami menggunakan Trans Metro Bandung atau TMB karena perbedaan harga yang cukup signifikan dengan angkot yang biasa kami tumpangi. Seperti biasa, kami tidak mendapatkan tempat duduk di TMB, kami berdiri berjajar. Saya menggunakan tas ransel, karena berat dan takut ada copet yang iseng-iseng membuka tas ransel di TMB, akhirnya saya pakai ransel itu di depan, bukan di punggung.

Semakin lama bus TMB semakin penuh. Saya dan teman-teman bercanda dan berbincang satu sama lain. Tiba-tiba saya merasakan ada sesuatu menyentuh (maaf) pantat saya. Sesuatu seperti pulpen atau ujung payung. Saya menggeser posisi, tapi tetap saja tersentuh oleh benda yang saya tidak tahu apa itu. 

Saya membalikkan badan.

ANJING!

Ternyata bukan pulpen ataupun ujung payung. Itu alat kelamin seorang bapak tua yang berdiri di belakang saya. Saya marah. Tapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Hati saya terluka. Luka yang disebabkan oleh tingkah manusia beradab anjing!

Segera saya pindahkan tas ransel saya ke punggung berharap bapak itu berhenti melakukan aksinya. Sampai disini saya lupa detail kejadian selanjutnya. Ya, saya sadar, bukan lupa, tapi cenderung berusaha keras melupakan. Fyuh. Sekarang, air mata saya sukses menetes. Hahaha.

Saya lanjutkan ke bagian cerita yang saya ingat. 

Kesal, saya pindah ke bagian TMB yang kosong. Teman-teman saya bertanya apa yang terjadi karena saya tiba-tiba diam tak banyak berkomentar. Saya ingin memaki. Sungguh sangat ingin memaki. Tapi saya tidak tahu kenapa mulut saya ini tidak bisa mengeluarkan satu patah kata pun. Hati saya sakit. Sakit hati oleh luka anjing itu!

Saya hanya bisa menatap penuh amarah ke Anjing tadi. Maaf saya menggunakan kata-kata kasar itu, tapi sungguh saya tidak menemukan padanan kata yang sopan untuk tingkah bejat macam yang ia lakukan. 

Anjing itu diam balas menatap saya dengan tatapan dingin. Tak ada rasa bersalah. Tak ada rasa berdosa. Astaga Tuhaaaaaaaannnnn!!!

Saya ingin menangis, tapi malu. Saya ingin marah, tapi bingung karena saya juga akan malu bila menceritakan ini ke orang lain. Tapi sudahlah, biar ini jadi pelajaran bagi semua. Hati saya berkecamuk. Kesal, marah, merasa bodoh, aaah. Hancur.

Saya pernah mendengar bahwa teman saya yang lain juga pernah mengalami hal serupa. Lebih parah. Bahunya basah oleh cairan kental yang berasal dari kelamin Anjing lain yang digesekkan selama perjalanan. Temanku itu hanya bisa menangis dan menyimpan lukanya. Ia tidak berani marah dan melakukan pemberontakan. Saya tahu cerita ini dari teman dekatnya.

Mungkin beberapa dari kalian berpikir, "Bodoh! Masa teriak saja susah?"

Sialnya kebanyakan dari kami memilih diam dan mengubur luka itu dalam-dalam.

Percayalah, bukan hal mudah menceritakan pelecehan seksual seperti ini. Apa kalian harus merasakannya dulu baru mengamini apa yang saya tulis? Ah ya, mungkin respon kalian lebih baik saat mengalaminya. Tidak seperti saya yang memang bodoh ini. 

Saya masih mengalami hal yang lebih remeh, mungkin disana banyak wanita yang mengalami hal-hal yang tidak diinginkannya lebih dari ini. Jadi, tolong jangan diskreditkan para korban pelecehan seksual bahkan perkosaan. 

Pesan saya untuk para wanita pengguna angkutan umum (termasuk saya sendiri), jika kita mengalami hal-hal serupa, teriak saja! Marah! Bila ingin memaki, makilah! Agar anjing-anjing yang berkeliaran di luar sana malu, sadar dan menyesali tindakannya. Kita korban. Tak usah malu dengan apa yang telah terjadi pada kita. Karena mereka hanya ANJING pembuat luka di hati kita yang akan terus menganga.

"Bapak mau saya potong anunya sampai habis atau mau saya laporkan polisi?"

Itu kalimat yang saya sesalkan tidak keluar dari mulut saya saat luka di hati terlanjur tergores oleh Anjing itu.

You Might Also Like

0 komentar: