Il Mare

September 11, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Il Mare. Begitulah judul dari film Korea yang kutonton malam itu. Judul yang aneh, pikirku. Saya tak berespektasi banyak. Pasti ada wanita keras kepala yang berani dan polos jatuh cinta pada lelaki kasar yang tidak tahu cara mengekspresikan cinta. Tidak semua film Korea seperti itu memang, tapi tak banyak yang berbeda dari itu. Mungkin juga banyak yang memiliki plot cerita yang apik namun saya tak tahu. Yah intinya, I expect too low to this movie. Yang terpenting adalah, malam itu saya ingin menonton sesuatu yang ringan dan mudah dicerna. Film cinta khas Korea menjadi pilihannya. Sejak kapan cerita cinta terasa sulit dicerna? Sejak kau sendiri yang melaluinya *eaaaa

Saya akan bercerita secara singkat tentang film ini, tapi mohon maaf sebelumnya, saya lupa semua nama pemerannya (bahkan pemeran utama sekalipun). Entah pelupa atau malas mengingat, yang jelas saya tidak akan menyebutkan nama mereka disini. 

***

Il Mare kisah tentang sebuah rumah unik di pinggir lautan. Entah teluk entah apa. Saat pasang air laut bisa memenuhi pekarangannya. Jika surut lumpur-lumpur menggantikan hamparan air laut. Rumah dengan desain yang menarik, disertai pemandangan yang membuat kita enggan berkedip. Saya saja ingin ijin menginap disana minimal 3 hari. Hehe

Diawali dengan scene seorang wanita pindah dari rumah itu. Ia adalah seorang pengisi suara film anak-anak di Korea. Ia pindah ke sebuah apartemen di tengah keramaian kota. 

Adegan selanjutnya adalah dimana seorang lelaki pindah ke Il Mare, rumah yang ditempati oleh gadis yang keluar tadi. Ia menelepon seseorang dan berterimakasih atas rumah yang bisa ditempatinya. Lelaki itu amat menyukainya. Lelaki itu memberi nama rumah yang ditempatinya Il Mare. Lelaki itu bertingkah bak orang pertama yang tinggal di rumah dengan desain ciamik itu. 

Kembali ke kehidupan si wanita. Wanita itu terlihat kesepian. Patah hati karena mantan kekasihnya berencana bertunangan dengan orang lain. Patah hati karena mantan kekasihnya memutuskan pulang ke negerinya sendiri dari negeri Paman Sam nun jauh disana. Patah hati karena memori menyenangkan dengannya masih mengendap di hati.


Karena kesepian, wanita itu menikmati hari di rumah lamanya. Rumah itu masih sepi. Masih indah. Masih menyimpan banyak kenangan yang ingin ia kubur dalam-dalam. Iseng, ia mencoba menuliskan sebuah surat untuk pemilik rumah yang baru. Surat perkenalan yang meminta untuk dibalas oleh penerimanya. Surat itu ia letakkan di dalam sebuah kotak surat yang memang ada di depan Il Mare. Dan ceritapun dimulai.

Lelaki itu terlalu sibuk. Mahasiswa arsitektur tingkat akhir ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menjadi kuli bangunan. Ia benci pada para pembuat rumah yang tak pernah tinggal di rumah. Ia benci pada ayahnya sendiri, profesor tersohor di bidang arsitektur. Surat itu sampai di kotak surat rumahnya. Ia berpikir itu hanya tulisan surat iseng dari wanita asing yang tak ia kenal. 
  
Usaha wanita mendapatkan jawaban  tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebelum jejak kaki Cola (anjing putih dekil) menggiring lelaki tersebut ke depan pintu yang terdapat jejak kaki yang sulit dihapuskan, seperti yang diceritakan wanita itu di suratnya. Merasa wanita yang mengiriminya surat itu salah alamat, ia membalas surat tersebut dengan penjelasan bahwa suratnya mungkin salah alamat. Lelaki itu mencantumkan tanggal lengkap di suratnya.

Esok harinya, wanita tersebut senang bukan kepalang saat mendapatkan balasan surat dari penghuni baru rumah itu. Namun sesaat kemudian keningnya mengerut. 1997? Wanita itu hidup di tahun 1999. 

Kisah cinta lintas waktu yang menurut saya seru. Menggunakan surat sebagai alat komunikasi dengan kotak surat sebagai media penyampai informasinya. Melintasi tahun. Melintasi masa. Melintasi ketidakmungkinan. Konflik-konflik yang dimunculkan juga beragam, mulai dari ketidakakuran sang lelaki dengan ayahnya, terjebak nostalgianya sang wanita pada mantan kekasihnya, hingga konflik cinta yang membuat sang lelaki meregang nyawa. 


Ending cerita ini memang cukup bisa ditebak, namun kalimat tanya dari sang lelaki di akhir cerita membuatku bernafas lega.
"Maukah kau dengar cerita panjang ajaib yang benar-benar nyata?" 
Film ini memunculkan banyak siratan pelajaran. Salah satu yang paling saya sukai adalah ekspresi cinta terdalam terkadang berwujud merelakan orang yang dicintai pergi untuk hal atau manusia lain yang mereka cintai.

Oh ya, saya juga tidak tahu kenapa satu-satunya nama yang saya ingat itu hanya nama anjing dekil yang tidurnya seperti manusia. Alamaaaaakk!

Ciparay, 11 September 2014
21:16 WIB, beberapa menit sebelum memutuskan untuk potong kuku *apaseh

You Might Also Like

0 komentar: