Suka Bule, ya?

October 18, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Siang itu saya dan keluarga masih sibuk membereskan barang-barang yang kami bawa dari rumah. Kami akan meninggalkan wanita tua yang kusebut Mbah lagi di rumahnya. Mudik singkat kami sebenarnya dimulai di Sabtu siang. Menulusuri jalanan Bandung-Pemalang. Demi menemui wanita kesayangan. Mbah. 

***

Perjalanan kami nyatanya tak selalu lancar. Karena terlalu lelah, kendaraan kami lupa berbelok ke jalan tol Pak Ical Bakrie yang biasanya membantu mempercepat perjalanan pulang ke rumah Mbah. Akhirnya, kami terpaksa harus menikmati macetnya Brebes dan Tegal. 

Nyawaku belum terkumpul sempurna saat melihat anak-anak remaja mejeng (dan merasa) keren di pinggir jalan sepanjang jalur pantura. 

"Kemana orang tuanya?" pikirku. 

Tak mau berpikiran macam-macam, aku memilih untuk kembali tidur di perjalanan. 

Kami datang sekitar jam 10 malam. Perjalanan panjang yang melelahkan. Mbah menyambut kami sumringah. Walaupun kami tahu kami telah mengganggu tidur nyenyaknya. 

Waktu berlalu cepat, kunjungan kami berakhir singkat. Keesokan harinya kami harus pulang ke Bandung. Semua orang bersiap. Suara ayah dan ibu yang meminta kami bergerak lebih cepat beradu dengan suara mbah yang mengajak kami untuk makan pagi. Suara om, bulik dan Andin pun menghiasi pagi itu. 

Seperti selalu, persiapan pulang sudah selesai sejak jam 10 pagi, tapi para manusia yang akan pulang masih tertambat hatinya ditempat itu. Kami bergerak dengan santai. Sebelum akhirnya berubah menjadi gerakan serba cepat saat suara ibu memenuhi seluruh ruangan di rumah tua itu. 

Aku sedang merapikan kerudungku. Tiba-tiba Mbah bertanya sambil membuka toples makanan yang ada di ruang tengah.

"Ka, kamu sukanya sama yang bule-bule, ya?"

Istilah bule biasa dipakai untuk orang-orang kulit putih. 

Aku terhenyak. Angin apa yang membuat Mbah bertanya seperti itu?

Aku hanya tersenyum garing dan menatap wajah keluargaku yang sebisa mungkin menahan tawa mereka. 

Ah, Mbah. Cucumu ini tak muluk-muluk suka dengan orang asing nun jauh disana. Ia hanya ingin menyukai orang yang benar-benar ada di alam nyata, bukan nyata adanya di alam mimpi.



Bandung, 18 Oktober 2014 (lagi)

You Might Also Like

0 komentar: