Ditanya

November 02, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Entah karena aku terlalu banyak bicara, atau karena memang banyak maunya. Aku senang ditanya dengan pertanyaan yang bisa membuatku bercerita. Bukan pertanyaan yang jawabannya hanya ya atau tidak. Apalagi pertanyaan basa basi yang terkadang menyayat hati seperti kapan lulus atau kapan menikah. Mengapa mereka yang bertanya tak sekalian bertanya kami mati dan kapan dikuburkan? Menyebalkan.

Setiap adegan film dengan kata tanya sederhana tapi romantis selalu memancingku berkhayal ditanya hal yang sama.

Salah satunya secuil adegan di film Mika.

"Kamu mau apa?" Tanya Mika pada Indi

"Aku mau berlari, melompat dan menari."


Seperti selalu selayaknya sebuah film romantis, Mika 'meminjamkan kakinya' untuk membantu Indi merasakan sensasi berlari dan melompat. Mika mengajak Indi bertemu dengan pelatih tari topeng untuk bisa menari. Aih, mungkin hanya di film saja aku bisa menemukan hal yang terlalu manis seperti ini.

Adegan yang sama juga pernah aku lihat dalam sebuah film Korea yang kulupa judulnya. Persis sama. Tak perlu kuceritakan detailnya.

Intinya, bagiku ditanya tentang apa yang ingin kulakukan itu tindakan yang romantis.

Dulu, saat aku terdiam setelah panjang lebar menceritakan apa yang ingin kulakukan di masa depan, seorang teman bertanya dengan santainya,

"Terus, kamu mau apa dan ngapain lagi, Ki?"

Aih, rasanya langsung merasa berharga dan melanjutkan banyak keinginan yang awalnya sempat tidak akan kuceritakan.

Dulu juga, saat aku dengan semamgat membara menceritakan tentang pendakian pertamaku kepada seorang teman, orang itu dengan santainya bertanya,

"Belajar apa disana, Ki?"

Aih, rasanya seperti dapat angin segar di tengah perjalanan di gurun Sahara. .

Terdengar lebay memang, tapi memang terjadi.

Mungkin memang aku terlalu berlebihan. Merasa kata tanya sebagai representasi dari kepedulian. Padahal orang yang bertanya bahkan tak pernah ambil pusingdengan apa yang ditanyakan.


You Might Also Like

0 komentar: