MEMBUAT VISA BELGIA

November 22, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Ceritanya minggu lalu saya baru mendapatkan VISA Belgia. Ceritanya sih saya ditugaskan untuk belajar tentang suatu hal disana. Ya semacam Naruto berguru pada Jiraya lah intinya. Singkat cerita, saya harus mengurus VISA ke Belgia. Karena ini business trip saya yang perrrrtama kalinya dan juga perjalanan ke luar negeri yang perrrrrtama kalinya, makanya neuron di otak saya gak bisa selow. Anxiety abis. Riweuh pisan nyiapin ini itu. Sampai-sampai ngerasa dosa karena banyak orang yang saya susahin karena keriweuhan saya ini. Nah, karena saya urus VISA untuk keperluan bisnis, jadi maaf kalau ternyata ada hal-hal yang kurang jelas untuk pengurusan VISA turis. 

Berkas
Yap. Ini yang utama. Kalau gak ada ini, mending gak usah datang ke embassy. Oh ya, karena kedutaan Belgia sudah tidak menerima pembuatan VISA, maka pembuatan VISA untuk Belgia, Luxemburg dan Belanda dilakukan di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda. Cari aja di jajaran Jl. Rasuna Said, seberang kedutaan India pas tempatnya. Eh kok malah jadi melenceng dari sub-nya ya? hahaha. 

Baiklah, berkas yang harus ada itu: 
  1. Formulir pengajuan VISA (untuk pengisiannya banyak kok guidelinenya di internet. Googling aja biar puas. Pengisiannya bisa ditulis tangan dan diketik. Gak ada aturannya kok)
  2. Surat sponsor (Kalau yang turis kalau gak salah surat sponsornya harus dilegalisir di kantor pemerintah kota). Surat sponsor dari perusahaan harus ngejelasin perusahaan akan cover apa saja. Biasanya perusahaan yang sering kirim orang ke luar ngerti formatnya kok. 
  3. Surat undangan. Karena saya acaranya training di Belgia, jadi saya minta surat undangan dari kantor yang ada di Belgia. Buat minta surat undangan, diperlukan data-data seperti nama lengkap, nomor paspor, tanggal dibuat dan berakhirnya paspor, kebangsaan sampai tanggal perjalanan. Lucu nih, waktu saya minta surat undangan, kebangsaan saya ditulis Asia Pasific. Mungkin karena Indonesia masuk regional Asia Pasific. Minta ganti deh jadi Indonesia. Tapi dipikir-pikir enak banget ya kalau kebangsaannya Asia Pasific. Gak perlu paspor kelessss keliling Asia Pasific. Hahaha. 
  4. Konfirmasi booking hotel. Ini yang bikin saya agak pusing. Saya baru dapat file ini jam satu malam sebelum pembuatan VISA. Itupun dengan bantuan si empunya training. Mungkin karena satu dan lain hal yang saya gak tahu, makanya berkas ini sulit saya dapatkan. Tapi Alhamdulillah saya dapat sebelum berangkat ke Jakarta. 
  5. Asuransi. Nah, asuransinya minimal 30.000 USD. Karena di-cover kantor, semua diurusin sama orang kantor. 
  6. Bukti pemesanan tiket pesawat. Ini gak usah dijelasin lah ya. 
  7. Rekening koran. Minta rekening koran 3 bulan terakhir ke akunting kantor. Kalau pribadi biasanya copy buku rekening. Saya gak tahu berapa jumlah minimum tabungannya. 
  8. Kalau kamu pengusaha, lampirkan SIUP entah kepanjangannya apa, tapi intinya surat izin usaha. 
  9. Foto. Karena agak ribet syarat-syaratnya, akhirnya saya pilih foto di kedubes. Dapat 4 foto dengan bayar 50ribu. Kalau perusahaan kamu based on bill payment, jangan lupa minta bukti bayar foto VISA ya. 
  10. Fotokopi kartu keluarga. Kalau keperluannya untuk keperluan bisnis, kamu gak perlu bawa fotokopi kartu keluarga. 
Saya agak bingung juga sebetulnya. Di website resmi disebutkan bahwa semua file yang dibawa harus berupa file asli dan file fotocopy, tapi waktu saya serahkan copy dan asli, file fotokopian dikembalikan ke saya lagi. Entahlah gak ngerti. Pokoknya bawa aja copy-annya untuk jaga-jaga. 

Appointment
Saat berkas dirasa lengkap dan siap menghadap kedutaan untuk mengajukan pembuatan VISA, langsung tag tanggal untuk datang kesana  secara online (cek website kedutaan Belanda). Kalau tidak salah jadwalnya mulai dari jam 08.00 sampai dengan 11.30 WIB. Pikirkan dengan matang pemilihan jadwal Anda. Fyi, letak kedutaan itu ada di daerah Kuningan, jadi rawan macet. Tapi jangan terlalu kepagian juga. Kita boleh masuk ke dalam kedutaan sesuai dengan jadwal yang kita pilih. Jadi, saat kamu buat janji pada jam 09.00 dan kamu sudah sampai disana jam 07.00, maka bersiaplah menunggu di depan kedutaan selama 2 jam. Mwahahahah. 

Jika sudah memilih waktu untuk datang kesana, jangan lupa print ya. Ini akan menjadi acuan security mempersilahkan kita masuk ke area kedutaan. 

Proses
Pertama kali, security akan berteriak-teriak sesuai jam ('jam sembilan masuk', dsb). Kalau sudah masuk, langsung berjalan ke arah petugas yang ada di belakang meja (biasanya dekat dengan petugas pemberi kunci loker). Tunjukkan kertas jadwal perjanjian dan tunjukkan lembar asuransi kepada petugaas. Sesudah itu, isi ittinerary yang diberikan petugas. Lakukan dengan cepat karena memang prosesnya sangat cepat. Jangan lupa berkas disusun sesuai dengan susunan yang diberikan petugas bersamaan dengan ittenerary. Setelah itu, minta kunci loker dan masukkan barang ke dalam loker. Jangan lupa bawa dompet. Jangan bego kayak saya. Sudah duduk manis ngantri eh lupa bawa dompet. hahaha. 

Sesudah menaruh barang di loker, berjalan luruuuuuuussss sampai nemu ruangan yang didepannya ada kolam ikan. Langsung ambil nomor antrian. Nomor antrian ini menunjukkan seberapa hoki kamu. Karena ada salah satu loket yang petugasnya ketus mampus. Saya kebetulan sedang tidak hoki karena saya kedapatan ngurusin VISA di loket terkutuk tersebut. Fufufufu. Mana ada kejadian ngasih uang kurang gocap pulak. Mampus dah. Hahaha

Sesi wawancara sepertinya tak pantas disebut wawancara karena saya hanya ditanya: "mau kemana?" "berapa lama?" "untuk apa?". Selesai. Sisanya adalah perekaman sidik jari. Entah sidik jari saya yang terlalu centil dan susah dideteksi atau entah bagaimana, pokoknya saya merasa proses sidik jari ini terlalu lama. 

Sampai sidik jari, proses sudah selesai. Karena saya urus itu semua di hari Kamis, maka saya diminta datang kembali di hari Senin jam 3 sore untuk ambil VISA. 

Viola~

Paspor saya tidak polos lagiiiii. Dia sudah diperawani oleh VISA Schengen. Alhamdulillah..... Mudah-mudah sebelum habis masa berlakunya bisa melipir ke Swiss, Belanda atau mana-mana deh pokoknya. Amin.


Bandung, 22 November 2014

You Might Also Like

0 komentar: