-1 @Aalst, Belgium

December 03, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Tanggal 29 November 2014, akhirnya saya secara nyata benar-benar bisa pergi ke luar negeri. Yiahahaha. Jadi ceritanya saya ditugaskan kantor untuk ikut training yang diadakan kantor pusat. Saat diberitahu akan meng-Eropa itu sekitar bulan Oktober. Jadi hanya punya 1 bulan untuk mempersiapkan segalanya. Selang tiga hari kemudian, tiba-tiba salah satu senior manager nyeletuk di training dimana gue sok-sok-an bantu-bantu atasan menjadi tutor training. 

"Loh, kamu mau pergi ke Brussels, Ki?" tanyanya. 
"Hah? gak tahu saya pak. Saya tahunya cuma mau ke Eropa aja."
"Oooh, siap-siap winter stuff. Disana dingin sekali. Mulai musim dingin kan."

Semua manager yang ikutan sesi training saat itu langsung ngecein saya. Alamak. 

Singkat cerita saya nyiapin sedikit demi sedikit syarat-syarat keberangkatan. Mulai dari VISA, tiket, dll. Senangnya dibantu booking tiket pesawat dan urus asuransi kesehatan oleh teh Rossie yang sudah pengalaman urus untuk orang kantor ke negara manapun. Saya baru tahu dari beliau kalau ternyata saya orang pertama yang pergi ke Belgia karena yang lain seringnya ke Jerman, Paris, Singapura, Malaysia, dan Swiss tentunya. 

Tambah nervous kan ya. Mana bahasa Inggris saya kacau balau galau merana lagi. Fufufu. Yasudahlah, it's great opportunity for me to grow.

Menjelang hari keberangkatan saya diminta mejeng-mejeng cantik jaga stand jobfair di Soreang. Jobfair tersebut diselenggarakan oleh Pemkab Bandung. Selama jobfair galau gak jelas, akhirnya ditemani Yudo untuk melampiaskan kegalauan dengan menikmati kuliner Soreang. Jobfair berlalu, saya belum packing sama sekali. Saya baru minta cash advance selama perjalanan ke Belgia H-1. Jelas saja ini membuat akunting perusahaan kami geram tiada tara. Da atuh gimana, saya gak tahu. Fufufu. Ada yang dramatis saat minta cash advance, tapi kapan-kapan lah saya cerita. Hehe.

Singkat cerita saya pulang kantor dengan perasaan gak karuan. Saya pergi ke Jl.Otista untuk menukarkan uang, pergi ke Jl.Merdeka untuk beli sarung tangan dan longjohn. Untuuuuuuungggg barang-barang ini terbeli sebelum berangkat, kalau tidak, udah jadi Kiki Beku kali ya di Belgia.

Sampai rumah sekitar jam 10 malam. Saya packing dengan kondisi mata kerjap-kerjap gak jelas. Ngantuk bo. Tapi syukurlah malam itu packing selesai.

Esok harinya saya check in online untuk penerbangan ke Belgia. Saya iseng buka-buka halaman VISA dari website Emirates. Ada kalimat disana yang bilang kalau transit di Dubai itu haruuuuuuuus pakai VISA. Kebakaran jenggot lah saya. Kebayang gak jadi ke luar negeri padahal persiapan sudah 90% yaa menjelang 100% lah ya. Saya bilang ke Ibu. Ibu saya ikut khawatir yang dampaknya malah ngomel-ngomel ke saya kenapa gak nyiapin dengan benar. Saya tanya Mas Rachmad yang tinggal di Belgia dan kebetulan kerja disana. Saya BBM Tonny yang sempat cerita pernah transit di Dubai. Tapi jawaban mereka lama. Akhirnya saya berasumsi pemahaman saya benar. Lalu saya telepon manager dan bilang apa yang terjadi. Kebetulan beliau juga belum pernah keluar dengan transit di Dubai. Jadi bingung juga. Saya diminta tanya Pak Yanuar karena beliau baru-baru ini ke Swiss.

Saya telepon Pak Yanuar, tanya ini itu. Beliau bilang tidak tahu tapi akan cari tahu ke Pak Syam yang sudah pernah transit di Dubai. Saya nunggu deh jawaban dari Pak Yanuar. Tiba-tiba Tonny muncul balas BBM. Saya telepon Tonny, katanya enggak usah pake VISA. Lalu saya buka FB, Mas Rachmad memberikan jawaban yang sama dengan Tonny. Gak lama kemudian Pak Yanuar telepon, kata Pak Syam gak usah pakai VISA. Dengan malu-malu tapi gak tahu malu, saya telepon manager saya tentang apa yang mereka bilang. Selesailah masalah VISA.

Jam 10 adalah jadwal berangkat saya ke Bandara. Tapi saya masih belum berangkat juga. Karena kerempongan tiada tara, akhirnya saya berangkat jam 12 siang dan sampai bandara CGK jam 9 malam. Lama ya? Ya iyalah, macet di Bandung sudah tak termaafkan.

Ciwi-ciwi alias Putri, Dita dan Lili sudah bosa bertanya 'dimana?' Saya terharu mereka mau nunggu 8 jam. fufufufu. Love ya Ciwi-ciwi.

Jam 10, saya disarankan untuk check-in. Sebelum masuk foto-foto dulu dong pastinya. Setelah itu baru saya masuk dengan arahan ciwi-ciwi yang sudah sering ikut terbang disini. Fyuuuh ngurusin sendiri dong semuanyaaaaaaa. Aaaaaaaaaaahh, aku keren. Wwkwkwkwkwkwk.

Pas masuk, ternyata antrean check-in mengular. Panjaaaaaaaaaang sekali. Saya asal ikut antri saja. Gak baca tempat ngantri saya. Eh ternyata salah antrean. Wkwkwk. Karena saya sudah check-in via online, saya tidak perlu antre untuk check-in lagi. Hanya perlu nimbang barang dan bayar airport tax. Ah, ketololan dan kekatrokan muncul tidak pada waktunya. Setelah pindah antrean, tak lama kemudian urusan timbang bagasi dan bayar airport tax selesai sudah.

Saya masuk ke bagian imigrasi. Sampai disana, yang ada barisan yang saya prediksikan adalah pelajar. Entah mahasiswa, entah murid high school atau apapun. Yang jelas saya ngiri aja sama mereka, semuda itu udah terlihat biasa banget ngantri di imigrasi yang artinya sering bolak-balik ke luar negeri. Hoho.

Urusan imigrasi selesai. Saya nyari gate D2 dimana saya bisa boarding. Setelah cari-cari, ternyata dapat. Masih ada waktu setengah jam lagi. Saya nyari mushola dan toilet. Seusai sholat, gate dibuka saya masuk dan nunggu di ruang tunggu. Disana saya bertemu ibu-ibu dari Interpol POLRI yang mau ikut konferensi pendidikan di Afrika. Saya lupa tempatnya apa, tapi yang jelas ibu itu bilang kalau tempat konferensi adalah kota kelahiran Bilal bin Rabah.

Tak berapa lama, kami dipanggil untuk antri masuk pesawat. Dan di pesawat saya agak sebal dengan pria alay yang wajahnya arab...

You Might Also Like

0 komentar: