Aalst, Belgium #2

December 11, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Ternyata oh ternyata dia adalah Talent Acquistion Manager untuk regional Asia Pasific, alias suhu saya di Asia Pasific. Kami sempat chatting sebelum berangkat, dia yakin kalau kami akan berada di pesawat yang sama dari Dubai ke Brussels. Tapi karena saya kekeuh kalau saya bakal transit di Abu Dhabi bukan di Dubai, maka saya bilang itu tidak mungkin. Oh ya, saya sempet norak bantah-bantahan tempat transit dengan teman kantor. Dia bilang kalau saya akan transit di Dubai, tapi saya kekeuh saya transit di Abu Dhabi. Saat saya dapat tiket berangkat, saya tertawa dan malu disaat yang bersamaan, ternyata saya transit di Dubai. Mwahahahahha.

Kembali ke cerita di Dubai. Saya senang akhirnya ada teman selama perjalanan 7 jam menuju Brussels. Tapi karena tempat duduk kami berbeda, maka kami tidak bisa berbincang bersama. Saya duduk di pinggir jendela. Senangnya akhirnya bisa melihat langit dan awan. Ternyata orang yang duduk di sebelah saya adalah lelaki bule yang tinggi banget. Wajahnya kalem banget. Saya awalnya mau nanya-nanya sok kenal sok dekat gitu, tapi karena sadar bahasa Inggris saya tingkat obladi oblada, akhirnya saya urungkan niat tersebut. Tak lama setelah pesawat meninggalkan Dubai, lelaki itu pindah duduk karena memang ada kursi kosong di sebelahnya. Dan kami terpisah oleh kursi kosong.

Tak lama kemudian, partner saya dari Asia yang saya temukan di Dubai mengalami gangguan di tempat duduknya. Chargernya tak berguna. Jadi ia disarankan oleh pramugara untuk pindah tempat duduk. Pramugara itu bertanya apakah dia mempunyai teman di pesawat ini? Teman saya itu menjawab ada dan menceritakan ciri-ciri saya. Singkat cerita teman saya itu pindah ke samping saya. Satu sisi saya senang, satu sisi bingung. Mau ngobrol apa coba? Zzzzz.

Ternyata partner saya itu riweuhnya kayak saya. Senang sekali bercerita sampai saya bingung motongnya dimana. Tak lama situasi ‘awkward’ terjadi. Kami semua sedang makan pagi. Ditengah sarapan, pramugari menawarkan minuman tambahan. Saya meminta air lagi. Karena tenggorokan saya kurang bersahabat. Partner saya itu minta jus tomat karena ngiler lihat jus tomat abang-abang bule yang ada di sebelanya. Di akhir sarapan, partner saya itu mau ke toilet. Sedangkan alat-alat makan kita belum diambil oleh pramugari. Karena riweuh dan ingin cepat ke kamar mandi, saya menawarkan diri membawakan alat makannya untuk disimpan di meja saya.

Sepulangnya dari toilet, teman saya itu merepotkan saya dan abang bule itu kembali. Dia masuk ke kursi dengan grasak grusuk. Kau tahu apa yang terjadi? Jus tomat yang isinya tersisa ¾ itu tumpah ke jaket dan celana saya. Hwaaanjeeerrrrrrrrr!!!

Jaket warna putih saya pun berubah warna di beberapa bagiannya. Dia kebingungan dan saya juga bingung bercampur kesal. Bete sumpah. Bukan butuh tatih tayang ya, tapi butuh tendang dan tonjok orang. Saya coba lap air tumpahan jus dengan tisu yang ada. Kesel banget lah. Dia juga merasa bersalah dan dengan polosnya bertanya,

“Do you feel disappointed, Kiki?”

Menurut nganaaa??? Tapi yasudahlah, nasi sudah menjadi bubur, jus tomat sudah tumpah ke jaket saya. Dia bilang agak kecewa dengan rasa jus tomatnya karena terasa tidak fresh, jadi tidak dihabiskan. Saya masih kesal dan tak menanggapi ceritanya. Saya jadi berasumsi dalam hati, sepertinya saya juga orang yang menyebalkan seperti ini. Hahahaha.

Singkat cerita sisa perjalanan membuat saya BT tingkat dewa. Saya putuskan untuk melakukan defense mechanism yang selalu saya lakukan saat merasa kurang nyaman dan kesal, tidur. Saya tidur setenga perjalanan menuju Brussels dan kembali bangun saat makan siang. Partner saya itu mencoba membangun good rapport kembali, tapi saya sudah kadung kesal. Masa bodo dia manager Asia Pasific.

Singkat cerita kami sampai di Brussels. Kondisi Brussels tertutup kabut dan suhu udaranya sekitar 3-4 derajat celcius. Rencana saya tidak pakai jaket sesampainya di Bandara saya urungkan sudah. Walhasil saya adalah satu-satunya makhluk berkerudung dan berjaket kotor yang turun dari Emirates ke Brussels. Malu, gak PD, tapi yaudah lah ya. Mau gimana lagi. Besok-besok kalau pergi jauh jangan pernah pakai warna putih lagi. Heuheuheu.

Sesampainya di bandara kami langsung menuju petugas imigrasi. Rasa malu bertambah saat mengantri. Ternyata saya gak se-PD yang saya bayangkan. Huh.

Giliran saya menghadap petugas imigrasi, petugas hanya bertanya untuk urusan apa saya datang ke Belgia, saya bilang untuk training dari perusahaan. Lalu saya dapat cap imigrasi. Saya jadi agak heran dengan cerita orang-orang yang sulit menembus negara di Eropa karena saya tidak merasakan kesulitan sama sekali. Apa mungkin karena saya datang kesana untuk urusan bisnis ya? Entahlah.

Ini trip pertama saya ke luar negeri dan trip kedua saya menggunakan pesawat. Saya tidak tahu bagaimana saya menemukan koper saya saat di bandara. Karena partner saya itu sudah pernah ke USA dan UK. Saya dengan PD-nya ngikutin dia kesana kemari. Ternyata dia juga sama gak tahunya dengan saya. Ah gue sial banget sih. Haha.

Setelah lama muter-muter dari konveyor satu ke konveyor selanjutnya, akhirnya saya sadar yang menjadi clue utama adalah nomor penerbangan dan maskapai yang digunakan untuk sampai di Brussels. Ternyata koper saya ada di konveyor 7, dimana abang bule ganteng juga nunggu disana. Karena kesal dan merasa bego, saat saya menemukan clue tersebut, saya langsung menunggu koper saya di konveyor 7. Partner saya itu entah ada dimana.

Tak lama kemudian saya menemukan koper saya. Saya mencari partner saya dan menunjukkan konveyor dimana kopernya bisa ditemukan. Tak lama kemudian, dia menemukan kopernya. Kami beranjak ke pintu keluar. Disana kami mencari supir hotel yang berdiri nyempil di pojokan. Lalu kami langsung pergi ke hotel. Di perjalanan kami tak banyak berbincang. Saya masih kesal dan kelelahan karena thawaf di beberapa konveyor yang ada di bandara.

Sekitar satu jam berlalu, akhirnya kami sampai di Keizershof Hotel di kota Aalst, Belgia. Sesampainya di hotel saya baru sadar ternyata saya sudah sampai di Belgia. Hahay. Saya ke luar negeri euy!

Tak semua hal bisa berjalan mudah selama enam hari berada di negara kecil bernama Belgia. Ternyata, hidup di ‘dunia berbeda’ walau hanya sementara itu susah ya..

You Might Also Like

0 komentar: