Aalst, Belgium #3

December 11, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Sesampainya di hotel, saya bergegas membuka handphone dan menyambungkan handset saya itu dengan koneksi Wi-Fi hotel. Suara pangping dari BBM dan sosial media lainnya bersahutan. Serasa artis weh lah pokoknya mah. Saya bergegas mandi dan bersiap karena hari ini saya dan partner saya akan berjalan-jalan di sekitar hotel. Saya menggantungkan jaket kotor dan celana yang ampun bau tomatnya itu di kamar mandi. Norak saya keluar lagi. Saya cobain semua fasilitas hotel mulai dari bathtub, setrikaan celana sampai minibar yang ada di bawah TV.

Setelah coba semuanya, saya keluar dari kamar dan telepon berdering seketika. Ternyata partner saya itu telepon untuk bertanya memastikan apakah kami akan keluar atau tidak sore itu. Saya katakan saya butuh waktu sekitar setengah jam untuk bersiap. Setengah jam kemudian kami turun dan mampir ke lobi hotel untuk bertanya harga laundry. Saya agak kecewa partner saya tidak mau menanggung biaya mencuci jaket tersebut. Akhirnya saya urungkan niat untuk mencucui jaket tersebut di laundry.

Walaupun kesal, saya masih menghormati partner saya itu. Secara dia orang yang expert dan berpengalaman di bidang yang saya tekuni sekarang.

Singkat cerita, kami berjalan-jalan di sekitar hotel. Kota ini sangat sangat sepi sodara-sodara. Orang yang kami temukan hanya hitungan jari. Sungguh sepi sekali. Tapi dari segi arsitektur kota ini asyik sekali. Seperti Braga di Bandung atau Kota Tua di Jakarta. Ah keren pokoknya mah. Kami dengar katanya akan ada Chrismas Market di akhir minggu ini. Jadi tak sabar bertemu hari Jumat! Haha.

Waktu berjalan cepat. Kami kelaparan. Setelah jajan waffle di pinggir sungai Denver, kami mampir ke kedai Turki di dekatnya. Saya memastikan apakah makanan tersebut halal dan penjualnya mengiyakan pertanyaan saya. Seperti selalu, saya ikut memesan pesanan yang dipesan oleh orang yang pergi bersama saya. Sayangnya, partner saya ini orang yang sangat tangguh dalam urusan beli membeli. Ia bertanya apapun yang ingin ia tanyakan. Intinya, ia harus tahu persis barang seperti apa yang akan dia beli. Dampak buruknya adalah saya menunggu cukup lama untuk menentukan makanan apa yang ingin dimakan. Haha. Kocak.

Selesai jajan-jajan dan jalan-jalan cantik, akhirnya kami kembali ke hotel.

Saya sukses tidak bisa tidur. Pasalnya, sebelum berangkat saya nengokin grup FB Backpacker Dunia yang sedang bahas tentang hantu di hotel luar negeri. Nyari mati kan ya saya? Hahaha. Sudah tahu penakut, eh malah ‘sok’ merasa tertantang baca cerita-cerita horor. Diantara cerita horor itu, ada salah seorang anggota grup BD yang merekomendasikan sebuah film, ah saya lupa judulnya. Intinya film tentang rumah tua yang penghuninya merasa ada yang mengganggunya dari dunia lain. Padahal oh padahal, dia adalah makhluk dari dunia lain dan ia sudah mengganggu penghuni baru rumah tersebut. Horor dah. Horor khasnya film barat. Nyeseknya sampai disini nih *nunjukdada.

Sepanjang malam, televisi di kamar saya nyalakan dan volumenya bikin saya (seharusnya tidak) mengantuk. Ditemani suara televisi yang membahana itulah saya bisa tidur. Hoho. Anehnya, pagi-pagi saat bangun televisi sudah mati. Uuulalaaa...

Semua itu terasa horor bagi saya. Tapi ternyata setelah berhari-hari tidur disana, saya baru sadar dan ngeuh kalau saya suka bangun tengah malam dan mematikan tv, mematikan lampu dan meninggikan suhu kamar. Hahaha. Saya takut hantu ternyata hantunya saya sendiri.

So, malam itu jadi malam pertama saya nginep dan melipir ke luar negeri. Gaya. Haha.

Mata saya mengerjap perlahan. Saya tengok jam di ponsel. Jam 04.30 CET. Wih, saya shubuh jam berapa ya? Segera saya googling jadwal sholat di Belgia. Ternyata jadwal shubuh adalah 06.30 CET. Biasanya saya berbahagia, tapi saat itu tidak karena artinya saya harus nunggu 2 jam untuk sholat shubuh. Saya lupa apa yang saya lakukan saat itu, tapi rasanya saya menghabiskan waktu untuk berselancar di dunia maya. Setelah itu, bertambahlah rutinitas saya di pagi hari: ngumpulin screencap jadwal sholat dari situs www.kpmi.org

Jam tujuh saya mulai bersiap karena jam 9 training akan dimulai. Sekitar jam 8 saya turun ke restoran bersama partner saya yang saya ceritakan sebelumnya. Saya ambil roti coklat, omelet, kopi dan apel. Roti coklatnya enaaaak, sayangnya rasa omelet tidak familiar dan mencurigakan bagi saya jadi tidak saya teruskan makannya. Rasa kopinya pahit sekali. Saya pernah minum kopi hitam, tapi tidak pernah sepahit itu. Hiks. Hanya rasa apel yang tetap gitu-gitu saja, maksudnya tidak ada perbedaan signifikan antara apel di Indonesia dan Eropa. Perbedaannya hanya rasa apel yang kalau di bahasa latin mah ‘nyereng’.

Setelah makan, kami pergi ke ruangan training. Wiiih, isinya bule semua. Eh, maksudnya saya yang saat itu jadi bule. Secara kulit kami tidak seputih mereka, cenderung ‘eksotis’ bahkan. Kami, dua orang manusia Asia ditengah kumpulan manusia daratan Eropa. Ah ya, ada juga peserta dari Africa kok. Jadi kami bukan hitam, tapi eksotis #tsaaahhh.


Disinilah cerita training sesungguhnya bermula...

You Might Also Like

0 komentar: