Aalst, Belgium #5

December 14, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Hari pertama semuanya berjalan lancar karena kami hanya belajar di ruangan dengan latihan yang masih bisa saya kuasai dengan baik. Hari kedua saya mulai 'garuk-garuk kepala' karena keterbatasan berbahasa yang membuat saya jadi kurang percaya diri.

Di hari kedua kami diminta untuk melakukan role play. Karena training ini sebetulnya training for trainer, jadi semua peserta yang ikut akan menjadi trainer di site masing-masing. Kami dibagi menjadi 4 kelompok kecil. Saya kebagian dengan 1 orang dari Afrika,1 orang dari Belgia, 1 orang dari Swiss dan 1 orang dari India tapi kerja di HO Swiss. Kebayangka hebatnya mereka saat presentasi? Ada yang bahas tentang kompetensi adalah 'bahasa', ada yang mengungkap pentingnya kompetensi dari segi bisnis, dll. Keren lah pokoknya. Saya gimana? Yah begitulah. Semua orang dalam kelompok tertawa karena kebegoan saya. Tapi saya senang mereka tetap ngasih support dan kritikan yang membangun. Ada satu kalimat yang selalu diulang-ulang oleh manusia dari Swiss yang kebetulan ganteng. Haha. 

"Take your time. Don't worry, Kiki."

Setelah sesi role play sebagai trainer selesai, selanjutnya dilakukan sesi pemberian feedback tentang kompetensi seseorang. Cara pemberian feedback baiknya menggunakan Sandwich approach, alias bagian yang kurang menyenangkan harus berada di tengah-tengah bagian menyenangkan. Jadi small talknya bukan sembarang small talk tapi membahas pencapaian-pencapaian individu dan kelebihannya, lalu baru deh disempilin kalimat-kalimat yang kurang mengenakkan yang berkaitan dengan keterbatasan seseorang dalam pengerjaan tugasnya ataupun keterbatasan kompetensinya. Diakhiri dengan saran-saran pengembangan dan juga pencapaian yang bisa didapatkan bila perbaikan itu dilakukan. Karena menurut tutor kami itu, siklus marah itu bermula dari perasaan kaget terhadap kenyataan ataupun pernyataan yang tidak sesuai dengan diinginkan. Semakin lama waktu berjalan, shock akan berubah menjadi marah dan kemudian berubah menjadi penerimaan atas hal yang tidak menyenangkan tersebut. Setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda untuk perubahan marah ke penerimaan, maka tugas pemberi feedback adalah tetap menjaga perasaan nyaman dan aman orang yang diberi feedback. Karena feedback bisa lebih diterima jika penerima feedback tidak merasa diserang dan disalahkan. 

Ya ya ya, setiap manusia ingin dimanusiakan. 

Ini agak lebih sulit menurut saya, karena jujur saya agak sulit untuk asertif. Paling mentok jadinya agresif. Hahaha. Tapi sesi ini ternyata berjalan dengan cukup lancar. 

Nah hari ketiga adalah hari yang paling berkesan buat saya. Karena di hari itu saya berbicara bahasa Inggris sangat-sangat bannyak. Hahaha. Ya iyalah, sesinya itu tentang Competency Based Interview. Setelah diberi materi tentang tata caranya, kami diminta untuk berpasang-pasangan dan berperan menjadi interviewer dan interviewee. Lucu deh, serasa kuliah interview lagi. 

Sebelum jadi interviewee ataupun interviewer, saya bilang dulu ke orang Itali yang jadi partner saya di sesi itu kalau bahasa inggris saya kacau balau galau merana. Kata dia gak masalah yang penting dia lihat saya bisa komunikasi dengan bahasa inggris. Waaah, terharu. Hahaha

Saat jadi observer enak banget ngritik ini ngritik itu, eehh saat jadi interviewer ya ampun. Susah cyiiin. Apalagi kita harus fokus untuk menggali secara mendalam kompetensi yang menonjol karena harus menentukan level kompetensinya saat itu juga. Ditambah dengan memahami bahasa inggris dengan logat Italia kental itu bikin otak saya ngebul. Tapi seru seru seruuuu!

Sesi ini menjadi sulit karena ternyata lebih mudah bercerita daripada bertanya. Hahaha. Di hari inilah sesi terkahir kami bersama tutor kompetensi. Mereka (dua orang tutornya) harus kembali ke Jerman. Namun mereka pergi setelah kami semua pergi ke pabrik cokelat terbesar di dunia! Yeaaay! Waktunya field trip. Hahaha.

You Might Also Like

0 komentar: