Lucy dan 100% Otaknya

May 15, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Semalam saya tidur agak terlambat dari biasanya. Biasanya, jam 8 malam sudah ada di negeri antah berantah. Saya terpaku di depan laptop sambil melipat baju. Pastinya lebih banyak melongonya daripada melipat bajunya. Hahaha. Lucy, film tahun 2014 yang disutradarai oleh Luc Besson ini memikat saya. Awalnya saya agak malas melihat film ini karena sang pemeran utama, Scarlett Johansson ini yang dalam film ini bernama Lucy membuat saya berpikir ini film esek-esek ber-cover laga seperti film Twilight dan sebagainya. Ternyata saya keliru.

Film ini mengisahkan tentang seorang wanita yang terjerumus ke dalam aktivitas sindikat pengedar obat. CPH4 adalah obat yang mereka sedang bisniskan. Obat itu bisa meningkatkan kapasitas otak seseorang. Entahlah, saya tidak begitu mengerti tentang status obat tersebut. CPH4 akan dipasarkan di Eropa dengan cara memasukkan paket obat itu di perut para kurir. Setidaknya ada 4 kurir yang diculik dan dilibatkan secara paksa dalam kejadian ini. Lucy menjadi salah satu kurir cabutan itu. Obat-obat tersebut dibenamkan dalam (kalau tidak salah) rahimnya.

Saya senang film ini karena mengangkat betapa besarnya potensi manusia saat memaksimalkan kapasitas otak yang dimilikinya. Sejauh ini, manusia hanya menggunakan 10% fungsi otaknya, lebih rendah daripada lumba-lumba yang menggunakan 20% fungsi otaknya. Lalu bagaimana orang yang menggunakan 100% fungsi otaknya? Inilah alasan adanya film Lucy.

Lucy secara tidak sengaja menyerap obat yang diselundupkan di dalam badannya. Hal ini membuatnya bisa mengaktifkan fungsi otaknya dengan sangat optimal. Dengan demikian, ia dapat dengan mudah membaca, melihat dan mengetahui beragai informasi yang ada di sekitarnya. Saya paling suka adegan dimana Lucy bisa melihat seluruh informasi dengan menggunakan handphone di Paris. Keren. Seperti apa yang saya bayangkan saat dengan iseng memikirkan bagaimana bentuk sinyal dan informasi terkirim atau diterima oleh handphone seseorang. Tapi ada salah satu adegan yang paling tidak masuk akal menurut saya, yaitu saat sekelompok mafia Korea masuk ke ruang bedah para kurir cabutan. Di cerita sebelumnya, Lucy bisa mengontrol apapun dari jauh, tapi saat dia tahu para kurir terancam, mengapa ia malah memilih untuk nyetir ugal-ugalan, bukan menutup akses masuk-keluar di rumah sakit. Mungkin supaya ada adegan tabrak-tabrakan kali ya ~

Terlepas dari kekurangannya, seru juga ya membayangkan bahwa setiap hal di dunia ini adalah dampak sebab-akibat, meskipun saya masih meyakini ada andil Tuhan yang bisa mengubah rangkaian sebab-akibat tersebut.

Film ini bukan film tentang superhero, tapi ada karakteristik superhero yang dimunculkan. Sejauh ini, saya beri rate 8 untuk film ini. Daebak~

You Might Also Like

0 komentar: