Malaysia, We are Coming!!! #1

May 17, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Dari Singapur kami melanjutkan perjalanan ke Malaysia.

Kami numpang mobil Pak Mahfud sampai Woodland Checkpoint. Selanjutnya kami naik bus antar negara. Dari Woodland ke Bangunan Sultan Iskandar hanya 6,5 sen loh! Murah bingits. Sesampainya di Johor, kami dijemput oleh Pak Jamal. Nah, Pak Jamal inilah yang akhirnya nganterin kita sampe ke Melaka, Malaysia. Kami ditraktir makan seafood di Merlimau. Enakan di Indonesia ah seafoodnya, dia cuma dibakar doang, kalau di kita kan bisa dibumbuin asam pedas, pedas manis dan sebagainya. Entah berapa udang yang saya habiskan, tapi setelah mencoba daging kepiting beberapa potong, bibir saya gatal-gatal dan menjelang jontor. Sial. 

Setelah makan di Merlimau, kami meluncur ke Melaka. Awalnya saya mau ketemuan dengan Bang Yayan, orang Palembang yang kebetulan sedang ada di Melaka. Dia berkali-kali bertanya, "sudah dimana, Ki?" karena saya gak sampe-sampe. Hahaha. Tapi kami tidak jadi bertemu karena saya datang jam 10 malam dan muter-muter nyari Bang Yayan di sekitar Gereja Merah pun tak ketemu.

Saya dan Ica sampai di Melaka sekitar jam 10 malam. Setelah check in dan leyeh-leyeh sebentar, kami memutuskan untuk keluar dari hotel dan berjalan-jalan di Melaka. Karena salah baca peta, bukannya menuju Jonker Walk, kami malah jalan ke arah yang berbeda. Saat kami berbalik arah, ada seorang staff hotel yang mengikuti kami. Kami pikir, manusia itu adalah staff utusan hotel yang dengan baik hati menjemput kami dan mengantarkan kami ke jalan yang benar. Ternyata oh ternyata, manusia itu sedang modus ke si Ica. Alamak jaaannn~

Ah ya, kami menginap di daerah Little India. Serius loh, berasa di India! Saya agak pusing dengan bau-bauan khas India. Mulai dari wangi bunga hingga dupa. Semuanya bikin saya pusing tujuh keliling. Gak cocok kayaknya saya ke India. Yaudah deh ke Kashmir dan ke Gulmarg aja saya mah. *apaseeh?

Back to the story, begitu kami bertemu orang modusan itu, feeling saya sudah gak enak. Dia tanya nomor kamar hotel kami. Dia melihat kartu kunci kamar kami yang sedang dipegang Ica. Sesampainya di hotel, kami tanya satpam yang sedang berjaga dan orang modusan itu berhenti mengikuti kami. Kami berjalan dengan kurang nyaman karena kondisinya sudah terlalu malam dan kami berjalan di jalan yang sepi. Saat berjalan, Ica melihat lampu-lampu di seberang gang yang kami lalui, penasaran, kami hampiri lampu-lampu itu. Ternyata oh ternyata itu Melaka River. Aaaahhh, hiburan malam yang jadi moodbuster malam itu!

Kami dapat tiket river cruise gratis dari hotel, tapi karena tak kami bawa dan ternyata itu adalah perahu gelombang terakhir di malam itu, maka kami tak jadi menikmati sungai Melaka di malam hari. Setelah berjalan agak lama, kami melihat gereja merah dan pohon-pohon berbalut lampu kuning. Turistik pisan lah. Kami mampir ke Jonker walk dan berjalan sepanjang Jonker Walk. Mampir juga ke tempat oleh-oleh Melaka. Pedagang-pedagang di Jonker Walk bubar sekitar jam 12 malam. Lucunya adalah saat kami datang, pedagang masih tumpah ruah disana, tapi saat kami kembali hanya tinggal tersisa beberapa pedagang saja. Pasar malam yang asik, tapi kurang korsel atau bianglala. Yakali di Indonesiaa. Haha. 

Disana kami membeli cendol yang recommended versi tripadvisor. Enakan cendol Elizabeth ah kata saya mah. Pun cendolnya hanya sedikit. Ada kacang yang warnanya hitam tapi rasanya kayak kacang hijau. Entahlah namanya kacang apa. Harganya 4-6 RM.

Kami menikmati cendol di pinggir sungai disamping Hard Rock Cafe Melaka yang ributnya tiada dua. Setelah menikmati cendol, kami mampir ke bekas benteng yang berisi lebih dari 4 meriam. Bukan meriam berlina ya. *jayus. 

Kami pikir, jarak antara satu objek wisata ke objek wisata lainnya itu berjauhan. Ternyata oh ternyata itu hanya sebentar saja. Hahaha. Jalan kaki juga sampe loh. Malam itu kami lewati Masjid Warisan yang ada Tourist Information di bawahnya, selain itu juga kami ke Jonker Walk, Gereja Merah, Gereja Putih dan juga melewati kincir air. Merasa cukup lelah, kami kembali ke hotel sekitar jam setengah satu malam. 

Saat kami sedang asyik mengobrol di kamar hotel, tiba-tiba bel kamar berbunyi. Sempat kaget dan takut. Saya malah ngumpet dan meminta Ica yang membuka pintu. Sialan, ternyata itu petugas hotel yang mengikuti kami tadi. Ica menahan makhluk kurang ajar itu untuk tetap diluar, ia malah mendorong pintu dan memaksa masuk padahal Ica sudah bilang kalau saya berkerudung dan saya tidak pakai kerudung saat itu. Saya kesal dan berteriak-teriak mengancam manusia stres yang nekat mendorong pintu. Astagaaa, gak dimana gak dimana ada aja ya manusia stress. Saya telepon resepsionis dan komplain dengan bahasa Inggris yang berantakan. Resepsionis kebingungan dan saya mengulang komplain dengan bahasa Indonesia. Ah, bodoh. Harusnya saya yang buka pintu. Saya tonjok dan maki-maki langsung deh orangnya. Fyuh~

Setelah komplain, datanglah security beserta resepsionis dan kami menceritakan kejadian tadi. Mereka kebingungan, saya marah-marah bagaikan itu terjadi pada saya, padahal Ica masih bisa kalem. Wkwkwk. Salah satu kesalahan dari pihak kami adalah memberikan nomor kamar hotel. Pesan moral nomor kesekian, jangan pernah beri tahu siapapun kamar hotel anda. Seumur-umur nginep di hotel ya baru kali ini ada kejadian aneh macam ini. Ah ya, saya kan nginep di hotel kalo gretongan doang pas ada acara-acara formal. Deu..

Malam itu mood saya benar-benar anjlok. Saya jadi ingin cepat-cepat pulang ke Bandung. Malas melanjutkan perjalanan dan sempat ketakutan buat tidur. Tapi karena dasarnya gampang molor, ya nempel bantal langsung pingsan. 

Esok paginya kami bergegas sarapan. Banyak pilihan menunya. Ada nasi goreng, nasi putih plus teri, sambal, timun dan sebangsanya. Ada juga bubur dan roti. Lengkap deh. Eh iya, ada kwetiau juga. Lagi-lagi entah karena lapar atau memang dasarnya rakus, saya nambah nasi goreng 2 kali plus kwetiau yang setengahan sama Ica. Saya juga bingung, nafsu makan saya yang meningkat atau memang dasarnya hasrat makannya tinggi. Haha. 

Saya ngobrol dengan bahasa Indonesia karena sepengamatan saya, orang-orang berwajah melayu disana berbicara bahasa melayu dan orang-orang berwajah oriental berbicara bahasa Cina. Jadi santai lah yaaa.. 

Selesai makan, kami kembali ke kamar. Kami satu lift dengan pasangan beranak satu dengan wajah oriental. Saya bertanya, "How old?" 

Eh, si ibu menjawab, "Baru satu tahun."

Deziiiiiiiiiiiiggg...


(to be continue)

You Might Also Like

0 komentar: