Malaysia, We are Coming!!! #2

May 17, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Setelah terkaget-kaget dengan bahasa Indonesia dari sang Ibu, tiba-tiba saya ingat kalau merekalah yang melihat saya makan nambah. Mwhahahaha. Yaudah deh, gak bakalan ketemu lagi juga. Melaka pagi itu hujan deras dan kami tidak membawa payung. Hiks. 

Ponsel saya berbunyi. Manusia dari Yogyakarta bertanya rencana perjalanan saya hari itu. Saya bilang kalau disini hujan. 

Melaka memang hujan, tapi keinginan kami jalan-jalan tidak surut. Keinginan saya untuk pulang ke Bandung bagai kentut yang tercium baunya sesaat saja. Kami bersiap, dan menitipkan ransel kami di resepsionis tak lupa meminjam payung lalu pergi untuk berkeliling World Heritage City-nya Malaysia. 

Kami berjalan ke arah Jonker Walk kembali dan berfoto di depan Gereja Merah. Ada 3 orang turis bule yang sedang bergaya lucu dengan jas hujan dan tas ransel mereka. Gaya mereka bak anak-anak alay yang kocak. Hiburan dimana-mana. Hahaha. 

Kami mampir ke Tourist Information Center di bawah Surau Warisan. Kami mendapatkan peta Melaka yang lebih bagus daripada peta dari hotel. Saat itu tujuan kami hanya 1, menara Taming Sari dan Museum Maritim karena menurut informasi yang saya dapat dari Bang Yayan, salah satu tempat oleh-oleh itu ada di depan Museum Maritim. 

Ternyata oh ternyata, kami melewati Bukit St. Paul, dimana Gereja St. Paul berada. Alamak, kami kira jarak ke tempat ini cukup jauh. Bahkan kami berpikir untuk menggunakan taksi untuk sampai kesana. Untungnya tidak jadi. Hehe. Ada yang lucu di gereja ini. Ada banyak bongkahan batu berukuran setinggi pintu rumah dan tebal sekali. Disana ada tulisan dengan bahasa (seperti) Spanyol dan penjelasan dengan Bahasa Melayu maupun Inggris. Karena penasaran dengan banyaknya batu ukuran pintu itu, saya baca keterangan diatasnya. Ternyata oh ternyata, itu semacam batu nisan. Hiiiiiiihhh...

Usai turun kembali dari St. Paul, kami menuju Museum lainnya. Kami hanya sempat mampir di Museum Arsitektur atau bahasa Melayunya Muzium Seni Bina. Disana dijelaskan perkembangan seni arsitektur di Melaka. Selain itu juga terdapat maket-maket untuk beberapa bangunan yang ada di Malaysia. Penjaga museum ini judes parah. Saat kami mau masuk, kami diteriaki dan diminta mengisi buku tamu dengan bahasa Melayu. Tapi setelah saya menulis INDONESIA di kolom asal, ia berubah menjadi lembut dan logat jawanya langsung kentara. Orang Indonesia ternyata. Hahahaha. 

Saya sempat berfoto narsis di gerbong kereta yang menjadi kios-kios di sekitar area museum. Ada juga pesawat terbang nangkring disana. Katanya, itu adalah moda transportasi yang digunakan untuk mengangkut bahan makanan maupun kebutuhan masyarakat Melaka. Huuiih penuh cerita ya. 

Kami berjalan terus menuju menara Taming Sari. Secara tak sengaja kami menemukan taman dengan fasilitas Free WiFi!!! Hahaha, senang tiada tara. Tapi itu tak berlangsung lama karena saat kami sampai di menara Taming Sari, tiket menara itu tertinggal di hotel. Wakksss. 

Ica dengan baik hati menawarkan untuk mentraktir saya naik menara. I love gretongan, jadi tak saya tolak. Tiket naik menara sebesar 20 RM. Harga itu sudah termasuk cemilan semacam kue ali agrem yang berbentuk bunga dan air mineral sebanyak 2 botol. 

Kami masuk menara Taming Sari dan akhirnya menemukan spot-spot yang tak kami ketahui sebelumnya. Karena naik menara pula lah kami dengan mudah menemukan pasar di depan Museum Maritim. Hahaha. Kami bergegas masuk dan melakukan tawar menawar. Cukup berat menawar disini karena memang kisaran harganya sudah hampir mirip dengan di Indonesia. Kaos dengan tulisan atau gambar Melaka harganya sekitar 10-17 RM. Gantungan kunci dibandrol 7 RM satu set. Saya menawar dengan sok-sok-an berbahasa Melayu ternyata Melayu yang saya pakai Melayu Sumatra. Deziiig!

Seusai menenteng beragam keresek dengan berbagai isi, kami kembali ke hotel dan memanggil taksi untuk pergi ke Melaka Sentral alias terminal bus di Melaka. Entah mahal atau murah, kami harus membayar taksi sebesar 35 RM dari Little India ke Melaka Sentral dengan mampir sebentar di apa yah namanya, semacam BEC di Melaka. Pusat elektronik ada disana. Kami mampir kesana karena Ica mau membeli SIM card Malaysia. 

Tak lama kami sampai di Melaka Sentral. Kau tahu, ternyata disana banyak tukang kartu perdana. Mwahahaha. Pelajaran moral selanjutnya, beli SIM card di terminal saja, Kakaaak. 

Kami menuju loket Bus Delima SS karena berdasarkan baca sana sini, bus itu cukup kredibel. Sayang disayang, Bus Delima tiketnya sudah sold out! Kami bergeser ke loket sampingnya yaitu Metrobus Ekspress. Harga tiketnya sebesar 10 RM. Saat kami duduk di dekat platform bus, baru kulihat wujud bus Metrobus Ekspress. Beuh, jelek euy tampilannya. Saya sempat mengeluh ke Ica dan mengira-ngira bisakah kita menukar tiket bus dan menggantinya dengan bus lain. Ica bilang lebih ekonomis lebih baik dan sepertinya tak bisa tukar tiket lagi. Jadilah saya merutuki nasib kenapa harus beli tiket di bus itu. Tapi saat kami masuk ke dalam bus, ternyata bus itu tak seburuk tampilan luarnya. Bus ini memiliki jarak antar tempat duduk yang luas. Mungkin karena tidak ada kabin di dalam bus. Tapi karena luas inilah kami jadi bisa duduk menjelang tiduran. Kursi bisa kami mundurkan dengan optimal. Jadi selama di perjalanan saya pribadi merasa nyaman. PO BOX ya, dipoyok bari dilebok alias udah dicaci maki tapi ditelan juga. 

Perjalanan menuju Kuala Lumpur menghabiskan waktu cukup lama. Kami sampai di Terminal Bersepadu Selatan sekitar jam 5 sore. Kami kehilangan kontak dengan Melati. Saat dia mengirimkan kabar dari Singapur, kami masih muter-muter di Melaka. Azka yang sudah menunggu kami di Mesjid Jamek sejak pagi-pagi akhirnya kami ajak bertemu di TBS. Sungguh, saya lafaaar pake F bukan P. Ternyata asupan energi sebanyak 2 piring nasi goreng tak membantu apa-apa. 

Tiba-tiba ada orang yang mencolek saya dari belakang...

(to be continue)

You Might Also Like

0 komentar: