Malaysia, We Are Coming!!! #4

May 31, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Ternyata manusia itu manusia yang kami tunggu sejak tadi. Melati. Ia sudah menunggu lebih dari setengah jam yang lalu. Padahal kami sudah mengamati setiap orang yang keluar dari train sejak tadi dan tidak menemukan sosoknya. Ada yang lucu saat kami menunggu Melati. Ada dua orang bule wanita yang menggunakan dress berwarna hijau mencolok dan kuning mencolok. Warna stabilo. Kami hanya tersenyum saja. Ternyata ada yang iseng nyeletuk, "Nice color and nice dress, madam. You are so beautiful." Si bule dengan santainya tersenyum dan mengatakan terimakasih. Padahal kami tahu semua orang di sekitar dua wanita itu tersenyum dan beberapa tertawa karena warna baju yang 'sesuatu' sekali.

Setelah bertemu Melati, kami beranjak ke Petronas Twin Tower. Jam setengah 12 malam pun pelataran kantor Petronas ini masih ramai. Bule-bule juga pada norak ya kalau foto-foto. Segera kami buat tulisan supaya kekinian. Malah ada segerombolan bule yang bawa banner mini dengan tulisan. "you should be here!" Inspiratif ya. Saya jadi mau bikin. Hahaha.

Setelah foto-foto narsis dengan beragam pose disana plus mendengarkan Melati memainkan biolanya, kami pulang dengan berjalan kaki menuju Bukit Bintang. Asli jauh pisaan! Sebetulnya ada Skywalk yang menghubungkan KLCC dengan Bukit Bintang. Karena menurut informasi beragam pihak fasilitas umum itu sudah tutup dan tidak bisa digunakan, akhirnya kami berjalan menelusuri jalan. 

Akhirnya, kami sampai ke Jl. Alor tercinta dan moyoy cantik di hotel. Kami semua bertekad untuk berangkat jalan-jalan di KL jam 8 pagi karena harus check out jam 11 siang. Nyatanya tekad itu hancur lebur. Wkwkwk. Kami berangkat dari hotel jam 10 pagi dan itu sempat membuat Azka ngomel-ngomel lewat telepon. Haha. 

Karena keterbatasan waktu, akhirnya kami pergi ke Pasar Seni saja. Padahal Azka sudah wanti-wanti untuk mampir ke Merdeka Park. Disana kami bisa berpose di tempat sejuta umat sebagai pengganti Batu Caves yang tak bisa kami kunjungi. Menurut saya, Pasar Seni tidak terlalu menarik kecuali hiasan di Kasturi Walknya. Isinya hanya penjual oleh-oleh Ah ya, saya kurang merekomendasikan membeli coklat disini, rasanya enakan Chungky Bar. Hehe. 

Tak terasa, sudah jam 11.00 siang! kami harus kembali ke hotel dan pergi ke bandara. Disana kami sudah ditunggu oleh Pak Ron, beliau teman Pak Jamal kenalannya Ica. Akhirnya kami pergi menuju KLIA yang ternyata jauh dari hotel. Kami harus masuk tol untuk sampai kesana. Mungkin seperti bandara Soetta di Cengkareng. Eh iya, di SG dan MY, motor boleh masuk tol. Kami pernah mengomentari ini saat di SG tapi respon Pak Mahfud hanya, "Kasihan dong orang miskin gak boleh masuk?"

Hemm, tapi kebayang dong kalau motor boleh masuk tol, pasti pinuh pisan tol di Indonesia. Jumlah pemilik kendaraan roda dua di negara tercinta kan membludak luar biasa. 

Sesampainya di KLIA, kami berterimakasih kepada Pak Ron dan beliau pulang ke rumahnya. Kami langsung menuju imigrasi dan kejadian menyebalkan terjadi. Saya lupa kalau tumblr saya masih berisi air sisa perjalanan hotel-Pasar Seni-hotel. Petugas bea cukai berkicau dengan kalimat yang menurut saya menyebalkan sekali.

"Awak kalau nak buat kopi disini, belilah di kedai. Jangan bawa air minum." 

Dia mengoceh kesana kemari dan membuat saya mangkel. Begonya, saya jawab terus omelannya dia. 

"I forget if I have water inside my bag in my tumbler. No worry, I will never make any coffee in plane."

Melati dan Ica berbisik dan mencegah saya berkomentar lagi. "Gak usah diladenin sih," kata mereka. 

Entah emang PMS syndrome, saya yang mudah tersinggung atau memang petugas itu kurang ajar dan lebay. Intinya, saya kesal dan sebal. 

Kami mampir ke Dunkin' yang ada di tempat boarding kami. Pesawat delay dan tak ada air siap minum di bandara ini. Melati sampai menjuluki bandara ini pelit karena tak ada trinken Wasser alias drinkable water tak seperti di Bandara Changi dan Soetta. 

Saat menunggu pesawat, nama-nama kami dipanggil. Ternyata saat check in di mesin check in kami tidak melakukan scan paspor. Bwahahaha. Jadi, jangan lupa ya untuk scan paspor di mesin check in. 

Tak lama, kami masuk ke pesawat. Saya dan Melati duduk bersisian sedangkan Ica harus rela terpisah dan duduk di belakang kami. Aneh loh, padahal kursi di sebelah kami kosong. Selama perjalanan saya cenderung kurang nyaman. Sakit tenggorokan saya tidak membaik. Rasanya ingin batuk terus menerus dan perih. 

Sekitar 2 jam lebih di atas awan, akhirnya kami tiba di negeri tercinta Indonesia. Agak sedih ya, saat sampai di imigrasi kami tidak dibedakan dari pemilik paspor yang lain. Padahal waktu datang dari Begia akhir tahun lalu, rasa-rasanya saya ngerasa dipisahin dari pemilik paspor dari negara lain. Untungnya, proses ini tidak berlangsung lama. Saya dan Ica langsung pulang ke Bandung sedangkan Melati menunggu temannya menjemput karena dia akan tinggal di Jakarta sampai besok. Perjalanan Jakarta-Bandung nyatanya lebih lama daripada KL-Jakarta. 

Sesampainya di pool bus Primajasa di Batu Nunggal, saya di jemput Papski tersayang dan Ica dijemput pacarnya. Kontras ya? Haha. Da aku mah apa atuh, belum punya pacar #curcol

Sejam perjalanan ke rumah, saya sampai dengan selamat. Alhamdulillah. Nah, berikut kisi-kisi pengeluaran selama perjalanan SG-Melaka-KL. 

  • Tiket Bandung - Singapura: Rp. 199.000 + Rp. 75.000 (airport tax)
  • Hostel di Singapura           : 28 SGD/ orang
  • Singapore Tourist Pass     : 26 SGD (dibalikin 10 SGD saat kartu dikembalikan) + 2 SGD untuk deposito
  • Woodland - Johor Bahru   : 0,65 SGD
  • Jajan cendol                     : 4 RM
  • Bus Melaka-KL               : 10 RM
  • Tiket KL-Jakarta              : 83 RM

Nb: karena hotel selama di Melaka dan KL kami tidak bayar plus transportasi untuk ke Melaka dan ke KLIA kami juga tidak bayar, jadi begitu deh rincian pengeluarannya. Btw, rincian ini tidak termasuk oleh-oleh dan cemilan juga ya. Kurs SGD saat itu 9.900 IDR dan Kurs MY saat itu 3.800 IDR. Jadi 834.835 IDR + 378.300 IDR = 1.213.135 IDR total pengeluaran selama 8-11 Mei 2015

Ini cerita perjalananku, mana ceritamu?

You Might Also Like

0 komentar: