Singapore, Here We Go! #2

May 17, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Loket imigrasi dibuka. Kami mengantri demi cap imigrasi. Tentunya setelah bayar airport tax di loket Airasia. Sungguh, slogan Airasia bener ya, everyone can fly. Setelah mendapat cap imigrasi, kami duduk-duduk cantik di waiting room. Selfie sana selfie sini. Kami lupa, kami belum menetapkan tujuan dan belum tahu bagaimana caranya sampai ke hostel. Sebetulnya saya sudah googling dan menyimpan rangkaian cara sampai ke hostel, tapi entah teledor atau apalah namanya, semua catatan tertinggal di laptop. Pesan moral no.1: pastikan kamu tahu cara sampai ke hostel. Manfaatkan lahirnya Google ke dunia dan jangan teledor kayak saya. 

Setelah kurang lebih setengah jam menunggu, ada suara merdu yang memberitahukan kalau kami sudah dibolehkan masuk ke dalam pesawat. Tapi karena kami terlalu banyak selfie dan saya kira ada perbedaan panggilan untuk penumpang eksekutif dan ekonomi, maka kami hampir terlambat masuk. Wkwkwk. Kupikir Airasia kayak Emirates. 

Ternyata kami termasuk orang terakhir yang masuk pesawat, tapi karena di tangga pesawat masih mengantri banyak orang, saya mengajak Ica untuk foto di depan pesawat. Berfotolah kita disana dan berakibat diteriaki bapak-bapak petugas bandara serta ditertawai segerombolan abang-abang backpacker yang pakai baju hitam, celana kargo hitam dan kaca mata hitam. Lucunya, segerombolan abang-abang ini dengan PDnya minta petugas bandara untuk memoto mereka setelah menertawakan kami. Sayangnya, mereka ditolak mentah-mentah dan membuat saya balik tertawa atas naasnya nasib mereka. Hahahaha.

Kami kebagian nomor kursi 27 A, B dan C. Tapi saat kami masuk pesawat, ada seorang bapak muda berwajah oriental duduk di kursi kami. Sempat berdebat sebentar tapi kami dipersilahkan duduk di kursi kosong yang berjajar di belakang. Beberapa menit sebelum take off, si bapak chinese itu minta maaf karena ternyata dia salah duduk. Jiaaahh~

Perjalanan selama satu jam ini cukup melelahkan bagi saya. Telinga saya pengang dan membuat saya sakit kepala. Mungkin karena saya sedang flu atau karena pesawat ini adalah pesawat kecil. Entahlah, yang jelas saya tidak merasakan ini saat perjalanan ke Belgia akhir tahun lalu. 

Singkat cerita, kami mendarat dengan selamat di Changi International Airport. Sesampainya di Changi, kami berdebat tentang dimana kami bisa membeli Singapore Tourist Pass alias STP. Saya sempat membaca di situs resminya dan disana disebutkan kalau kartu transportasi itu hanya bisa didapatkan di stasiun MRT. Tapi entah di MRT mana. Yang gak asik dari group travelling adalah perdebatannya, menurut saya. Akhirnya kami mampir ke Singapore Recommends dan bertanya tentang STP, ternyata benar, kartu itu hanya bisa dibeli di stasiun MRT. Lalu, dimanakah stasiun MRT? Kami bertanya ke cleaning service yang ada di Changi, tapi dia juga kebingungan katanya ada di T2 dan T3. Apa pulak itu T2 dan T3? wkwkwk. Ternyata oh ternyata T adalah terminal. Jadi T2 atau T3 itu terminal 2 dan terminal 3. Dan ternyata tanda menuju stasiun MRT itu jelas sekali. Karena kami turun di terminal 1 dan stasiun MRT ada di terminal 3, maka kami harus naik subway dulu lalu naik turun eskalator untuk sampai ke terminal 3. Alamak jaaaann~

Pesan moral no. 2 : Sesampainya di Changi, langsung lihat arah penunjuk ke T2 atau T3. Lihat saja penunjuk arahnya. 

Akhirnya, setelah muter-muter terminal 1 Changi, kami sampai di Terminal 2. Karena kebutuhan untuk melakukan proses ekskresi kami tak tertahankan. akhirnya kami transit sebentar di depan lift di terminal 2. Saya sempat mengeluhkan tidak adanya peta bandara seperti di Dubai. Tapi ternyata setelah menghampiri lift, ada peta lengkap dengan panduan bandaranya di depan lift. Mwahahahaha~

Setelah naik lift dan turun ke stasiun MRT, ternyata bukan stasiun itu yang kami cari. Kami disarankan pergi ke MRT office di terminal 3. Kesal, capek dan bingung jadi satu. Ya ampun, di tempat semodern Changi saja saya masih kampungan. Weleh weleh weleh.

Setelah kecapekan, kami temukan juga MRT office yang menjual STP. Sayangnya, ternyata STP Plus yang kami incar itu sudah habis stoknya, jadi terpaksa kami beli STP biasa seharga 26 SGD dengan deposito 2 SGD. Kami bisa mendapatkan 10 SGD saat mengembalikan kartu ini besok. Yah, baiklah~

Perjalanan berlanjut. Kami harus tahu bagaimana caranya sampai ke hostel. Keteledoran kami masih menyisakan akibatnya. Saat sampai di Changi, saya mendapatkan akses WiFi gratis. Dodolnya, fasilitas itu tidak saya manfaatkan untuk cari cara sampai ke hostel, malah update sana sini dan berkabar kesana sini. Selain itu, di terminal 1 juga terdapat fasilitas internet gratis lengkap dengan komputernya. Jadi sebetulnya gampang saja bila kita mau akses map dari sana. Tapi yasudahlah, kami begini mungkin supaya kamu tak ikut-ikutan oon seperti kami. Haha. 

Bagaimana cara kami sampe ke hostel? Pakai GPS. Bukan, bukan GPS yang ada di HP karena kami tak ada yang membeli SIM card Singapur, GPS kami adalah para petugas MRT. Hahahaha. Sempat salah turun platform MRT, harusnya B malah turun di D, walhasil nunggu MRT lewat dan itu lamaaa. Ujung-ujungnya naik turun lift-eskalator untuk nyebrang ke platform yang kita tuju. Melelahkan loh. Jadi, besok-besok kalau mau pergi kemana-mana baiknya benar-benar aware sama jalan yang harus ditempuh dan detail cara sampai kesana. Ah ya, yang tadi pelajaran moral no. 3.  

Kami tinggal di Lofi Inn @Hamilton. Hostel ini ada di Hamilton road. Cara sampai kesana adalah, naik MRT dulu di terminal 3, ambil yang jalur hijau alias East West Line dengan tujuan Tanah Merah. Nah, dari Tanah Merah, kamu harus turun dari pintu seberang (pintu yang berlawanan saat masuk) karena beda platform. Sesampainya di Tanah Merah, naik MRT tujuan Joo Koon dan turun di Lavender. Setelah itu jalan luruuus ke arah kanan sampai nemu toko bunga, jalan kesana akan melewati stadion besar. Di Hamilton road sepertinya memang daerah hostel karena saya lihat ada ABC hostel dan beberapa hostel lainnya. Sampailah kami di Lofi Inn @Hamilton jam 5 sore. Padahal kami sampai ke Singapur jam setengah 2 siang. Kebayangkan capeknya? 

Di hostel ini kami tidur di lantai 3 sekamar dengan 2 traveller lainnya, Christin dan Rima. Christin itu orang Jerman yang sudah travelling keliling dunia selama 1 tahun, sedangkan Rima orang Indonesia yang sedang ikut seminar motivasinya Tonny Robbins, gurunya Tung Desem Waringin dan favoritnya Merry Riana. 

Hostel ini asik, tapi sayang kamar mandi di lantai 3 kotor dan menjijikkan, untungnya ada toilet lantai 2 yang lebih bersih. Oh ya, hostel ini juga ramai di malam hari karena ada pub plus area main billiardnya. Jadi yah begitulah, kami wanita berkerudung yang mampir ke tempat main wanita yang minim bajunya. Rating dari saya untuk hostel ini ada di 6 dari 10. Nilai plusnya adalah adanya sharing kitchen yang bisa dipakai masak Indomie seleraku. Hahaha. You get what you pay lah ya..

Sesampainya di hostel, kami hanya butuh waktu leyeh-leyeh sebentar dan waktu untuk masak mie. Karena lapar atau memang dasarnya rakus, saya menghabiskan 2 porsi bihun kemasan yang saya bawa dari Indonesia. Hahaha. Asupan energi optimal. Yeah~

Setelah makan, kami merencakanan perjalanan kami lagi dengan lebih detail dan dengan bantuan om Google tentunya. Banyak tempat wisata yang ingin kami kunjungi, tapi sepertinya kami tak bisa mencapai semuanya. Akhirnya, tempat-tempat sejuta umat sajalah yang kami kunjungi. Hahaha. 

Setelah diskusi sana sini, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Singapore Botanical Garden. Fyi, kami berangkat jam 6 sore. Waktu dimana manusia pulang sekolah dan kerja. Padat nian, kakaaak.

Setelah lagi-lagi salah turun stasiun, dan nunggu lamaaaaa banget LRT, akhirnya kami sampai di SBG. Asli, tempat ini recommended untuk didatangi di siang hari. Kalau di malam hari, jalan-jalan kesini itu kayak jurit malam pas ospek. Serem-serem gimanaa gitu. Semacam hutan mini gitu soalnya. Tapi sempet aja selfie mah, meskipun cahaya kurang mendukung juga. Ah ya, ada kejadian dodol juga disini. Kami agak kecewa sampai di Botanical Garden karena kami kira Botanical Garden itu Garden By the Bay. Mwhahahahaha. Pesan moralnya masih kayak yang sebelum-sebelumnya. Rajin googling!!!

Oh ya, cara ke SBG dari Lavender adalah: naik MRT tujuan Joo Koon, turun di Outram Park lalu keluar dari stasiun MRT kita harus nyebrang ke bus stop. Naik bus nomor 75 dan turun di SBG stop. Setelah itu, jalan kaki ke arah kanan (arah kanan dari kita turun bus). Kalau sudah nemu gerbang SBG, sampailah kita ke SBG. 

Setelah ke SBG, kita berencana langsung cus ke Orchard rd. Jalan yang paling fenomenal di SG. Mungkin ini semaca Jalan Riau kali ya kalau di Bandung, eh Ciwalk? Entahlah, yang jelas disini berjajar beragam mall dan outlet barang-barang branded. Kabarnya, Victoria Beckham mau mengadakan fashion show sepanjang Orchard rd. Asik kan? 

Karena uang saya gak nyukup juga buat beli barang-barang disana dan tujuan ke Singapur memang bukan buat belanja, kami hanya jalan-jalan cantik disana. Kami berencana mampir ke Little India untuk makan ataupun jalan-jalan. Tapi ternyata kebablasan. Haha. Kami turun di Victoria street lalu mampir ke Masjid Malabar di Kampong Glam. Kami sholat sambil ditungguin marbotnya karena masjid mau ditutup. Hahahaha. 

Selepas sholat, kami naik lagi LRT menuju Bugis. Saat turun di Bugis Junction, kami melihat wanita berwajah orientah berbaju hitam yang memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya itu menelepon di tengah zebra cross. Ini cukup membingungkan kami dan membuat banyak orang melongo dengan tingkah wanita itu. Betapa tidak, dia dengan santai berteriak-teriak kepada orang di telepon di tengah jalan. Saya ulangi ya DI TENGAH JALAN. Sampai-sampai LRT dan taksi membunyikan klakson mereka berkali-kali dan ibu-ibu itu tetap bergeming. Ada juga orang stress di Singapur ya? Hahaha. 

Saya pribadi senang sekali saat menyebrang di Bugis, kenapa? karena rasanya kayak nyebrang di Times Square di Amrik sana. 

Pasar di Bugis kayak pasar-pasar di Indonesia pada umumnya. Disini diobral banyak barang. Saran saya, kalau mau beli gantungan kunci untuk oleh-oleh, baiknya beli disini, 10SGD dapat 24 pcs!!! Kami memutuskan untuk membeli kebab di kedai kebab yang mau tutup. Karena abang-abang kebab mau tutup, akhirnya kami makan di depan KFC. Hahahaha. Kebab rasa KFC. 

Seusai makan, kami pulang dengan menggunakan LRT. Sungguh, kalau saya tahu Hamilton road itu jauh dari stasiun MRT dan bus stop, gak akan ambil hostel itu deh. Fufufufu. 

Tapi ternyata sesampainya di hostel kami menemukan Christin dan Rima di kamar...

(to be continue)

You Might Also Like

0 komentar: