Singapore, Here We Go! #3

May 17, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Sesampainya di kamar, ada dua manusia cantik diatas kasur mereka masing-masing. Ada Christin dan Rima. Seperti yang sudah saya jelaskan di potingan sebelumny, Christin orang Jerman yang keliling dunia sejak satu tahun yang lalu. Dia sudah pernah ke Indonesia dan itu Bali. Christin berkomentar tentang banyak hal termasuk mata uang Rupiah kami yang menurutnya 'nothing' karena murah pisan. Secara dia baru balik dari Aussie untuk program WHV alias Working Holiday Visa, lalu langsung mampir ke Bali. You can buy anything laaah. Tapi Christin juga sempat mengeluhkan betapa mahalnya Singapur daripada Malaysia atau Indonesia, ya eyalaaahh..Rencanaya, Christin ini mau ke Hongkong setelah dari Singapur. Mau ke Disneyland katanya. Da aku mah apa atuh, ke Dufan juga baruu tahun ini, dia mah udah siap-siap ke Disneyland. Haha. 

Selanjutnya, Rima. Cewek berjilbab satu ini kocak banget. Dia sebenarnya adalah mahasiswi ITS jurusan Matematika. Tapi karena menurutnya itu bukan passionnya, ia memutuskan untuk ikutan tes lagi tahun ini. Seinget saya, SBMPTN itu sebentar lagi dan dia masih ada di Singapura??? Orang pinter yang nyentrik. Rima juga ekspresif sekali. Manusia yang lahir di Makassar dan besar di Jakarta ini terlihat selalu semangat dan mudah dipengaruhi. Bayangkan saja, awalnya Rima berniat check out dan langsung pergi ke bandara, padahal pesawat yang ia tumpangi terbang jam setengah 8 malam. Setelah dibujuk sebentar, ia dengan mudah mengiyakan untuk ikut kami mampir ke spot foto sejuta umat: Merlion. 

Perjalanan kami agak mudah kali ini, ada kenalan Ica disana. Namanya Pak Mahfud. Pak Mahfud ini mengendarai taksi SMRT yang katanya miliknya sendiri yang dijadikan taksi umum. Mungkin semacam angkot-angkot di Bandung kali ya? Entahlah. Kami diajak makan dulu di Little India dan diajak mampir ke Mustafa Center. Nah, saran saya, kalau mau beli pajangan khas Singapur, jangan beli di Mustafa Center, tapi beli di kios di depan Mustafa Center. Kami bisa dapat 3 pajangan seharga 10 SGD, sedangkan di Mustafa Center harganya 5-17 SGD per pajangan. Tapi, jangan beli gantungan kunci disana karena di Mustafa Center lebih murah. Kami bisa mendapatkan satu set gantungan kunci seharga 3,5 SGD disana sedangkan di kios itu harganya 5SGD per set. 

Mustafa Center itu kalau kata saya sih mirip Carefour atau Sarinah di Malang. Toko serba ada yang jual mulai dari oleh-oleh sampai parfum dan buah-buahan. Jadi pelajaran juga sih buat saya, karena dulu beli oleh-oleh di Aalst yang paling murah ya di toserba macam ini. Ah ya, kami ditraktir Pak Mahfud untuk pajangan yang kami beli di kios di depan Mustafa Center. Yeeeaaayyy!

Sesudah beli perintilan oleh-oleh, kami beranjak menuju Merlion Park, spot sejuta umat yang katanya harus dikunjungi kalau ke Singapur. Dari taman ini selain kita bisa foto patung merlion yang terkenal, kita juga bisa melihat Marina Bay Sand dari sana. Asli ya, keren pisan. Modern banget. Kata Pak Mahfud, kalau jajan di Merlion Park, sama harganya dengan makan sebulan di Bandung. Karena saya masih punya kekuatan Sariroti, jadi gak minat juga jajan cantik disana. Hoho

Selesai dari Merlion, kami berangkat menuju Johor Bahru, Malaysia. Saya dan Ica berpisah dengan Rima. Oh ya, Melati melanjutkan hari kedua di Singapur karena ia ingin mengunjungi banyak toko buku dan perpustakaan maupun museum yang ada di Singapur. Hanya saya dan Ica yang berangkat ke Melaka via Johor Bahru. 

Di tengah perjalanan, kami mampir ke toilet yang ada di SPBU, ternyata untuk toilet wanita, pintu terkunci dan digembok. Cara untuk masuk ke dalamnya adalah meminta kunci ke kasir minimarket yang ada di SPBU. Tuh, cowok-cowok, kalian gak bisa iseng masuk ke WC cewek dengan alasan apapun. Mwahahaha. 

Kunjungan ke Singapur pun berakhir, lanjut ke Malaysia...

(to be continue)

You Might Also Like

0 komentar: