Wanita Cantik vs Nasib Baik

June 06, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Cantik. Hampir setiap wanita ingin menjadi cantik, menjadi menarik, menjadi berbeda dengan wanita lain atau sama dengan para wanita di atas rata-rata. Walau banyak juga wanita yang tak begitu ingin cantik, tapi rasanya agak mustahil rasa itu tak pernah muncul di hatinya. Supaya yakin dirinya tetap cantik, banyak wanita melengkapi bawaanya dengan make up dan cermin. Kau tahu, cermin dalam bahasa arab mir-atun. Sedangkan wanita dalam bahasa arab yaitu mar-atun. Mirip ya? Mungkin karena wanita suka bercermin dan cermin identik dengan wanita. Tapi saya tak akan bahas tentang sejarah cermin dan sejak kapan wanita suka bercermin.

Kembali ke cantik. Saya pernah membaca sebuah candaan dimana wanita selalu mengeluhkan kondisi wajah dan tubuhnya di setiap pagi saat bercermin. Sedangkan para lelaki selalu dengan PDnya meyakini 'kegantengan' mereka saat bercermin di pagi hari. Sebegitu ingin cantik kah wanita?
Namun saya selalu menemukan cantik tak saja identik dengan hal-hal yang menyenangkan. Bahkan ada yang bilang, 'beauty is pain'. Wohooo..

source: http://thumbs.dreamstime.com/


Teman saya, demi merasa rambutnya tetap cantik, ia rela pulang pergi ke salon dengan rutinnya. Ia coba ini itu. Mulai dari keriting rambut, gonta ganti warna rambut dan apapun yang disebut 'perawatan rambut'. Sialnya, terlalu sering ngotak ngatik rambutnya, rambutnya rusak dan harus rela menerima treatment khusus. Weh, tambah sering ke salon dan tambah pula pengeluaran. Beauty is pain...
Ada pula teman saya yang lain. Karena cantik, ia bak piala bergilir yang mudah berpindah dari pria satu ke pria yang lainnya. Dari mulai adik tingkat hingga kakak tingkat. Sesama angkatan sudah jangan disebut berapa orang yang sudah menjadi mantannya. Bahkan, staff fakultas pula sempat menggoda. Alamak, ngeri.

Teman saya yang lain. Senang dianggap cantik dan memang sadar dirinya cantik, tak pernah ia setia pada satu orang saja. Punya pacar satu serasa tabu. Punya pacar dua, kurang rasanya. Wajahnya penuh riasan yang pada saat itu saya masih tak habis pikir kenapa wanita harus berhias. Hahaha. Entah dia yang terlalu maju pikirannya, atau saya yang terlalu lugu dan bodoh. Ia putar banyak fakta dan kata, lalu ia buat kata dan fakta versi dirinya sendiri. Ia tebarkan kisah yang dibuatkan dengan mudah. Semudah menebar pesona kecantikannya ke banyak orang. Ruarr binasa. Haha

Ah masih banyak lagi teman saya lainnya yang terkadang membuat saya enggan menjadi cantik.

source: http://previews.123rf.com/
Entah benar atau tidak, Pramoedya Ananta Toer pun memaparkan betapa malangnya nasib wanita cantik di jaman dahulu. Dijadikan gundik, selir dan budak seks lelaki. Para priyayi masih dianggap belum menikah bila belum menikah dengan wanita dari kalangan priyayi. Pernikahan mereka dengan gadis-gadis lugu dari kampung dianggap sebagai pernikahan percobaan, berapapun banyaknya. Ah, padahal para priyayi itu pandai mengaji dan tak absen sholat 5 waktu. Buku Gadis Pantai membukakan mata saya betapa menjadi cantik tak pernah diinginkan oleh beberapa wanita. Betapa cantik menjadi hal yang bisa merendahkan wanita. Dianggap bisa mudah saja diperdaya.

Saya sering bercanda kepada Yudo, teman saya.

"Dho, gue bersyukur gak cantik. Kebayang ya kalau gue cantik. Pasti gue udah trauma pulang ngangkot jam 10 malem."

Teman saya itu seperti biasa menanggapi dengan kalimat yang kurang ajar.

"Iya, bersyukurnya cuma di momen itu aja kan? Sisanya?"

Saya hanya bisa manyun atau mengalihkan topik pembicaraan.

Ah, cantik. Mengapa pula wanita harus cantik? Harus menarik? Harus begini harus begitu.

Terimakasih Tuhan, Kau sudah paparkan dengan jelas nyatanya cantik tak begitu penting di matamu. Tapi, bagaimana caranya agar tak ingin jadi cantik? Karena nyatanya tak semua gadis cantik bernasib baik. Bilapun baik, hanya baik didepannya saja dan pahit diakhir ceritanya.



Ciparay, 06 Juni 2015

You Might Also Like

0 komentar: