Kesatuan

July 21, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Bersatu. Itulah yang sulit dilakukan oleh manusia di daerah multietnik, termasuk Afghanistan. Etnik Pashtun, Hazara dan etnik lainnya masih menganggap diri mereka lebih baik daripada etnik lainnya. Semua manusia tak ingin direndahkan tapi dengan mudah merendahkan orang lain. Primordialisme menjadi penyebab dasar adanya perpecahan dan sulit bangkitnya manusia Afghanistan dari keterpurukan pasca perang. Tak peduli berapa negara dan organisasi asing yang membantu, mereka tak pernah bisa benar-benar bangkit dan bersatu. Etnik Pashtun menganggap dirinya menjadi manusia terbaik dan suku yang paling pantas menjadi pemimpin. Etnik lainnya muak dengan para pemimpin dari Pashtun. Etnik Tajik, Kirghiz dan etnik-etnik lainnya kesal tiada dua. Ekspresi kekecewaan ini diekspresikan melalui keengganan etnik tertentu berbicara bahasa etnik lainnya. Enggan berbahasa Dari, berbahasa Pashto dan bahasa lainnya.

Sumber: deafitsa.blogspot.com


Begitulah cuplikan deskripsi Agustinus Wibowo yang saya tangkap dari novelnya Selimut Debu. 

Sungguh, apa jadinya Indonesia bila tidak ada Gadjah Mada yang bertekad menyatukan Nusantara? Apa jadinya bila semangat ke-Indonesia-an tidak diserukan oleh para pejuang dan pemikir di masa lalu? Apa jadinya bila bahasa Indonesia tidak dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa? Akankah bahasa Jawa masih mendominasi bumi nusantara ini? 

Saya teringat pada banyaknya konflik yang terjadi dikarenakan perbedaan suku maupun perbedaan lainnya. Konflik Dayak dan Madura, Jawa dan Sunda, Cina dan pribumi. Ah, banyak sekali bahan perbedaan dan perpecahan di Indonesia. Saya baru benar-benar sadar bahwa kata 'Kesatuan' dalam nama negara ini benar-benar membantu bersatunya beragam perbedaan yang ada. Saya bukan pendukung berdirinya kekhalifahan di Indonesia. Menurut saya, menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia saja sudah menunjukkan betapa Islam rohmatan lil'alamin. Islam yang sangat menghargai perbedaan. Islam yang tidak arogan. Islam yang membuat orang-orang nyaman di dalamnya. Islam yang mewadahi keragaman nusantara. Karena -menurut saya- menjadikan negara ini sebagai negara Islam bukanlah satu-satunya cara untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Lain lubuk lain ilalang lain kolam lain ikannya.

Sumber: aswajamuda.com


Melumat kata demi kata dalam Selimut Debu membuat saya merasa benar-benar ada duplikat kehidupan di belahan dunia sana. Di Afghanistan sana ada warga lembah Wakhan yang mendambakan dan membanggakan Tajikistan sebagai negera impian. Ada pula yang menjadikan Peshawar, Pakistan menjadi tempat tujuan. Pun ada manusia yang ingin menjadikan Iran sebagai tanah impian. Meskipun mereka tahu,, tak pernah ada negara yang benar-benar sudi menerima warga negara asing sebagai pengungsi dengan jumlah yang begitu banyak. Walau mereka dicemooh karena menjadi seorang Afghani, mereka tetap memutuskan pergi dari negeri debu kelahirannya. 

sumber: bukupedia.com


Saya merasa melihat ada irisan Indonesia disana. Dimana tak jarang para manusia perbatasan mendambakan negara tetangga sebagai tanah impiannya. Mendambakan kemerdekaan yang diharapkan menjadi titik tolak kemajuan peradaban manusia yang ada disana. Mendambakan keterlepasan dari pemerintah pusat yang kikir dan abai tiada dua. Walaupun mereka juga tak pernah tahu, apa yang akan mereka hadapi setelah terlepas dari Indonesia. Penjajahan babak dua atau kesejahteraan tiada dua. 

Irisan inferioritas dan superioritas pula terasa di dalam buku ini. Masyarakat Afghanistan yang dianggap rendah dan hina oleh manusia-manusia di negara tetangga ini membuat saya teringat pada para tenaga kerja Indonesia yang tak habis-habis kasusnya. Mulai dari dipancung, dilecehkan bahkan disiksa. Mereka rela merendahkan diri di negeri seberang demi sekumpulan ringgit, riyal bahkan dollar singapur.

Agustinus Wibowo membawa saya berkhayal menyeberangi lautan dan luasnya padang pasir di negara Asia Tengah sana. Tempat dimana beragam kisah kehidupan ada proyeksinya. Tempat dimana saya bisa mengerti kesatuan Indonesia adalah sesuatu yang perlu disyukuri dan dijaga sampai mati. Tak ada yang menyenangkan dari perpecahan. Tak ada yang membahagiakan dari pecahnya peperangan. Masihkah kita perlu mendebatkan dan berkumpul dalam kubu-kubu yang menjadi penyebab perpecahan?

Bandung, 21 Juli 2015

You Might Also Like

0 komentar: