PASPOR SI KIKI : BERTEMU HAGIA SOPHIA PART II

January 24, 2016 Qeeya Aulia 0 Comments

Omar menjelaskan tentang tanda salib yang seharusnya ada di pintu tapi dikikis sehingga terlihat menjadi seperti garis panjang saja. Ini menunjukkan betapa kaum muslimin saat itu sangat toleran karena kalau mereka mau, mereka bisa mengganti pintu tersebut. Kami juga diberi penjelasan tentang gambar-gambar malaikat, maria, yesus, dll yang ditutup kain atau kaca putih saat Hagia Sophia menjadi masjid. Gambar-gambar tersebut tidak dimusnahkan sebagai bentuk penghormatan terhadap umar Kristen saat itu. Ironisnya, langit-langit Hagia Sophia yang memang berlapiskan emas itu sudah sedikit terkelupas catnya karena sempat dijarah oleh manusia yang tidak bertanggungjawab. Disana juga terdapat banyak pamflet yang sangat informatif tentang kondisi Hagia Sophia pada awalnya dan sejarah yang berkaitan dengannya.

Saat kami diajak masuk kedalam, kami diperlihatkan lekukan di depan pintu gerbang. Lekukan tersebut disebabkan oleh prajurit yang selalu berdiri sigap disana dan membuat tanah yang mereka pijak menjadi lekukan.

Di dalam Hagia Shopia, kami dibuat terkagum-kagum lagi. Meskipun sering melihat dari liputan televisi, tapi rasa takjub melihat seluruh desain interior dalam Hagia Sophia membuat saya tetap mengaga. Keren pisan!

Tulisan Allah, Muhammad, nama-nama khalifah dan cucu nabi Muhammad terpampang jelas disetiap sudut Hagia Sophia. Lukisan Maria dan Jesus yang tadinya ditutupi kain putih terlihat jelas diantar tulisan Allah dan Muhammad. Menurut Omar, waktu pengerjaan Hagia Sophia memakan waktu hingga 5 tahun lamanya dan dome alias kubah Hagia Sophia itu diimpor dari Romawi. Karena sang Kaisar Romawi ingin bangunannya cepat selesai sebelum ia meninggal dunia, maka pembangunan Hagia Sophia bak sopir metro mini di Jakarta, alias dikejar setoran. Kubah Hagia Sophia berkali-kali rubuh karena pemasangan yang terburu-buru. Oleh karena itulah terdapat gambar 2 malaikat yang katanya untuk menjaga kubah Hagia Sophia.

Padahal saya pikir proses pembangunannya memakan waktu hingga 50 tahun loh saking kerennya. Ternyata cuma 5 tahun!

Masih menurut Omar, katanya semua masjid yang ada di Turki mencontek desain Hagia Sophia. Karena ingin menandingi keagungan Hagia Sophia, maka Kesultanan Utsmaniyyah membangun Blue Mosque dekat dengan Hagia Sophia. Tapi nyatanya keindahan Blue Mosque tidak dapat mengurangi keindahan Hagia Sophia. Selain itu, kubah di Hagia Sophia katanya tidak sama sekali berhubungan dengan Islam karena bangunan ini dibangung 40 tahun (eh atau 14 tahun ya?) sebelum kelahiran nabi Muhammad Saw (saya lupa tepatnya). Saya belum cek sih apakah opini tersebut betul atau tidak, menurut saya sih kedua bangunan itu ruar biasa!

Ternyata di dalam Hagia Sophia juga terdapat perpustakaan Sang Sultan Ahmet, selain itu juga ada mimbar yang digunakan imam untuk memimpin sholat di tempat tersebut. Ada juga tempat wudhu yang ada di bagian belakang bangunan ini. Setelah foto sana sini di lantai 1 Hagia Sophia, kami memutuskan untuk naik ke lantai 2. Ternyata tidak ada tangga menuju lantai 2 melainkan jalan menanjak sebagai pengganti tangga. Saya pernah menemukan ‘tangga’ semacam ini di salah satu mall di Jakarta. Tapi kok kepikiran ya aristeknya! Padahal internet juga belum ada pastinya!

Nah, sesampainya di lantai 2, ternyata foto selfie lebih valuable disini karena pemandangan lantai 1 tak kalah indahnya. Saya juga ikut-ikutan selfie demi mengabadikan pengalaman mengunjungi Hagia Sophia. Di lantai dua ini juga terdapat semacam pameran barang-barang antik dan juga kedai oleh-oleh khas Hagia Sophia. Lapak jualan seperti itu juga saya temukan di beberapa titik di Hagia Sophia. Harga barang di dalam museum cenderung lebih mahal ya.

Sampai ke lantai 1, kami melihat sebuah tiang yang bolong dan seorang bapak sedang mengusapkan jempolnya ke sekitar lubang di tiang tersebut. Kabarnya, siapa yang melakukan hal tersebut keinginannya akan terkabul. Karena saya tidak mau terjebak syirik, saya mah berdoa saja ke Allah Swt yang gak perlu diusap-usap sampai berlubang dan termasuk tindakan vandalisme seperti itu.

Ternyata hanya saya, Pak Ari dan Pak Zul yang terlambat datang berkumpul dengan peserta tur lainnya. Mereka membuat tebak-tebakan dimanakah kota Douala berada dan dari manakah asal kami semua. Karena saking lamanya menunggu, saat kami keluar mereka langsung terlihat lega dan bertanya, “Douala itu dimana ya? Kalian asalnya darimana?”

Saat kami jawab, “Douala itu di Kamerun dan kami dari Indonesia dan Malaysia.”

“Ooooo....”

“Mari kita lanjutkan turnya,” sahut Omar menutup tebak-tebakan siang itu.

Lalu kami berjalan menuju tempat dimana patung kepala Medusa berada...


Bandung, 24 Januari 2015

You Might Also Like

0 komentar: