TAK KASATMATA

May 06, 2016 Qeeya Aulia 0 Comments

Adanya kursi kayu yang tersebar di pusat kota Bandung sangat membuat saya senang. Saya bisa duduk bersama teman tanpa bicara dan asyik mengamati perilaku orang-orang yang ada di sekitar. Semua orang hidup dalam dunia dan pikirannya masing-masing. Ada yang sibuk berfoto di monumen bola dunia dengan nama-nama negara Asia Afrika disaat orang lain kepanasan dalam balutan kostum badut beragam rupa. Ada yang sibuk berbincang dengan mesra disaat orang lain memilih saling diam karena pertengkaran kecil semata. Semua orang sibuk dengan dirinya, membuat kami (saya dan teman) merasa bahwa kami adalah makhluk tembus pandang. Tak ada yang benar-benar sadar kami berada disana kecuali diri kami sendiri. Menarik.  

Akhir-akhir ini banyak cerita menarik mampir di telinga saya. Banyak kejadian yang terjadi di satu ruangan yang sama dengan pelaku dan cerita yang berbeda-beda. Beberapa cerita mirip satu sama lainnya, meskipun setengahnya berakhir dengan muram durja dan setengah yang lain berakhir bahagia. Beberapa pelaku saling terkait, tanpa sadar mereka saling terkait. Setiap orang sibuk dengan diri dan urusan mereka sendiri, menganggap manusia lain sebagai tokoh pendukung dan cerita mereka tak kasatmata. 

sumber : ini

Menurut saya, menjadi pengamat rasanya lebih menyenangkan daripada pelaku. Mereka bisa melihat masalah tanpa terlibat masalah. Mereka bisa melihat walau mereka tak terlihat. Karena seringnya kita berada dalam satu ruang yang semua orang di dalamnya abai terhadap orang lain. Mereka abai pada orang-orang yang tak terlibat dalam urusan mereka. 

Jika ada 100 orang dalam satu ruangan, maka akan ada 100 pelaku dengan masing-masing cerita yang mereka bawa. Terkait atau tidaknya 100 cerita ini tak pernah bisa diprediksi dan bisa saja menjadi misteri yang terkuak di kemudian hari. 

Saya dan teman mengambil nafas panjang. Menandai ritual aneh kami selesai dilakukan. Kami saling melempar senyum dan bangkit dari duduk. Waktunya kami sibuk dengan diri dan urusan kami sendiri. Waktunya mengabaikan orang lain yang tak berurusan secara langsung dengan kami. Waktunya menggeser posisi mereka dari 'makhluk kasatmata' menjadi 'tak kasatmata'.


Bandung, 6 Mei 2016

You Might Also Like

0 komentar: