Saturday, June 18, 2016

Saat Semua Menghilang

Ia datang ketika hujan mereda. Ia menjejak saat permukaan tanah basah. Menyentuh dedaunan yang disapa rintik air sapaan khas langit. Kedatangannya disambut oleh perginya mendung dari langit yang menjadi atap bumi. Langkahnya terus maju dan tak ada satupun yang bisa membuatnya mundur sedikitpun. Semakin depan, semakin cepat, semakin lebar langkah yang ia ambil. Membuat semesta terheran-heran karena tipisnya durasi yang dihabiskan untuk berjalan.

Manusia itu tersenyum. Menyambut tempat ia dilahirkan. Menyapa tempat ia ditinggalkan orang-orang tersayang. Tempat dimana ia pernah ingin pergi saja tanpa bilang-bilang. Rumah.

Ia menutup mata. Membayangkan ramainya bangunan yang disebut rumah dengan para penghuninya. Membayangkan  kesedihan yang tak berkesudahan sebelum pemahaman dan kerelaan datang. Ada air mata di ujung matanya. Membuat seluruh ketegaran yang ia bangun bisa runtuh seketika. Namun ia menarik nafas panjang. Ia tahu, semua pertemuan pasti berakhir. Mungkin manusia memang sengaja diciptakan untuk harus selalu menerima perpisahan. Sesakit apapun itu.

Saat semuanya telah tiada. Ia benar-benar paham bahwa dirinya tak memiliki apa-apa. Bahwa semua yang ia benci atau senangi memang selalu akan terjadi. Kerapuhan, keterpurukan, penyesalan, bahkan kebahagiaan memang harus dilaluinya. Dengan atau tanpa izinnya, semua itu akan terjadi kemudian berlalu dan menetap sebagai kenangan. 

Tak ada kenangan pahit, yang ada adalah kenangan yang belum bisa diterima. Tak ada kenangan indah, yang ada adalah kenangan yang sesuai dengan harapan kita. 

Manusia itu kembali mengambil nafas panjang. Ia melihat ke samping, dimana ada manusia lain yang sejak kedatangannya berada disisinya, menggenggam jemarinya erat. Seakan memberi berbicara, "kamu kuat dan semuanya baik-baik saja."

Ia sadar, sosok menyenangkan itupun pasti akan menghilang dari hidupnya suatu saat nanti. Atau mungkin sebaliknya. Ia yang lebih dulu menghilang. Tak pernah ada yang tahu. Tugas manusia bukan menentukan masa depan. Tak ada yang menarik lagi dari hidup jika kita tahu apa peruntungan dan kesialan kita esok hari. 

Saat masa itu datang, saat dimana orang-orang tersayang hilang, tak ada yang bisa kita lakukan selain menerima dan menyadari bahwa kita tak memiliki apa-apa. Bahwa kita hanya menikmati hidup yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma. Bahwa semua hal di dunia ini hanya sementara. Bahwa semua orang sedang mendalami perannya dan meyakinkan diri mereka bahwa mereka akan hidup selama-lamanya. 


Bandung, 12 Juni 2015
Sambil mendengar sederet lagu indie yang kaya dengan kata indah

0 comments:

Total Pageviews

Blog Archive

Search This Blog

Powered by Blogger.

Quote

Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)