Jabat Tangan

October 13, 2016 Qeeya Aulia 0 Comments


"Ki, lo tau gak jabat tangan bisa bermakna apa saja?" tanya temanku di sela-sela obrolan grup yang gak masuk akal.

"Jabat tangan ya? Emm. Tanda sepakat. Tanda dimulai sesuatu. Tanda berakhirnya sesuatu. Tanda diterimanya sesuatu. Apalagi ya? Emm."

"Lo kalau suka sama orang jabat tangan dulu gak? Terus kalau kelar sukanya gara-gara satu dan lain hal jabat tangan gak?" tanyanya iseng.

"Yakali..."



"Gue gak sangka ternyata jabat tangan masih jadi pertimbangan seseorang dapat pekerjaan atau tidak. Kemarin di kantor gue ada interview untuk posisi MT dan lo tau apa yang jadi salah satu pertimbangan user terima kandidat atau tidak?"

"Jabat tangan?" kataku menerka. 

"Bener. Hahahaha."

"Oh ya? Maksudnya gimana sih?" tanyaku. 

"Usernya bilang sama gue: saya pilih X daripada Z. Z cuma bilang kalau dia hands on ini hands on itu tapi jabat tangannya aja lemes kayak gitu. Hands on apanya."

"Serius? Gara-gara itu doang?" aku masih tidak percaya.

"Ya itu salah satu sebab aja sih. Namanya user kan inginnya dapat orang yang kompeten dan dapat chemistrynya."

"Iya juga sih. Tapi gue sering ketemu orang yang oke, penggerak komunitas yang anggotanya mungkin ratusan dan tersebar di seluruh Indonesia (beberapa ada yang di dunia) dan jabat tangannya lembut. Gak kayak gue yang kalau jabat tangan semangat banget bawaannya. Hahaha," kataku.

"Iya juga, tapi bos HR regional gue kalau jabat tangan bikin tangan orang sakit dan orangnya memang sistematis, passionate, dan penuh ide perbaikan berkelanjutan alias continues improvement," sanggahnya. 

"Wah, mungkin gue titisan bos lo," ujarku asal.

"Iya kali." sahut temanku asal.

You Might Also Like

0 komentar: