Profit First, Safety Later

October 06, 2016 Qeeya Aulia 0 Comments


Ceritanya hari ini saya mengikuti training Behavior Based Safety (BBS) yang diadakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Training ini menghadirkan Direktur konsultan safety yang menjadi partner perusahaan dalam implementasi budaya keselamatan sebagai pematerinya. Menarik, bukan? Direktur konsultan langsung hadir memberikan materi training. Beliau berkata bahwa Safety First adalah slogan yang hanya menjadi sebuah slogan, karena masalah keselamatan, kesehatan, dll adalah hal-hal yang menunjang bisnis, bukan proses utama sebuah bisnis. Benar juga, pikir saya. Keselamatan kerja menjadi perhatian perusahaan jika profit perusahaan sudah didapatkan dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Beliau membawakan materi dengan santai, tenang, tidak serius tapi bisa tepat sasaran. Saya suka! Suka cara pembawaan dan penyampaian materinya. 

Kembali ke materi training BBS tadi. Program keselamatan kerja memang tidak untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Ya, betul. PROGRAM KESELAMATAN KERJA BUKAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS. Karena tanpa program ini pun karyawan akan tetap bekerja 40 jam kerja (atau lebih jika ada lembur). Karena tanpa program ini pun hasil produksi bisa meningkat, tinggal ditambah mesin, orang, dll. Tapi dengan program keselamatan kerja, perusahaan bisa mencegah berkurangnya produktivitas karyawan. Perusahaan juga bisa mencegah kerugian-kerugian yang lebih besar jika tidak ada program tersebut, salah satunya kehilangan kontrak ataupun pelanggan. 



Ada 2 teori yang berkaitan dengan kecelakaan kerja, yaitu teori domino dan teori swiss cheese. Teori domino menyatakan bahwa untuk terjadinya sebuah kecelakaan kerja, ada sistem keselamatan kerja yang harus dibangun. Sedangkan teori Swiss Cheese menyatakan bahwa terjadinya kecelakaan kerja dikarenakan ada pembatas-pembatas yang tidak bisa mencegah terjadinya kecelakaan. 

Yang lebih menarik adalah teori pendekatan manusia yang terkait dengan keselamatan kerja. Teori ini tidak akan saya ceritakan sekarang karena saya juga lupa. Hahahahaha. 

Seperti halnya budaya pada umumnya, budaya diawali dari nilai yang dianut bersama dan diwujudkan dalam perilaku yang berulang kemudian nantinya akan menjadi kebiasaan berjamaah. Kebiasaan berjamaah ini punya pakem-pakem tertentu yang disebut norma. Jika seseorang bertindak diluar kebiasaan berjamaah, ia akan dianggap konyol, aneh, dll. Dampaknya, ybs akan disisihkan, dikucilkan, dimarginalkan, dll. Jika kebiasaan berjamaah di perusahaan adalah bertindak sesuai dengan prosedur keselamatan dan tidak segan saling mengingatkan satu sama lain tentang keselamatan kerja, maka orang yang tidak bertindak sesuai prosedur keselamatan akan dianggap aneh, dikucilkan, dimarginalkan, dll. Yang pada akhirnya, hanya ada 2 pilihan, tetap berada di perusahaan dengan mengikuti kebiasaan tersebut, atau hengkang dan cari kerja lagi. 

Profit first, safety later. High margin, first, safety later. Production first, safety later. Married first, loving later *hayah akhirnya tetep ya keluar juga wkwkwkw*

Prosedur keselamatan kerja juga terkadang harus dilabrak karena satu dan lain hal terutama hal-hal yang berkaitan dengan outcome, throughput, etc, etc. Bagaimana jika hal demikian terjadi? Biasanya perusahaan akan menurunkan kadar prosedur tersebut. Pemateri kami menyontohkan kondisi mesin stuck karena alasan teknis. Engineer bisa memutuskan untuk menonaktifkan fitur otomatisasi pada mesin agar produksi tetap berjalan, namun engineer harus memberikan tanda yang jelas agar semua orang yang ada atau melihat mesin tersebut sadar bahwa mesin sedang tidak berfungsi dengan normal dan dalam tahap perbaikan. Ini yang namanya, safety first, production number one. Hahahahaha. 

Intinya hari ini saya senang sekali karena mendapatkan ilmu baru dengan hal-hal yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Training tentang keselamatan kerja memang dilakukan setiap tahun, tapi materi hari ini memberikan perspektif baru untuk saya pribadi. Jadi tidak sabar menunggu hari besok untuk training hari kedua! Saya mah ikhlas da walaupun dibully di ruangan gegara banyak hal selama training. Da aku mah apa atuh, yang penting belajar. Titik. 


You Might Also Like

0 komentar: