Bahasa Akar Rumput

November 16, 2016 Qeeya Aulia 0 Comments


Hari ini ada seminar singkat tentang bagaimana meningkatkan produktivitas karyawan dan profitabilitas perusahaan dalam satu waktu. Pembicaranya adalah seorang trainer yang katanya terpilih sebagai trainer terbaik dalam konferensi entrepreneurship internasional di Hongkong. Cara beliau menyampaikan materi cenderung unik karena biasanya para trainer terlalu banyak gimmick, games, dll yang membuat saya sebagai peserta terlalu lelah untuk fokus ke materi inti karena terlalu senang bermain games. Masa kecil kurang piknik kayaknya. Hahaha. 

Pemateri menjelaskan betapa pentingnya menjadikan Learning & Growth-nya karyawan sebagai akar sebuah perusahaan. Karena dengan learning & growth yang baik, maka karyawan akan memberikan performa optimal mereka kepada perusahaan yang mengakibatkan tingginya kualitas maupun profitabilitas perusahaan. 

Beliau memberikan banyak contoh tentang perusahaan yang sukses melakukan perubahan dari hanya sekedar Good Company menjadi Excellent Company. Maksud dari Excellent Company ini adalah situasi dimana target produksi melampaui target namun tidak ada yang stress dengan target tersebut. Para leader biasanya berfokus pada sistem dan membuat banyak standar untuk meningkatkan kualitas tanpa memperhatikan sekumpulan orang yang menjadi penggerak utama bisnis mereka, yaitu para karyawannya. Mereka juga seringnya lupa kalau kebanyakan pekerja adalah para blue collar, alias buruh pabrik. Buruh pabrik yang masih tak mengerti urgensi kolaborasi, mereka yang tak mau tahu mengapa mereka harus ikut pusing dengan kondisi perusahaan, toh gaji mereka masih UMK UMK saja, tidak seperti para atasan yang pendapatannya beberapa kali lipat dari gaji mereka.

Lalu bagaimana caranya agar para blue collar ini paham tentang pentingnya meningkatkan profibilitas perusahaan?

Menurut pemateri yang mengajar saya, caranya menyampaikan apa yang perusahaan inginkan kepada mereka dan menyederhanakannya dengan bahasa akar rumput, grassroots language. 

Di awal sesi training sang trainer menunjukkan banyak cara kreatif untuk mengkampanyekan bahasa akar rumput tersebut. Awalnya saya risih dan berpikir, "apaan sih? Perlu banget ya teriak-teriak 'kami bisa! PT.XXX nomor 1! Target 1 trilliun enteng! ENTENG!' emang ngaruh ya sama produksi?? Emang bisa meningkat dengan cara itu?"

Saya lupa modifikasi perilaku bisa dilakukan dengan cara apapun. 



Pak Trainer bercerita, salah satu pemimpin anak perusahaan sebuah grup besar di Indonesia mengatakan kalimat ini saat memberikan sambutan sebelum program ini dimulai:

"Saya tidak peduli para kompetitor mengambil mesin-mesin saya, database saya, bahkan mengambil pabrik saya. Tapi jangan lakukan satu hal kepada saya, mengambil karyawan saya. Karyawan perusahaan inilah yang bisa membuat perusahaan ini ada hingga saat ini. Mereka orang-orang yang paling berharga di perusahaan ini."

Konon, semua mbok-mbok (perusahaan ini kabarnya masih mempekerjakan lulusan SD), bahkan tukang sapu di perusahaan tersebut ikut serta dengan senang hati dalam program peningkatan kinerja dan profitabilitas tersebut.

Ada lagi cerita lain tentang bahasa akar rumput. Pak Trainer bercerita bahwa ia sampai kehabisan ide untuk mengubah kondisi pabrik cat yang luar biasa berantakannya. Tempat yang berantakan ini seringkali dijadikan sebagai transit barang-barang curian dari dalam perusahaan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Hingga akhirnya ia terpikir satu ide yang menurut saya unik-unik-lucu. 

Pak Trainer membuat spanduk besar dengan tulisan yang kurang lebih seperti ini: "Segeralah bertaubat karena tempat ini tidak bersih dan mencerminkan orang-orang didalamnya kurang beriman" pada tempat-tempat yang dianggap tidak rapi. Selang 3 hari dari pemasangan spanduk, pihak perusahaan mengirimkan surat kepada istri pekerja yang bekerja di area tidak rapi tersebut lengkap dengan foto lokasi kerja dan tulisan "Tolong bantu untuk mendorong suami anda melakukan sholat tahajjud lebih banyak lagi agar imannya lebih bertambah." Dampaknya? Kurang dari seminggu setelah peringatan unik tersebut diberikan, tempat yang tidak rapi sudah rapi jali lagi. Hahaha. Ada-ada saja idenya. Ini mungkin terdengar SARA dan kurang enak bagi saya, tapi peringatan ini beliau lakukan berdasarkan hasil observasi lapangan dan ternyata cocok dengan keadaan disana. 

Bahasa akar rumput, saat semua orang punya bahasa yang berbeda. 


Bandung, 16 November 2016

You Might Also Like

0 komentar: