Things That Will Make Me Happy

January 05, 2017 Qeeya Aulia 0 Comments


Suatu hari ada yang meminta untuk menuliskan hal-hal yang bisa membuat saya senang. Saya rada bingung sih dengan permintaan itu karena saya gampang senang. Senang saat  dapat diskon, senang saat dapat gratisan dan senang saat diberitahu gaji naik. Hahaha.

Sebenarnya enggak juga sih. Jadi ceritanya dulu saya sering terlalu mudah senang lalu terlalu sedih setelahnya. Hal-hal itu membuat saya tidak mudah memberi label apa saja yang membuat saya senang. Kalau perasaan yang sebaliknya (sedih) itu saya dapat dengan mudah menulisnya. Melankolis banget kan gue. Mungkin kalau dimirip-miripin dengan karakter di kartun Winnie The Pooh, saya adalah si Eeyore. Googling aja lah kalau mau lebih tahu  seperti apa sih si Eeyore ini. Tapi cassingnya saya rada beda sama si Eeyore karena memang sudah dilahirkan rempong seperti ini. 

Kembali kepada hal yang membuat saya senang. Setelah dipikir-pikir, berikut 5 hal yang membuat saya senang: 

Liburan

Muka saya terdeteksi orang yang haus piknik gak? #pertanyaanabsurd 

Saya gak akan pernah nolak liburan kalau itu direncanakan jauh-jauh hari (untuk yang butuh nginep dan budget lebih dari 200k). Tapi kalau yang gak butuh nginep, budget rendah dan tidak perlu cuti mah saya siap diajak kemana juga. Dulu saking seringnya saya main diawal-awal kerja, saya sampai dijulukin "tukang ulin" sama Pak Dadang (salah satu HR di kantor). Padahal mainnya cuma ke lapangan rumput sintesis depan Masjid Agung Bandung, ke taman Balai Kota, ke Gram*dia, makan di foodcourt, dll. Intinya saya suka main, apalagi piknik. Ke Turki aja gue jabaniiin apalagi di Indonesia doaaang. Seneng lah liburan mah!

Tiba-tiba

Saya senang dengan rencana, tapi kadang-kadang juga senang dengan spontanitas. Saya senang tiba-tiba dihubungi, tiba-tiba diajak bertemu, asal jangan tiba-tiba ada masalah lalu minta putus. Hahaha. #diajakputussiapajugaki #skip. Yang tiba-tiba itu seringnya gak wah malahan. Biasa aja. Tapi gak ada di rencana sebelumnya. Hal itu bikin saya senang karena di luar kebiasaan. 

Dulu pernah ngerasa seneng banget waktu teman ngajakin ketemuan tiba-tiba di taman Balai Kota Bandung. Pernah senang juga karena ibu tiba-tiba ngajak makan di Mak Umah, warung lotek yang gak jauh dari rumah. Sempat terharu juga saat ibu atau ayah SMS tanya udah makan atau belum padahal biasanya mah boro-boro, diinget ada anak nomer 1 yang jelek kayak gini juga Alhamdulillah. Wkwkwk. Ah ya, inget juga waktu Omah tiba-tiba datang nginep di kosan sambil ngasih blazer buat saya. Misalnya lagi saat tiba-tiba cinta datang kepadakuuu~ #malahnyanyi

Tidak dipaksa

Beberapa tahun ini saya terbiasa hidup dipercaya oleh orangtua saya. Padahal dulu saya sering diatur-atur. Mau sekolah SMP dimana, kuliah dimana, jurusan apa dan lain-lain. Lalu saya berontak. Setiap melakukan hal-hal yang diminta tanpa meminta pertimbangan saya itu membuat saya merasa buruk dan sedih. Jadi, saya tidak suka dengan larangan-larangan yang tiba-tiba atau arahan-arahan yang memaksa tanpa meminta pertimbangan saya. Setelah saya menyampaikan ketidaksetujuan saya, orangtua saya mulai melunak. Saya dibebaskan pulang jam berapa saja dan menginap di kosan teman karena saat itu mereka tahu saya aktif berorganisasi. Selain itu saya bukan tipe orang yang bisa nakal pacaran, jalan-jalan, ngabisin uang, dll. Saya mageran alias males gerak dan suka merasa bersalah kalau keluar rumah tapi hanya buang-buang uang saja dan buang-buang waktu tidur saya. Buang-buang waktu mah mendingan tidur aja. Buang-buang uang mah bisa lewat online shop tanpa harus panas-panasan dan debat harga #teubeneroge.

Source: link


Dijadikan prioritas

Menjadi anak pertama artinya rela untuk terkadang tidak dilirik kebutuhannya orangtua. Melakukan banyak hal sendirian sudah jadi makanan sehari-hari. Dari kecil kalau mau main pasti disuruh ajak salah satu adik atau bahkan semua adik. Bayangkan, saya punya 5 adik dan saya harus ngajak main mereka sepanjang tahun! Andai dulu saya bisa bilang, "Yah, Bu, aku tuh butuh me time!" #yakeles #digeplakyangada

Oleh karena itulah akan sangat senang sekali kalau ada yang menjadikan saya sebagai prioritas dan diekspresikan dengan baik. Saya senang ditanya kabar, diajak mengobrol dan berdiskusi. Menjadi orang pertama yang tahu beragam kesulitan, hambatan bahkan cerita menyenangkan yang dihadapi atau sekedar kejadian sehari-hari dan kejadian lucu di hari ini. Karena menurut saya, dijadikan prioritas itu bukan sekedar terpatri dalam hati dan hal-hal yang besar, tapi juga hal-hal kecil yang seperti saya sebutkan sebelumnya. 

Diterima dan didukung

Mendapatkan perasaan diterima dan didukung adalah harapan semua orang. Kamu pasti senang saat menemukan orang yang menerima ke-absurd-an dan semua keanehanmu. Dan cenderung menghindari orang-orang yang mengomentari dirimu secara negatif. Saya punya kecenderungan memiliki kebutuhan ini agak banyak dibandingkan orang lain. Suram banget masa lalu saya mah, kalau ada orang yang gak saya suka dan dia gak suka saya, saya tinggalin cepet-cepet. Saya terlalu mengedepankan kebutuhan memiliki mental yang sehat daripada memiliki banyak teman. Daripada saya habiskan waktu dengan perasaan negatif seperti minder, sebal, kesal, bahkan benci, lebih baik saya pergi menjauh dan merasakan ketentraman lagi. Parah. Tapi pemahaman bahwa tidak semua orang menerima sikap saya yang seperti itu dan saya juga tidak bisa bersikap seperti itu terus perlahan masuk ke otak saya yang bebal ini. 

Dulu saya bercita-cita untuk tidak tinggal di satu tempat saja. Saya ingin tinggal di banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang. Tujuannya sederhana, menghindari konflik dengan orang-orang sekitar saya jika saya memutuskan untuk menetap. Egois kan. Hahaha. 

Tapi ternyata berteman dekat dan memiliki jalinan hubungan romantis juga menyenangkan. Penerimaan dan dukungan dari orang lain seperti memberikan energi tambahan untuk saya. Dengan diterima dan didukung rasanya keegoisan saya bisa luruh sedikit demi sedikit. Karena katanya manusia akan lebih berbahagia bila ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan tidak sendirian. 

Ah ini gak nyambung banget sih isinya. Curcol semua. Bahasannya masa lalu-masa lalu aja. Gak produktif ya. Hahaha. Tapi setidaknya janji saya untuk menuliskan beberapa hal yang bisa membuat saya senang terpenuhi. Mungkin akan ada part 2 nya #kekfilmaja mungkin juga tidak. Kumaha engke weh alias gimana nanti. Saya harus bersemedi dulu untuk menuliskan kelanjutannya, mengingat mendapatkan 5 poin ini saja butuh waktu berminggu-minggu. Hahaha. 

Oh iya, ada satu hal lagi yang sangat membuat saya senang: dicintai dan mencintai. Ahiw, cinta. Bhay!



Bandung, 5 Januari 2017



You Might Also Like

0 komentar: