Langkah yang Sejajar

February 12, 2017 Qeeya Aulia 0 Comments



Dulu, saya sering kali merasa putus asa dalam berorganisasi. Saya rasa langkah saya sudah jelas dan semua orang bisa mengikutinya. Saya pikir semua tahapan rencana saya sudah dapat dimengerti sehingga tidak ada konflik tak penting yang mungkin terjadi. Saya kira semua orang disana punya tujuan dan pemikiran yang sama dengan saya. Namun hasilnya selalu sama. Saya kecewa.

Lebih dari 12 bulan merasakan tekanan (bagi saya itu tekanan) seperti itu di beberapa organisasi dalam kurun waktu yang bersamaan membuat prinsip dan targetan saya yang kaku berubah. Saya baru sadar bahwa tidak semua yang saya percaya bisa dengan mudah percaya pada saya. Saya baru tahu beberapa tindakan saya seringnya membuat mereka tak nyaman dan cenderung ogah-ogahan. Saya baru merasa bahwa saya terlalu banyak menuntut. Lalu singkat cerita sejak itu saya berusaha tak menuntut atau terkesan tidak menuntut kepada orang lain. Ini membuat kemampuan mendelegasikan tugas saya kacau. Emosi saya lebih banyak ikut campur dalam mengambil keputusan. Saya tidak puas dengan tindakan saya karena kelakuan konyol saya sendiri. Kemudian saya kecewa. Pada akhirnya selalu saya yang kecewa karena terlalu banyak menginginkan banyak hal yang melibatkan orang lain dalam mencapainya.

"Sejajarkan langkah kalian, Ki."

Nasihat sederhana yang masih terngiang sampai sekarang. Tapi lagi-lagi tak bisa saya aplikasikan. Entah karena saya yang bodoh atau saya terlalu cepat dan berjalan tak beraturan.

Membuat langkah sejajar mungkin mudah bagi mereka yang biasa berbicara dengan lancar apa yang mereka inginkan. Tapi tidak bagi saya. Walaupun terlihat terbuka dan cenderung blak-blak-an, untuk urusan keinginan saya terbiasa memendam dalam-dalam. Seringnya menerima penolakan adalah alasannya. Sialnya, pada akhirnya lagi-lagi saya yang kecewa.

Tapi ternyata upaya menyejajarkan langkah tidak selalu buruk. Pengurus di organisasi itu cukup kompak (subjektifnya saya) dan saling terikat satu sama lain. Kedekatan kami sudah lintas angkatan bahkan bila bercanda cenderung kurang ajar. Meski dengan sejajarnya langkah banyak hal yang harus saya tekan dan itu membuat tidak nyaman.

Menyejajarkan langkah untuk orang yang baru kenal atau hanya dekat sepintas cenderung mudah. Tapi bagi mereka yang akan bersinggungan cukup lama dalam kehidupan saya itu agak menakutkan. Menakutkan karena pada akhirnya saya takut ditolak, diabaikan atau bahkan ditinggalkan.

Langkah yang sejajar bagi saya adalah hal yang benar-benar perlu diupayakan dengan penuh kesungguhan.

You Might Also Like

0 komentar: