APA YANG SALAH DENGAN ‘UNIVERSITAS ISLAM NEGERI’?

January 26, 2011 Qeeya Aulia 0 Comments

Universitas Islam Negeri atau biasa disebut UIN yang dulunya berawal dari IAIN (Institut Agama Islam Negeri) sering dipandang sebelah mata oleh para civitas akademika di negeri ini. Entah karena banyak tambahan mata kuliah ilmu agama yang membuat universitas ini kurang terlihat “menarik”, atau mungkin karena tidak ada bursa kerja bagi para alumninya. Entahlah….saya tak tahu pastinya. Karena setiap orang pasti mempunyai pemikiran yang berbeda satu sama lain.

“Biarlah Universitas Islam juga, yang penting negeri!” begitu jawaban salah seorang teman ketika kutanya alasannya masuk universitas ini. Stempel ‘Islam’ yang sebenarnya dijadikan nilai plus dari perguruan tinggi ini terkadang disalahartikan oleh sebagian kalangan. Sebagian dari mereka menilai bahwa universitas Islam pasti tidak jauh dari kekentalan nilai ke-Islaman yang jauh dari kesan ‘modern’. Padahal sebenarnya tidak seperti yang mereka bayangkan. Institusi pendidikan Islam bukan berarti hanya membahas apa yang ada kaitannya dengan syariah Islam ataupun nilai-nilai Islam yang dikaji secara mentah. Kajian Islam bukan hanya membahas tentang nilai-nilai kolot yang sudah tidak selaras dengan perkembangan zaman, karena Islam sendiri adalah agama yang tak lekang oleh waktu, tak bisa habis dibahas dalam satu abad. Islam adalah agama yang kaya dan memasuki semua lini kehidupan manusia, entah disadari ataupun tidak, setiap detik kehidupan yang dilalui setiap orang telah dibahas oleh Islam secara gamblang dan jauh dari kesan “ketinggalan zaman”. Lagipula bukankah tugas kita mempelajari dan memperdalam agama kita? Jadi, anggapan Universitas Islam itu kolot dan tidak modern adalah anggapan yang salah besar.

Gelar “Universitas Negeri” sepertinya cukup menarik perhatian dan minat sebagian orang. Biaya yang tidak terlalu mahal (bahkan untuk sebagian kalangan dianggap murah sekali) juga menjadi daya tarik utama universitas ini. Tapi perlu diketahui, bahwa banyak dari tokoh-tokoh sukses lahir dari universitas ini. Gelar universitas negeri dan biaya yang murah tidak bisa dijadikan tolak ukur bahwa orang – orang didalamnya hanya orang – orang murahan.

Jadi apa yang salah dari Universitas Islam Negeri sehingga dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan? Disinilah pembahasan kita.

Banyak yang menyangka bahwa untuk lolos ujian masuk universitas ini adalah hal yang sangat mudah. Hal itu membuat para calon mahasiswanya mengaggap enteng ujian masuk universitas ini. Padahal sejatinya tidak demikian. Banyak orang-orang nomor satu di beberapa Sekolah Menengah Atas yang tidak lolos pada ujian penerimaan mahasiswa baru setiap tahunnya.

“Sekolah di sekolahan yang murah boleh, tapi jangan yang terlalu murah.” ujar salah seorang paman ketika saya mengutarakan niat saya untuk masuk UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Memang benar biaya yang dikeluarkan mahasiswa untuk setiap semesternya tergolong sangat murah dan jauh lebih murah daripada perguruan tinggi negeri lainnya. Dan ternyata hal itu pula yang membuat orang lain kurang mempercayai kualitas para dosen dan mahasiswanya.

Tapi apa jadinya bila biaya tiap semester yang dibebankan pada mahasiswa dinaikkan
atau disetarakan dengan universitas negeri lainnya? Mungkin akan semakin banyak anak negeri yang tidak bisa mengecap pendidikan setinggi – tingginya. Jadi, secara tidak langsung UIN adalah salah satu paru-paru bantuan untuk mereka yang haus akan ilmu tapi tidak memiliki biaya yang lebih dari cukup untuk merealisasikan impian mereka.

Peran setiap mahasiswa yang bernaung di bawah suatu perguruan tinggi sangat membantu pembentukan paradigma orang lain dalam memandang perguruan tinggi tersebut. Setidaknya yang saya ketahui lebih dari seperempat mahasiswa dan mahasiswi perguruan tinggi ini menganggap rendah diri mereka sendiri dan institusi tempat mereka menimba ilmu.

Sikap rendah diri ini pernah saya alami pada awal perkuliahan yang saya lalui. Saya menganggap semua orang bisa masuk dan berkuliah di universitas ini. Ironisnya, dulu saya dengan sesumbar pernah mengatakan “Kamu beneran mau kuliah di UIN? Gak ada perguruan lain ya?” saat teman saya mengatakan bahwa ia sangat ingin kuliah di UIN. Bagai senjata makan tuan, saya hanya bisa pasrah saat orang tua saya memaksa saya untuk melanjutkan sekolah di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Tak tanggung-tanggung, orang tua saya mengancam untuk tidak menyekolahkan saya lagi bila saya tidak menuruti kemauan mereka. Dan benar saja, untungnya nasib baik masih ada dipihak saya, saya diterima menjadi salah satu mahasiswi Fakultas Psikologi di Universitas tersebut.

Saat itu saya merasa dunia seakan memusuhi saya. Untuk apa saya sekolah kalau saya hanya berkembang sedikit saja?! Selalu keluhan itu yang berkeliaran di kepala saya. Tapi ternyata takdir berkata lain. “Jangan berkomentar jika kau belum merasakan” benar-benar terbukti. Sekarang semua tuduhan tak beralasan saya terhadap UIN perlahan terbantahkan dengan sendirinya. UIN hanya sebuah batu loncatan seperti perguruan tinggi lainnya. Kita akan berkembang jika kita mau dan berusaha untuk berkembang karena kesempatan sangat terbuka lebar disana.

Singkatnya, pendapat dan asumsi kita pada suatu hal dapat mempengaruhi pendapat dan asumsi orang lain tentang hal tersebut. Bisa jadi UIN dianggap rendah oleh sebagian kalangan karena orang-orang dalamnya sendiri yang menganggap rendah diri mereka sehingga banyak potensi terpendam mereka yang tak mau muncul akibat perasaan rendah diri yang senantiasa menggerogoti diri mereka sendiri.

Gedung-gedung yang terlihat kurang mengundang decak kagum juga mungkin menjadi salah satu faktor yang tidak bisa terbantahkan. Pandangan pertama bisa menjadi tolak ukur sesuatu secara keseluruhan. Gedung-gedung yang sudah cukup tua dan butuh perawatan lebih memang mengganggu setiap mata yang memandang. Berbeda dengan beberapa universitas lain yang bangunannya sangat bersih, unik dan bergaya modern. Tapi permasalahan ini sudah mendapatkan solusi yang cukup, yaitu dengan pembangunan kembali gedung-gedung yang sudah cukup udzur secepatnya.

Jadi, apalagi alasan memandang UIN sebelah mata?

Jika masih ada, ayo kita lebih serius lagi dalam studi kita sampai kita bisa menggantikan mereka dan bisa memperbaiki apa yang menurut kita kurang baik. Tapi jika kita hanya mengkritik tanpa ada usaha dari diri kita sendiri, untuk apa kita mempunyai mata, mulut dan tangan selain untuk membuat suatu perubahan ke arah yang lebih baik? Belum cukupkah perbuatan buruk kita mendominasi kehidupan yang hanya sekejap mata ini?



Untuk semua orang yang “pernah” menganggap enteng UIN (atau ada yang masih?)
Maaf jika bahasa yang dipakai cenderung mencirikan komunikasi yang agresif daripada komunikasi yang asertif :-D
Thanks a lot untuk para pembaca. Ditunggu kritik dan sarannya ^_^

You Might Also Like

0 komentar: