Posts

Showing posts from 2014

Aalst, Belgium #8

Kami harus turun jam 8 lagi. Sesi ini dimulai segera setelah jam menunjukkan jam 8 pagi. Suasa sedikit berbeda karena beberapa koper sudah ada di depan ruangan. Saya rasa itu adalah koper Erik (tutor kami), Bianca dan juga Dominic (satu-satunya lelaki setelah kepulangan Giorgio ke Italia). Kami memulai materi dengan latihan membaca laporan hasil tes. Sungguh, lagi-lagi berasa kuliah psikodiagnostika.  Latihan membaca laporan cenderung lama. Dengan demikian waktu tak terasa sudah menunjukkan istirahat makan siang. Kami bergegas pergi ke restoran, makan dengan cepat dan kembali ke ruangan. Kali itu saya tidak absen 10 menit untuk sholat karena sedang halangan.  Makan siang kali itu agak aneh. Kami diberi sup paprika. Aneh rasanya, tapi karena saya sedang tidak enak badan, maka saya habiskan saja supnya untuk menghangatkan bada *alibi.  Makan siang dengan makanan yang berbeda 180 derajat dengan makanan semalam itu membuat kami meninggalkan meja makan dengan seg...

Aalst, Beligum #7

Saya pikir bahasa Indonesia adalah bahasa termudah di dunia. Nyatanya teman-teman yang ikut training bersama saya kemarin cukup kewalahan, padahal hanya saya ajarkan bilang 'Selamat Pagi'. Mungkin itu juga yang ada di pikiran rekan saya yang berasal dari Italia. Sepanjang jalan saya belajar kalimat sopan santun seperti gracias, chaochao. Sisanya, kalimat yang terdiri dari dua atau lebih suku kata membuat lidah saya keriting tak karuan. Saya jadi ingat dulu saya pernah berbeda pendapat tentang pelafalan "Ich" dalam bahasa jerman dengan teman saya. Saat saya berhadapan dengan native speakernya, ternyata pendapat saya yang benar. Hahaha. Ich dibaca seperti Isy pake SYA!. Ini gak penting sih, baiklah kita skip.  Sesampainya di hotel, kami langsung masuk ke restoran. Kami akan makan malam. Yeaay! Lapaaar. Saya lupa pastinya apa yang kami makan saat itu. Kalau tidak salah itu adalah sandwich yang hampir sama dengan makan siang kami di hari pertama. Yaaaaah, penonton k...

Aalst, Belgium #6

Mau kemana kita? FIELD TRIP!!! Yeay! Kami dijadwalkan untuk pergi ke Wieze, kota kecil dimana pabrik coklat terbesar dunia milik perusahaan kami berada. Asik asik jalan-jalan! Saya agak sedih saat tahu disini tidak bisa jalan-jalan malam karena seluruh toko kecuali diskotik dan beberapa restoran saja. Jam 6 sore, semua toko maupun supermarket tutup. Jadi harapan saya untuk jalan-jalan malam hari pupus sudah. Huhuhu. Tapi agak terhibur saat diajak mengunjungi pabrik kami di Wieze. Disana ada Chocolate Academy yang terkenal dengan inovasi coklat, kompetisi coklat dan beragam hal yang berkaitan dengan coklat di Belgia. Setahu saya, tempat ini juga sering mengadakan kompetisi bagi para koki percoklatan di dunia. Serius, hari itu terlalu menyenangkaaaan! Kami berangkat menggunakan bus yang disediakan Bianca. Jumlah peserta yang ikut kurang lebih hanya 12 orang, karena beberapa ada yang keburu pulang ke negara masing-masing dan ada juga yang gak ikut kesana karena memang berasal dari...

Aalst, Belgium #5

Hari pertama semuanya berjalan lancar karena kami hanya belajar di ruangan dengan latihan yang masih bisa saya kuasai dengan baik. Hari kedua saya mulai 'garuk-garuk kepala' karena keterbatasan berbahasa yang membuat saya jadi kurang percaya diri. Di hari kedua kami diminta untuk melakukan role play. Karena training ini sebetulnya training for trainer, jadi semua peserta yang ikut akan menjadi trainer di site masing-masing. Kami dibagi menjadi 4 kelompok kecil. Saya kebagian dengan 1 orang dari Afrika,1 orang dari Belgia, 1 orang dari Swiss dan 1 orang dari India tapi kerja di HO Swiss. Kebayangka hebatnya mereka saat presentasi? Ada yang bahas tentang kompetensi adalah 'bahasa', ada yang mengungkap pentingnya kompetensi dari segi bisnis, dll. Keren lah pokoknya. Saya gimana? Yah begitulah. Semua orang dalam kelompok tertawa karena kebegoan saya. Tapi saya senang mereka tetap ngasih support dan kritikan yang membangun. Ada satu kalimat yang selalu diulang-ulang ol...

Aalst, Belgium #4

Hari pertama dimulai. Kebanyakan wajah-wajah Eropa yang memenuhi ruangan training tersebut. Mereka sibuk ber-hahaha-hihihi dan bertukar sapa satu sama lain. Saya dan partner saya cengok di awkward moment semacam ini. Untuk mencairkan suasana, saya juga mengenalkan diri. Awalnya saya ingin mengenalkan diri sebagai Arriz****. Namun karena komunikasi via email dari HR Director Asia Pasific menyebut saya Kiki, yasudahlah nama Kiki yang saya perkenalkan. Ngerti gak? Gak apa-apa kok gak ngerti juga, gak penting, Hahaha Saya bertemu dengan Belgium HR Recruitment & Selection Manager yang ikut riweuh ngurusin konfirmasi booking hotel untuk urusan pembuatan VISA. Seperti yang sudah saya ketahui sebelumnya mereka semua spesialis, alias sudah expert di bidang masing-masing. Rata-rata yang ikut training ini adalah Talent Acquisition Specialist atau HR Manager dari setiap negara. Bahkan partner saya pun sudah berkutat dengan dunia rekrutmen lebih dari 5 tahun. Jadi, saya adalah peserta ter...

Berpisah

Sebetulnya, saya kurang suka berteman dekat. Semakin dekat pertemanan, semakin sedih saat perpisahaan datang. Bukankah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan? Pun bukankah manusia selalu ditakdirkan untuk berpisah? Rasanya setiap perpisahan yang saya lewati tak pernah sesedih ini. Hahaha. Jujur, saya tidak pernah menghayati pertemanan. Entah trauma apa di masa lalu, saya tak sadar penyebabnya. Bisa karena saya enggan berharap banyak pada orang lain. Bisa juga karena saya yang terlalu takut menjadi ketergantungan pada orang lain. Bisa karena apapun. Ceritanya, seorang rekan saya di kantor sudah habis masa kontraknya. Memang sejak awal bergabung kedatangannya dimaksudkan untuk sementara saja. Tapi saat masa kontraknya habis, ketakutan pada datangnya rasa kehilangan tetap saja terasa.  Dia banyak membantu saya menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang pada awalnya membuat saya tak betah. Penuh orang-orang yang sudah memiliki pengalaman berlebih, membuat saya ragu d...

Aalst, Belgium #3

Sesampainya di hotel, saya bergegas membuka handphone dan menyambungkan handset saya itu dengan koneksi Wi-Fi hotel. Suara pangping dari BBM dan sosial media lainnya bersahutan. Serasa artis weh lah pokoknya mah. Saya bergegas mandi dan bersiap karena hari ini saya dan partner saya akan berjalan-jalan di sekitar hotel. Saya menggantungkan jaket kotor dan celana yang ampun bau tomatnya itu di kamar mandi. Norak saya keluar lagi. Saya cobain semua fasilitas hotel mulai dari bathtub, setrikaan celana sampai minibar yang ada di bawah TV. Setelah coba semuanya, saya keluar dari kamar dan telepon berdering seketika. Ternyata partner saya itu telepon untuk bertanya memastikan apakah kami akan keluar atau tidak sore itu. Saya katakan saya butuh waktu sekitar setengah jam untuk bersiap. Setengah jam kemudian kami turun dan mampir ke lobi hotel untuk bertanya harga laundry. Saya agak kecewa partner saya tidak mau menanggung biaya mencuci jaket tersebut. Akhirnya saya urungkan niat untuk me...

Aalst, Belgium #2

Ternyata oh ternyata dia adalah Talent Acquistion Manager untuk regional Asia Pasific, alias suhu saya di Asia Pasific. Kami sempat chatting sebelum berangkat, dia yakin kalau kami akan berada di pesawat yang sama dari Dubai ke Brussels. Tapi karena saya kekeuh kalau saya bakal transit di Abu Dhabi bukan di Dubai, maka saya bilang itu tidak mungkin. Oh ya, saya sempet norak bantah-bantahan tempat transit dengan teman kantor. Dia bilang kalau saya akan transit di Dubai, tapi saya kekeuh saya transit di Abu Dhabi. Saat saya dapat tiket berangkat, saya tertawa dan malu disaat yang bersamaan, ternyata saya transit di Dubai. Mwahahahahha. Kembali ke cerita di Dubai. Saya senang akhirnya ada teman selama perjalanan 7 jam menuju Brussels. Tapi karena tempat duduk kami berbeda, maka kami tidak bisa berbincang bersama. Saya duduk di pinggir jendela. Senangnya akhirnya bisa melihat langit dan awan. Ternyata orang yang duduk di sebelah saya adalah lelaki bule yang tinggi banget. Wajahnya ka...

Aalst, Belgium #1

Yap. Saya kesal dengan makhluk berjakun alay berwajah arab selama perjalanan. Saya masuk ke pesawat, mencari tempat duduk dan taraaa ternyata tempat duduk saya sudah diisi oleh manusia lain. Katanya dia minta gantian tempat duduk dengan bahasa tubuh yaaa kalau gak mau dibilang bahasa monyet itu juga. Singkat cerita, akhirnya saya dengan ‘ikhlas’ duduk di deretan kursi bagian tengah. Sebelah seorang ibu berwajah Asia yang ternyata orang Indonesia. Manusia berwajah arab itu ternyata bepergian serombongan. Terdiri kurang lebih dari empat sampai lima orang. Kursi di jajaran tengah itu terdiri dari empat kursi. Saya duduk di kursi yang tengah, dipinggir salah satu rombongan makhluk alay yang saya ceritakan sebelumnya. Ternyata oh ternyata, orang itu hanya duduk di samping saya sementara. Saat pesawat sudah mulai take off, ia pindah ke kursinya. Bahagialah saya. Ternyata kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Manusia itu kembali ke kursi sebelah saya saat makan malam dibagikan. Ia...

Saat Nyempil di Belgia

Niatnya, saya ingin buat runtutan cerita perjalanan saya ke Aalst, Belgia. Tapi karena hasrat untuk menulis hal ini lebih banyak dari yang lain, maka saya dengan senang hati mengubah runutan cerita tersebut. Hahaha. Jadi, ini cerita saya saat nyempil di Belgia.  Youngest Participant Saat menerima email list peserta training yang saya ikuti, saya langsung kepo-in orang-orang itu di situs kantor. Ternyata oh ternyata, semua peserta itu HR Manager. Pun kalau bukan HR Manager, mereka recruitment specialist. Panik dong tentunya. Saya coba baca modul yang diberikan, tapi apa yang saya baca mental entah kemana. Ah, saya terlalu anxiety.  Hari H tiba. Saya benar-benar jadi peserta termuda di training ini. Mereka rata-rata sudah bekerja selama lebih dari 3 tahun. Satu sisi saya merasa beruntung. Tapi di sisi lain saya malu juga. Mana style fashion yang jauuuuuuuhhhhh berbeda (saya gak tahu kenapa, hampir setiap hari para partisipan training pakai baju gelap-gelap terus), pe...

-1 @Aalst, Belgium

Tanggal 29 November 2014, akhirnya saya secara nyata benar-benar bisa pergi ke luar negeri. Yiahahaha. Jadi ceritanya saya ditugaskan kantor untuk ikut training yang diadakan kantor pusat. Saat diberitahu akan meng-Eropa itu sekitar bulan Oktober. Jadi hanya punya 1 bulan untuk mempersiapkan segalanya. Selang tiga hari kemudian, tiba-tiba salah satu senior manager nyeletuk di training dimana gue sok-sok-an bantu-bantu atasan menjadi tutor training.  "Loh, kamu mau pergi ke Brussels, Ki?" tanyanya.  "Hah? gak tahu saya pak. Saya tahunya cuma mau ke Eropa aja." "Oooh, siap-siap winter stuff. Disana dingin sekali. Mulai musim dingin kan." Semua manager yang ikutan sesi training saat itu langsung ngecein saya. Alamak.  Singkat cerita saya nyiapin sedikit demi sedikit syarat-syarat keberangkatan. Mulai dari VISA, tiket, dll. Senangnya dibantu booking tiket pesawat dan urus asuransi kesehatan oleh teh Rossie yang sudah pengalaman urus untuk ora...

TAHU APA

Tahu apa aku tentang ikatan? Terikat sedikit mengelak, tidak terikat malah terhenyak. Tahu apa aku tentang ungkapan? Mengungkapkan saja kebingungan, memendam semuanya ketakutan. Tahu apa aku tentang percaya? Bilang 'percaya' saja susah, bilang tak percaya dipahami salah kaprah.  Niat tak ingin menyakiti, nyatanya menjadi tamparan sakti. Niat ingin menjaga, nyatanya berujung pada tak terjaganya apa-apa. Tahu apa aku tentang menyakiti lebih-lebih menjaga? Rasanya 'mengapa' sudah tak ada di dalam kumpulan kosakata. Padahal dulu selalu menjadi kata pembuka. Mengapa kata harus menyakiti padahal maknanya tidak semenyakitkan itu? Ah ya, tahu apa aku tentang segalanya. 

MEMBUAT VISA BELGIA

Ceritanya minggu lalu saya baru mendapatkan VISA Belgia. Ceritanya sih saya ditugaskan untuk belajar tentang suatu hal disana. Ya semacam Naruto berguru pada Jiraya lah intinya. Singkat cerita, saya harus mengurus VISA ke Belgia. Karena ini business trip saya yang perrrrtama kalinya dan juga perjalanan ke luar negeri yang perrrrrtama kalinya, makanya neuron di otak saya gak bisa selow. Anxiety abis. Riweuh pisan nyiapin ini itu. Sampai-sampai ngerasa dosa karena banyak orang yang saya susahin karena keriweuhan saya ini. Nah, karena saya urus VISA untuk keperluan bisnis, jadi maaf kalau ternyata ada hal-hal yang kurang jelas untuk pengurusan VISA turis.  Berkas Yap. Ini yang utama. Kalau gak ada ini, mending gak usah datang ke embassy. Oh ya, karena kedutaan Belgia sudah tidak menerima pembuatan VISA, maka pembuatan VISA untuk Belgia, Luxemburg dan Belanda dilakukan di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda. Cari aja di jajaran Jl. Rasuna Said, seberang kedutaan India pas tempatnya...

WANITA BERKALUNG SURBAN

Beberapa menit yang lalu saya baru saja selesai menonton film yang sudah lamaaaaaaaa sekali lahir di Indonesia. Wanita Berkalung Surban. Kisah tentang Anisa, anak bungsu perempuan seorang Kyai salah satu pesantren di Jawa. Saya tidak terlalu paham dimana setting film tersebut. Entah Jombang, entah yang lain. Pesantren salafi yang kewalahan menghadapi 'otak pemberontak' Anisa. Bak aktivis feminisme, ia 'menggugat' semua 'sabda' guru yang menurutnya mengajarkan sisi diskriminasi Islam terhadap wanita. Saya takjub dengan otaknya yang sangat 'kiri'. Membuka kesempatan sangat lebar untuk perubahan dan kebebasan berpikir. Sangat bertolak belakang dengan keluarganya yang menganut faham sebaliknya. Kisah yang menyenangkan untuk disaksikan dan diikuti hingga akhir cerita.  Saya alumni pesantren. Sebuah pesantren modern yang tidak membatasi bacaan para santriwatinya. Seluruh isi sekolah saya perempuan. Para lelaki tinggal ratusan kilometer dari tempat kami b...

HUJAN

Sebetulnya, aku tak pernah punya kenangan khusus dengan hujan. Tak pernah terkurung di dalam tempat yang sama dengan orang istimewa saat hujan. Namun juga tak pernah merasa baik-baik saja ketika hujan. Namun aku senang dengan suara rintik air saat menyapa dunia. Rintik air yang tak memilih jatuh dimana, diatas apa dan membasahi siapa. Aku senang wangi tanah yang menyeruak saat hujan datang. Memberikan sedikit kedamaian dan menyisakan kekhawatiran tentang dampak hujan bila ia menyapa bumi terlalu lama. Banyak puisi mengangkat hujan menjadi bagian dari patahan kata yang ada di dalamnya. Banyak lagu yang menculik hujan dan menyelipkannya diantara liriknya. Banyak cerita yang menjadikan hujan sebagai setting tambahan bahkan setting utama kisah pemeran utamanya. Banyak film yang membuat hujan menjadi efek dramatis yang tak tergantikan. Banyak hal menyebut hujan dalam cerita tokoh utama mereka. Tapi aku masih belum punya cerita khusus yang berkaitan dengan hujan. Apa mungkin hujan dici...

TER-AADC

Mungkin setelah munculnya film AADC pamor cowok cool, kutu buku dan ketus menjadi meningkat. Mungkin juga pamor aktivis mading perempuan menjadi bintang sekolah secara tiba-tiba. Film AADC mungkin mengubah semuanya.  Tapi film AADC gak mengubah sudut pandang gue tentang cinta. Ya, cinta. Hal yang terkadang menurut gue dengan mudahnya membuat orang bodoh dan hilang akal. Terdengar menusuk? Gue nulis ini sambil cengengesan kok. Mungkin perasaan lo aja kali. Cinta, ah ya gue gak pernah hoki dengan hal ini. Tapi gue suka film-film cinta, buku-buku cinta dan cerita-cerita cinta. Bahkan, gue adalah orang yang sering dicurhatin tentang cinta oleh teman-teman gue. Lucu kan? Orang yang sinis sama cinta berhubungan dengan banyak hal yang berkaitan dengan cinta. Gue akuin sih, gue sinis ke hal-hal yang berkaitan dengan cinta karena gue gak ngerti kalau menghadapi cinta itu harus bagaimana. Kalau sudah jatuh cinta itu baiknya gimana? Kalau patah hati, mau gimana? Cinta tuh rumit. Jadi...

Ditanya

Entah karena aku terlalu banyak bicara, atau karena memang banyak maunya. Aku senang ditanya dengan pertanyaan yang bisa membuatku bercerita. Bukan pertanyaan yang jawabannya hanya ya atau tidak. Apalagi pertanyaan basa basi yang terkadang menyayat hati seperti kapan lulus atau kapan menikah. Mengapa mereka yang bertanya tak sekalian bertanya kami mati dan kapan dikuburkan? Menyebalkan. Setiap adegan film dengan kata tanya sederhana tapi romantis selalu memancingku berkhayal ditanya hal yang sama. Salah satunya secuil adegan di film Mika. "Kamu mau apa?" Tanya Mika pada Indi "Aku mau berlari, melompat dan menari." Seperti selalu selayaknya sebuah film romantis, Mika 'meminjamkan kakinya' untuk membantu Indi merasakan sensasi berlari dan melompat. Mika mengajak Indi bertemu dengan pelatih tari topeng untuk bisa menari. Aih, mungkin hanya di film saja aku bisa menemukan hal yang terlalu manis seperti ini. Adegan yang sama juga pernah aku lihat da...

Jaket Merah #2

Naas, hujan badai melanda Jakarta. Hatiku sudah ketar-ketir tak karuan. Konsentrasiku buyar dan pikiranku entah ada dimana. Rapat selesai tepat waktu. Aku bergegas meninggalkan tempat itu diiringi dengan tatapan aneh teman-temanku. Kuhiraukan tatapan itu, mataku jelalatan mencari taksi. Tak lama kudapatkan taksi kosong dan bergegas melaju ke tempat dimana Vina menungguku.  Sesampainya di tempat itu, aku tak menemukan batang hidung Vina. Aku meminta supir taksi untuk membantuku mencarinya. Supir itu kesal karena ia tahu tidak mudah mencari Vina di tengah-tengah kerumunan orang dan hujan besar yang sedang melanda. Supir itu marah-marah tak keruan. Membuatku semakin tak karuan. Ah, Tuhan. Aku harus menyerah atau berusaha lebih keras lagi?  Kuputuskan untuk turun dari taksi dan mencari temanku sendiri. Supir taksi itu bersedia menungguku kembali. Untungnya saat aku keluar dari taksi, hujan besar sudah mulai mereda, berganti gerimis yang menyirami kota.  Aku meno...

Jaket Merah

Hari ini hari Minggu. Hari bersenang-senang untukku. Hari dimana aku bisa berlama-lama diam di kamar, menatap layar monitor dan berbincang dengan banyak orang secara virtual. Tak perlu keluar suara, tak perlu banyak ekspresi di muka. Hanya suara ketukan keyboard yang seolah mengganti mulut untuk berbahasa. Ah Tuhan, mungkinkah tangan berbicara pun sudah muncul tanda-tandanya sekarang?  Sudah lebih dari satu jam aku menjelajah dunia maya. Punggungku sakit, leherku apalagi. Kumatikan segera komputer jinjing yang sedari tadi menyala. Tujuanku hanya satu, tempat tidur. Kemana lagi? Hari Minggu itu asyik untuk dinikmati sendiri, bukan? Aku merebahkan badan. Namun tanganku masih tak bisa diam. Tangan kananku menggenggam ponsel dan mulai menelisik banyak fitur yang ada disana.  "PING" Bunyi khas salah satu aplikasi pengirim pesan terdengar. Tanda bintang merah muncul menandakan ada sesuatu yang baru di aplikasi itu. Seperti sudah terlatih, jempol kananku bergerak c...