Monday, March 4, 2024

I'm back! (Again)

In the midst of digitalization and visual contents, I am back to my old but lovely blog again. I miss on how I can define and tell something in a structured manner. Someday, I blamed my brain fog because of Covid-19 that was attacked me twice during the pandemic period. However, deep in my heart, I realized that I never write down anything for years and it made my brain rusty. 

For the sake of training and increasing my ability to articulate and define something better, especially at work, I promise to my self to be committed in making my writing habits alive. Let's see on how I can make it as a habit again. 



Just an update about my life. Now, I am moving to suburb area close to the capital. Living here peacefully with my husband (if we don't fight). I continue my study and now I am in my last semester. Busy with my final project (wish me luck!). I am ready to work again after 1.5 months of 'sabbatical period' in new industry with new people and bigger responsibility. So excited to work again! Anyway, how to great my new colleagues at work? Idk. I am not meeting people in work setting for so long. I think I forgot how to do it properly. lol. 

Lastly, I really wish I can write regularly again and make my mind be more systematic and structured.  


Talk to you soon again (virtually). 

Bye!


Depok, 4 Mar 2024


Read More

Friday, December 23, 2022

Ketabahan

Hari ini saya membaca bab ke-12 dari buku Angela Duckworth yang berjudul Grit, Kekuatan Passion + Kegigihan. Menurutnya, ketabahan seseorang bisa ditumbuhkan dari luar. Salah satunya adalah dengan mengikuti ekstrakurikuler secara konsisten selama lebih dari satu tahun. Mengapa? karena dengan mengikuti ekstrakurikuler, mereka dihadapkan dan dilatih untuk tetap bertahan walaupun kondisi sulit. Misalnya mereka ikut ekstrakurikuler balet. Balet akan memberikan hal-hal mudah yang menyenangkan seperti bertemu teman baru, guru yang baik hati dan belajar gerakan indah, tapi juga memberikan tekanan dan tuntutan untuk melakukan yang terbaik seperti melakukan gerakan dengan benar, sesuai irama, kompak dengan gerakan rekan-rekan lainnya. Kondisi seperti itu mendorong dan menumbuhkan Grit atau ketabahan. 

Ia juga menyampaikan bahwa banyaknya aktivitas ekstrakurikuler ini sangat penting apalagi jika seseorang melakukannya selama lebih dari satu tahun dan lebih dari satu aktivitas. Karena dengan ini, mereka bisa mengembangkan ketabahannya dan bisa lebih tahan banting ketika dihadapkan pada situasi sulit kedepannya.

Sayangnya, ada data yang menyebutkan bahwa para siswa miskin di AS memiliki partisipasi ekstrakulikuler yang menurun dibandingkan dengan para siswa kaya. Hal ini dikarenakan minimnya anggaran untuk menghidupi club. Kondisi ini menyebabkan makin besarnya ketimpangan antara siswa kaya dan siswa miskin yang akan mengarahkan mereka pada lingkaran setan atau lingkaran kebahagiaan. 

Studi di New Zealand menyebutkan, para siswa yang ketus kemungkinan besar berujung pada karir yang tidak memiliki prestise yang tinggi yang menyebabkan mereka lebih sering merutuk dan ketus. Karena sikap seperti itu, maka kondisi di sekitar siswa tersebut terus memburuk. Itu adalah contoh lingkaran setan. Begitupun sebaliknya. Siswa yang ramah kemungkinan besar berujung pada karir yang memiliki prestise yang tinggi dan itu membuka kesempatan untuk mereka pada peluang-peluang karir dengan prestise yang lebih tinggi lagi. Itulah contoh lingkaran kebahagiaan. 

Six Types of Grit

Lalu saya berkontemplasi di tengah-tengah membaca. Saya ingat bagaimana ayah dan ibu saya mendorong untuk ikut banyak lomba. Mulai dari fashion show, menulis surat, membaca puisi, cerdas cermat, menggambar, dan sebagainya. Ketika sekolah dan berkuliah saya senang sekali berorganisasi baik di lingkungan sekitar seperti di kampus ataupu di kelas, dan juga di luar kampus seperti organisasi sosial yang saya ikuti. Ternyata, setelah diingat-ingat, mungkin saya memiliki ketabahan yang sedikit lebih tinggi dibandingkan rekan kerja saya. Saya tahu ini sedikit narsis dan subjektif, tapi seingat saya, tidak ada pekerjaan yang ditugaskan kepada saya dan itu tidak selesai. 

Namun, saya juga merasa ketabahan saya sempat merosot karena tidak mendapatkan dorongan dan sedikit 'kekangan' seperti feedback maupun respon dari atasan saya. Hal itu membuat saya kehilangan motivasi untuk melakukan hal-hal dan pekerjaan-pekerjaan yang menurut saya perlu. Saat itu, saya merasa saya tidak berguna karena pekerjaan yang saya lakukan hanya berupa rutinitas saja, padahal saya ingin lebih bermanfaat dan memberikan dampak. 

Setelah menabung, akhirnya saya ikut kursus sertifikasi selama 3 bulan. Saya merasa menemukan diri saya lagi. Dimana saya kembali bergairah dan bersemangat untuk melakukan hal yang lebih daripada posisi saya sekarang. Kondisi seperti itu sepertinya membuka peluang lain, saya diinterview oleh sebuah perusahaan dan dinyatakan lolos seleksi. Tapi akhirnya saya gak ambil sih. Hehe. Tapi lumayanlah gaji saya naik karena counter offer. 

Poin saya adalah, ternyata lingkaran setan dan lingkarang kebahagiaan sempat terjadi dalam perjalanan karir saya. Ketabahan saya juga ternyata naik dan turun, entah ini benar secara teori atau tidak. Tapi sekarang saya menyadari bahwa penting untuk melihat apa yang ada di sekitar kita, apa yang dipikirkan oleh diri kita tentang diri kita itu penting sekali. Ketabahan memang dibentuk dari kecil, tapi saya rasa tidak ada salahnya kita mulai menyelesaikan apa yang kita telah mulai. Setidaknya kita berusaha untuk menimbulkan ketabahan dari dalam diri kita sendiri. 

Baiklah, saya lanjut dulu baca bukunya. Hehe


Depok, 23 Desember 2022

Read More

Tuesday, December 20, 2022

Porn Poverty

Menjual kemiskinan seringkali dinisbahkan pada mereka yang menggunakan kemiskinan untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, acara bagi-bagi uang yang diupload di story Instagram lalu viral. Bantu orang aja masa harus pamer sih. Begitu pikir mereka. 

Padahal, bisa jadi aktivitas kebaikan yang disiarkan itu ditujukan untuk menginspirasi. Untuk membuka jalan bagi para dermawan menyalurkan harta dengan penyaluran dana yang transparan. Untuk memberikan secercah harapan pada mereka yang membutuhkan. 


Hari ini saya dengar (sebenarnya nonton Youtube sih) channel Helmy Yahya yang berbicara tentang suka duka ia membuat program membantu orang-orang miskin seperti Bedah Rumah, Uang Kaget, dll. Banyak sekali orang yang mengecam karena merasa ia sedang melakukan porn poverty. Padahal intensi ataupun tujuan awalnya adalah untuk menginspirasi orang lain melakukan hal yang sama. Uangnya pun bukan uang Helmy, tetapi uang sponsor. Suatu hari, ada seorang pejabat yang menyumbangkan hartanya melalui Helmy karena orang tersebut tahu tentang program-program yang dibuat oleh Helmy dan tayang di televisi. 

Saat ini, mulut manusia terasa lebih tajam dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Jika saat hari perhitungan nanti jari bisa bicara, maka saat ini pun jari bisa berbicara. Mereka menuliskan kata-kata kejam yang mungkin saja orang tersebut malu ketika mengucapkannya secara lisan. Tulisan mereduksi kekasaran, memudahkan orang mencibir dan menyudutkan. Menghakimi orang yang berbuat baik dengan sebutan buruk. Membuat  orang-orang baik kapok dan enggan melanjutkan perbuatan baiknya. Sebagai imbalan, apa yang dilakukan para pencibir? Hanya mencibir dan mencibir, padahal mereka membantu pun tidak. 


Jakarta, 20 Desember 2022

Read More

Monday, December 19, 2022

Lebih Dari Seperempat Abad

 

Manusia selalu berkembang setiap harinya. Dari sisi fisik, kognisi dan juga emosi. Saya bertanya-tanya, apa yang dulu mendorong saya ketika bayi untuk belajar berjalan? Apa yang membuat saya bisa berlari? Dorongan dari orang sekitar? Ambisi ingin menyerupai mereka? Apa? 

Ketika usia sudah lebih dari seperempat abad, rasa ingin berkembang manusia seringkali terbatas pada apa nilai ekonomi yang bisa ia dapatkan dari perubahan dan perkembangan. Kalau tidak ada uangnya, lebih baik diam. Kalau tidak well rewarding, lebih baik punya performa biasa-biasa saja. Hingga kini mulai ramai gerakan quite quitting, alias diam-diam berhenti. Tidak ngoyo untuk menyelesaikan sesuatu karena mereka merasa walaupun kesehatan mental mereka terganggu karena banyaknya tuntutan kerja, mereka tidak akan dapat balasan yang setimpal. Kenapa seperti itu ya? Padahal saya merasa menyelesaikan tugas dengan baik dan benar itu adalah cara agar kita bisa belajar dan berkembang. Walaupun pada akhirnya uang yang menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang, tetapi apakah adil hanya karena uang kita tidak memberikan diri kita kesempatan untuk mencoba sesuatu?

Memang sulit sekali tidak mengaitkan perkembangan dengan uang. Apalagi saat ini dengan mudahnya kita bisa pamer barang yang bisa kita beli di sosial media. Tapi berkembang dengan menerima tugas yang menantang, berhubungan dengan orang-orang yang baru, berhadapan dan ditegur keras oleh bos besar, selalu memberikan diri kita sense fulfillment yang kita butuhkan. 

Saya masih meyakini berkembang secara kemampuan adalah salah satu manfaat dari bekerja. Mendapatkan uang memang penting, tapi jika tidak dapat di tempat yang sekarang dan kita memiliki kapasitas lebih, kita bisa berpindah ke tempat lainnya. Kita bukan pohon ataupun penerima derma yang hanya bisa bekerja di satu perusahaan saja dan harus membalas budi. Mungkin untukmu berpindah bisa jadi cara untuk berkembang. Mungkin juga bertahan dan belajar lebih banyak lagi di satu tempat yang sama menjadi jalan lain untuk berkembang. Pilih saja, disesuaikan saja. Karena lagi-lagi saya bilang kalau kita bukan pohon, kita manusia. 


Depok, 19 Desember 2022

Read More

Sunday, October 9, 2022

Masa Peralihan Akbar

Semakin bertambah umur, semakin abstrak cara mengukur pencapaian kita. Dulu, apa sih yang menjadi indikator kita mencapai sesuatu? Nilai rapor. Mudah sekali dijawab, bukan? Orang tua dengan bangganya saling pamer rangking berapa anaknya di tahun semester ini. Tapi penilaian akan pentingnya nilai berhenti ketika kita lulus kuliah. Hasil nilai dari pendidikan terakhir kita ini seringkali menjadi gerbang pembuka kesempatan atau batu besar penghalang terhadap kesempatan baru. Jika beruntung, kita dapat pekerjaan yang bagus. Jika tidak, ya kita harus luntang lantung dan lebih jeli lagi mencari serta mengambil kesempatan. 

Masa bekerja dan berkeluarga bagi saya adalah masa peralihan akbar. Lebih banyak lagi hal yang dibandingkan satu sama lain. Oleh diri kita atau diri orang lain. Bekerja dimana, berapa gajinya, apa yang bisa dibeli (tak peduli itu hutang atau cash), berapa anaknya bahkan anaknya bisa apa saja juga dibanding-bandingkan. Padahal mengurusi hidup sendiri saja sudah menyusahkan, ini ditambah dengan membanding-bandingkan. 



Semakin dewasa, semakin beragam masalah yang dihadapi. Dari yang sederhana seperti bocor atap dimana-mana, galon dan gas yang habis, dsb. Hingga yang kompleks seperti kenaikan gaji dan pangkat, penyakit serius, kondisi keluarga yang karut marut, dsb. 

Tidak pernah ada pelatihan khusus tentang menjadi dewasa. Yang ada hanya pelatihan untuk topik-topik yang mendukung kehidupan menjadi dewasa. Tidak ada kurikulum pembelajaran yang menjadi patokan bagaimana menjadi orang dewasa yang benar. Yang ada hanya norma dan penilaian masyarakat yang bisa jadi benar, walaupun seringkali menjerumuskan. Menjadi dewasa adalah masa peralihan akbar. 


Depok, 9 Oktober 2022

Read More

Thursday, August 4, 2022

Membuat VISA Bisnis Swiss 2022

Alhamdulillah saya berkesempatan pergi ke luar negeri lagi setelah pandemi. Kali ini, perjalanan bisnis ke Swiss selama 7 hari! Gila! Gak kebayang saya bakalan bisa ke Swiss. Negara yang terkenal mahal dan keju serta cokelatnya itu!!! Saking excitednya, saya sampai siapkan berkas-berkas secepat kilat yang saya bisa dan itu menguntungkan karena di saat masa pandemi ini slot kosong untuk biometrik dan interview di VSF cenderung terbatas. 

Dokumen yang diperlukan

  • Paspor yang masih berlaku min 6 bulan sebelum keberangkatan (Selama proses aplikasi visa paspor tidak dapat dipinjam)
  • Paspor lama (Bila ada)
  • Formulir aplikasi (bisa diakses disini)
  • Foto berwarna terbaru ukuran 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 lembar dengan latar belakang putih (fokus wajah 70%, hasil cetak digital tidak boleh hasil scan atau editan). Di depan kantor VFS ada jasa foto VISA.
  • Surat sponsor asli dari tempat bekerja yang menjelaskan, lama bekerja, gaji, jabatan,  tujuan perjalanan dan menyatakan bahwa kita akan kembali lagi ke Indonesia setelah trip ke Swiss
  • Untuk kunjungan bisnis diperlukan surat undangan, boleh berupa hasil fax/scan (Sebelum dokumen disubmit ke kedutaan, surat undangan yang ditandatangani dari pihak pengundang harus dikirim melalui email langsung ke kedutaan Swiss jakarta.visa@eda.admin.ch , jakarta.cc@eda.admin.ch oleh pihak pengundang.
  • Asuransi perjalanan wisata dengan nilai perlindungan minimum EURO 30.000 atau setara
  • Surat referensi bank (biasanya bayar 50rb)
  • Fotocopy Rekening Koran atau tabungan 3 bulan terakhir yang sudah dilegalisir dan ditandatangani oleh pejabat bank (biasanya bayar sekian belas ribu per lembar)
  • Untuk kunjungan bisnis, rekening koran/ tabungan perusahaan 3 bulan terakhir harus dilampirkan
  • Slip gaji 3 bulan terakhir
  • Reservasi tiket perjalanan wisata
  • Reservasi hotel selama perjalanan (ini email konfirmasi dari hotelnya juga harus dilampirkan ya)
  • Fotocopy KTP/ untuk warga negara asing, harus melampirkan surat ijin tinggal di Indonesia (KITAS/KITAP)
  • Fotocopy Kartu Keluarga
  • Fotocopy Akte Lahir (Bila pemohon berusia di bawah 18 tahun)
  • Fotocopy Akte Nikah (Bila sudah menikah)
  • Fotocopy Kartu Pelajar/ Surat Keterangan Sekolah (Bila pemohon masih berstatus pelajar)
  • Fotocopy SIUP (Bila kunjungan bisnis)
  • Fotocopy TDP (Bila kunjungan bisnis)
  • Surat Izin Suami (Bila pemohon adalah wanita yang sudah menikah tanpa didampingi oleh suami pada saat berpergian)
  • Surat Izin Orang Tua (Bila pemohon masih berusia di bawah 18 tahun dan akan bepergian tanpa didampingi oleh kedua orang tuanya)

Dokumen seperti akte lahir, KTP, dll tidak perlu ditranslate ya. SIUP dan TDP tidak perlu dibawa aslinya. Selain dokumen diatas, saya juga menyiapkan itinerary simple yang kalau ditanya saya bisa tunjukkan. 

Biaya pembuatan VISA

Biaya pembuatannya beragam tergantung usia. 
  • <6 tahun : free
  • 6-12 tahun : 650k IDR
  • >12 tahun : 1.3mio IDR

Biaya foto VISA di VFS

Saat saya datang, fasilitas ini sedang error. Seingat saya, saya membayar sekitar 50k IDR. Yang dibutuhkan hanya 2 lembar foto 3X4 saja. Jadi tidak usah terlalu banyak buat fotonya ya. 


Alur pembuatan VISA

Pembuatan VISA saya dimudahkan oleh perusahaan karena diurus oleh travel agent. Jadi saya tinggal siapkan dokumen, datang tepat waktu dan nunggu paspor dengan VISA Schengen dikirim ke rumah. Tapi berikut rangkuman aktivitas alur pembuatan VISAnya: 
  1. Kunjungi website VFS Global untuk pembuatan VISA Schengen via Swiss dan buat akun disana.
  2. Siapkan dokumen dan pastikan semuanya sesuai dengan listnya
  3. Book jadwal untuk perekaman biometrik dan interview disini
  4. Datang di jadwal yang sudah ditentukan. Jangan lupa bawa uang untuk bayar permohonan pengajuan VISA, dokumen asli dan fotocopy.
  5. Cek dan tunggu VISA kita selesai. Cek melalui akun VFS yang sudah kita buat sebelumnya

Batas minimum saldo untuk VISA Schengen

Saya dapat informasi dari beberapa blog lain, kabarnya minimum saldo untuk apply VISA Schengen via Swiss adalah 100 CHF X jumlah hari tinggal. Tapi saya tidak tahu apakah itu masih valid karena saya mengajukan VISA Bisnis dan melampirkan rekening koran perusahaan dan rekening koran saya. Tapi untuk persiapan, mungkin teman-teman juga bisa jadikan hitungan tersebut sebagai patokan. 

Lama proses pembuatan VISA

VISA saya dan suami selesai sekitar 10 hari kalender, padahal yang dijanjikan adalah 15 hari kerja. Rajin-rajin saja cek dan track status VISA kamu di website VFS. 

Do and don't

Do : 
  • HARUS BANGET datang 15 menit sebelum jadwalmu. Karena kalau lewat 15 menit, kamu harus ngajuin permohonan yang baru setelah 1 bulan. PR banget kan kalau bolak-balik
  • Bawa semua dokumen asli dan fotokopi yang lengkap
  • Berpakaian rapi
  • Boleh bawa minum
  • Ambil jadwal pagi, karena kl ambil jadwal siang cenderung molor dan lebih lama karena ngantri dengan antrian sebelumnya
Don't:
  • Telat. BIG NO
  • Gak usah bawa laptop, karena semua barang harus dititipkan kecuali tas kecil dan map untuk dokumen. Untuk penitipan laptop dan tas besar ini lumayan loh kalau gak salah di 25k-50k IDR. 

Paling itu saja informasi yang bisa saya bagikan. Semoga proses pembuatan VISAnya lancar jaya ya! Alps are waiting for you!

#Switzerland #VISA #Schengen #BusinessVISA #VISASchengen #Swiss
Read More

Monday, August 1, 2022

My 1st Award

Suatu pagi di hari Minggu pertengahan bulan Juli 2022, saya dapat email yang menginformasikan bahwa saya menang salah satu award paling prestisius di perusahaan. Saya menang award ini bukan karena sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan, tapi karena kontribusi terhadap masyarakat. Terdengar hebat ya? hahaha. Padahal kontribusinya cuma karena saya kirim surat ke embassy untuk dapat buku gratis di perpustakaan yang dulu saya dirikan untuk anak-anak sekitar rumah, karena saya pernah ngelakuin campaign anti bullying bareng teman-teman pas awal kerja dulu, karena saya pernah ngajar probono secara online ketika pandemi. Tapi ternyata hal-hal tersebut bisa membuat saya pergi ke Swiss bareng suami! Mantap bukan, bun? 

Ketika orang-orang merasa bangga karena mendapatkan award tersebut, saya malah minder karena saya rasa yang saya lakukan ya biasa saja. Katanya saya diajukan 2 kali untuk menang award ini. Sampai akhirnya komite di Asia Pasifik menyetujui dan disetujui juga oleh komite global bahkan Chairman. Tapi, tetap saya merasa minder. Hahaha. Mental post-kolonialism syndrom emang susah move on. 

Tapi akhirnya saya berangkat ke Swiss juga bersama suami dan ini salah satu fotonya :)




Read More

Total Pageviews

Blog Archive

Search This Blog

Powered by Blogger.

Quote

Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)

I'm back! (Again)

In the midst of digitalization and visual contents, I am back to my old but lovely blog again. I miss on how I can define and tell something...