Posts

Kalau Bisa Memilih

Kalau bisa memilih, gue akan memutuskan bekerja di Jakarta sejak lulus kuliah. Kerja di Bandung itu sangat menyenangkan, apalagi gue kerja di perusahaan Eropa. Tapi kenaikan penghasilan cukup bikin mengelus dada. Apalagi jika angka gaji pertama terlalu murah dan terlalu lama di perusahaan, ah.. susah sekali nembus dua digit. Perlu lebih dari 7 tahun akhirnya bisa sampai ke angka sepuluh juta rupiah pertama setiap bulannya. Gue bersyukur dengan apapun yang sudah gue lewati dan dapatkan. Namun sepertinya masa tunggu dapat gaji dua digit mungkin akan lebih pendek jika gue kerja langsung di ibukota. Kalau bisa memilih, gue akan bekerja di perusahaan besar. Gue baru tahu ternyata untuk BUMN dan perusahaan besar, bank bisa kasih marjin yang lebih rendah daripada perusahaan kecil. Biasanya, beberapa bank besar punya cabang di kantor-kantor BUMN dan anak-anak perusahaannya. Jika grup BUMNnya besar, mereka secara rutin punya program promo marjin. Bank-bank juga punya minimum karyawan dalam sebu...

I'm back! (Again)

Image
In the midst of digitalization and visual contents, I am back to my old but lovely blog again. I miss on how I can define and tell something in a structured manner. Someday, I blamed my brain fog because of Covid-19 that was attacked me twice during the pandemic period. However, deep in my heart, I realized that I never write down anything for years and it made my brain rusty.  For the sake of training and increasing my ability to articulate and define something better, especially at work, I promise to my self to be committed in making my writing habits alive. Let's see on how I can make it as a habit again.  Just an update about my life. Now, I am moving to suburb area close to the capital. Living here peacefully with my husband (if we don't fight). I continue my study and now I am in my last semester. Busy with my final project (wish me luck!). I am ready to work again after 1.5 months of 'sabbatical period' in new industry with new people and bigger responsibility. S...

Ketabahan

Image
Hari ini saya membaca bab ke-12 dari buku Angela Duckworth yang berjudul Grit, Kekuatan Passion + Kegigihan. Menurutnya, ketabahan seseorang bisa ditumbuhkan dari luar. Salah satunya adalah dengan mengikuti ekstrakurikuler secara konsisten selama lebih dari satu tahun. Mengapa? karena dengan mengikuti ekstrakurikuler, mereka dihadapkan dan dilatih untuk tetap bertahan walaupun kondisi sulit. Misalnya mereka ikut ekstrakurikuler balet. Balet akan memberikan hal-hal mudah yang menyenangkan seperti bertemu teman baru, guru yang baik hati dan belajar gerakan indah, tapi juga memberikan tekanan dan tuntutan untuk melakukan yang terbaik seperti melakukan gerakan dengan benar, sesuai irama, kompak dengan gerakan rekan-rekan lainnya. Kondisi seperti itu mendorong dan menumbuhkan Grit atau ketabahan.  Ia juga menyampaikan bahwa banyaknya aktivitas ekstrakurikuler ini sangat penting apalagi jika seseorang melakukannya selama lebih dari satu tahun dan lebih dari satu aktivitas. Karena dengan ...

Porn Poverty

Image
Menjual kemiskinan seringkali dinisbahkan pada mereka yang menggunakan kemiskinan untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, acara bagi-bagi uang yang diupload di story Instagram lalu viral. Bantu orang aja masa harus pamer sih. Begitu pikir mereka.  Padahal, bisa jadi aktivitas kebaikan yang disiarkan itu ditujukan untuk menginspirasi. Untuk membuka jalan bagi para dermawan menyalurkan harta dengan penyaluran dana yang transparan. Untuk memberikan secercah harapan pada mereka yang membutuhkan.  Hari ini saya dengar (sebenarnya nonton Youtube sih) channel Helmy Yahya yang berbicara tentang suka duka ia membuat program membantu orang-orang miskin seperti Bedah Rumah, Uang Kaget, dll. Banyak sekali orang yang mengecam karena merasa ia sedang melakukan porn poverty. Padahal intensi ataupun tujuan awalnya adalah untuk menginspirasi orang lain melakukan hal yang sama. Uangnya pun bukan uang Helmy, tetapi uang sponsor. Suatu hari, ada seorang pejabat yang menyumbangkan hartanya melalui...

Lebih Dari Seperempat Abad

Image
  Manusia selalu berkembang setiap harinya. Dari sisi fisik, kognisi dan juga emosi. Saya bertanya-tanya, apa yang dulu mendorong saya ketika bayi untuk belajar berjalan? Apa yang membuat saya bisa berlari? Dorongan dari orang sekitar? Ambisi ingin menyerupai mereka? Apa?  Ketika usia sudah lebih dari seperempat abad, rasa ingin berkembang manusia seringkali terbatas pada apa nilai ekonomi yang bisa ia dapatkan dari perubahan dan perkembangan. Kalau tidak ada uangnya, lebih baik diam. Kalau tidak well rewarding , lebih baik punya performa biasa-biasa saja. Hingga kini mulai ramai gerakan quite quitting, alias diam-diam berhenti. Tidak ngoyo untuk menyelesaikan sesuatu karena mereka merasa walaupun kesehatan mental mereka terganggu karena banyaknya tuntutan kerja, mereka tidak akan dapat balasan yang setimpal. Kenapa seperti itu ya? Padahal saya merasa menyelesaikan tugas dengan baik dan benar itu adalah cara agar kita bisa belajar dan berkembang. Walaupun pada akhirnya uang ya...

Masa Peralihan Akbar

Image
Semakin bertambah umur, semakin abstrak cara mengukur pencapaian kita. Dulu, apa sih yang menjadi indikator kita mencapai sesuatu? Nilai rapor. Mudah sekali dijawab, bukan? Orang tua dengan bangganya saling pamer rangking berapa anaknya di tahun semester ini. Tapi penilaian akan pentingnya nilai berhenti ketika kita lulus kuliah. Hasil nilai dari pendidikan terakhir kita ini seringkali menjadi gerbang pembuka kesempatan atau batu besar penghalang terhadap kesempatan baru. Jika beruntung, kita dapat pekerjaan yang bagus. Jika tidak, ya kita harus luntang lantung dan lebih jeli lagi mencari serta mengambil kesempatan.  Masa bekerja dan berkeluarga bagi saya adalah masa peralihan akbar. Lebih banyak lagi hal yang dibandingkan satu sama lain. Oleh diri kita atau diri orang lain. Bekerja dimana, berapa gajinya, apa yang bisa dibeli (tak peduli itu hutang atau cash), berapa anaknya bahkan anaknya bisa apa saja juga dibanding-bandingkan. Padahal mengurusi hidup sendiri saja sudah menyusah...

Membuat VISA Bisnis Swiss 2022

Alhamdulillah saya berkesempatan pergi ke luar negeri lagi setelah pandemi. Kali ini, perjalanan bisnis ke Swiss selama 7 hari! Gila! Gak kebayang saya bakalan bisa ke Swiss. Negara yang terkenal mahal dan keju serta cokelatnya itu!!! Saking excitednya, saya sampai siapkan berkas-berkas secepat kilat yang saya bisa dan itu menguntungkan karena di saat masa pandemi ini slot kosong untuk biometrik dan interview di VSF cenderung terbatas.  Dokumen yang diperlukan Paspor yang masih berlaku min 6 bulan sebelum keberangkatan (Selama proses aplikasi visa paspor tidak dapat dipinjam) Paspor lama (Bila ada) Formulir aplikasi (bisa diakses disini ) Foto berwarna terbaru ukuran 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 lembar dengan latar belakang putih (fokus wajah 70%, hasil cetak digital tidak boleh hasil scan atau editan). Di depan kantor VFS ada jasa foto VISA. Surat sponsor asli dari tempat bekerja yang menjelaskan, lama bekerja, gaji, jabatan,  tujuan perjalanan dan menyatakan bahwa kita akan kemb...