Posts

Showing posts from 2015

Menu Makan Siang

"Ki, ikut gak? Kita mau makan di luar nih." "Yok!" sahutku santai.  Padahal sejujurnya aku merutuki teman-teman kantorku  yang terus mengajak jajan di luar padahal kantor kami menyediakan makan siang untuk para karyawannya. Tapi mereka paling tahu tempat makan enak di sekitaran kantor, jadi aku nurut-nurut saja. Toh hanya tinggal nebeng berangkat dan pulang, makan lalu selesai.  Kami pergi ke daerah yang cukup jauh dari kantor. Kami berhenti di depan kampus salah satu teman kami yang bekerja sambil kuliah disana. Katanya ada warung ayam sambal cabe hijau yang maknyus dan pantas untuk didatangi demi memakmurkan jeritan para cacing di perut serta memulihkan konsentrasi bekerja empat jam kedepan.  Salah satu dari kami langsung memesan. Dia hafal mati menu yang ada disana. Sedangkan aku dan dua orang cewek-cewek lainnya sibuk menerka-nerka bentuk maupun rasa makanan yang akan kami dapatkan dengan membaca menu yang menempel di tembok warung makan disana....

Kapan ke dari #2&3

Image
Yeaaah.. Sekarang dapet lagi ucapan kapan ke dari. A Indra beberapa bulan lalu pergi ke India. Sebagai orang yang opportunis, saya dapat ide untuk minta Kapan ke dari di India. Jadilah foto ini. Diambil dari gondola tertinggi se-asia di Gulmarg, Kashmir India. Acha acha. Nehi nehi. Hahaha. Satu lagi ucapan dari teman saya Azizah yang sedang belajar di New Zealand. Pinter banget deh ijah, karena saya minta jauh-jauh hari dan ternyata dikirim pas saya ulang tahun. Jadi terharuuu ☺ Diambil di salah satu sudut kota Auckland di New Zealand. Jadi, kapan ke Gulmarg dan Auckland, ki? Soooooonnnn!

Vaksinasi Demi VISA

Hari ini ceritanya saya harus ‘berkunjung’ ke Kantor Kesehatan Pelabuhan kelas II Husein Sastranegara Bandung untuk mendapatkan vaksin. Fyi, hingga saat ini, saya paling tidak suka berada di bandara ini. Lebih kumuh daripada terminal ;-( Rencananya, saya mau daftar vaksin untuk Yellow Fever disana sebagai persyaratan visa, ternyata oh ternyata vaksin tersebut tidak tersedia. Namun setelah berkonsultasi dengan dokter yang sedang bertugas di KKP, akhirnya saya ambil vaksin Meningitis. Kalau ada yang bingung saya mau kemana, nanti saya ceritain kalau udah pulang dari sana which is 3 months later. Hahahaha. KKP sangat penuh dengan calon jamaah haji.  Ruangan KKP yang tadinya penuh-penuh-enggak tiba-tiba penuh sesak karena hujan besar menyapa Bandung tiba-tiba. Rata-rata yang mengisi adalah orang tua ditemani oleh anak cucu mereka. Bau minyak nyong-nyong mulai merebak. Melihat wajah mereka, saya merasa sedikit gelisah. Akankah saya ikut mengantarkan ibu dan ayah untuk vaksinas...

Manusia Penghuni Gang

Menjadi penghuni gang di pinggiran Kota Bandung memang penuh suka duka. Suka bila kita keluar dari gang tak perlu lama-lama menunggu angkot yang hilir mudik di jalan besar sana. Angkot berbagai jurusan sudah siap nangkring di mulut gang atau diseberangnya. Mudah. Sungguh mudah. Saya terlalu sering mendapatkan kemudahan ini dan sampai sempat lupa bagaimana rasanya menjadi ‘korban ngetem angkot’. Tapi suka tak ada bila duka diabaikan saja. Seringkali saat keluar dan sudah melambaikan tangan tapi sang sopir masih memutuskan untuk menunggu, sialnya saat sampai mulut gang dan menggelengkan kepala kembali sebagai tanda untuk tidak berniat naik angkotnya, sopir angkot memaki seakan menunggu saya berjalan sudah menghilangkan potensinya untuk mendapatkan 5 penumpang lagi. Lah iki salahe sopo toh? Saya, sebagai manusia yang sudah bertahun-tahun tinggal jauh dari jalan besar merasa senang bahkan terlalu senang dengan hal ini. Menjadi manusia penghuni gang ternyata cukup menyenangkan. ...

Sepotong Kue

Aku punya sepotong kue. Rasanya tidak terlalu enak, bahkan sebagian dari kue itu rasanya tak karuan. Tapi itu milikku. Banyak orang yang pernah aku ajak untuk mencicipi kue, tapi tak semuanya bertahan untuk makan kue itu. Alasannya karena seringnya ada kue lain atau kue mereka sendiri terlalu enak. Ada pula yang beralasan mereka lebih senang menyibukkan diri dengan memakan kue milik mereka sendiri. Ada yang tak pernah kuundang makan kueku, tapi mereka memaksa dan merongorongku. Seakan kue yang kumiliki ini sangat lezat dan pantas untuk mereka gandrungi. Mereka mencoba untuk mencari celah untuk memakan kue atau hanya melihat kueku lebih dekat. Jika usaha mereka tak berhasil, mereka dengan senang hati mengorek kejelekan dan beragam kekurangan dariku atau kueku. Mulai dari kue yang terlihat mempunyai rasa tak enak hingga aku yang katanya tak bisa memilih kue dengan baik. Semua mereka komentari. Semua mereka korek. Padahal aku yakin, mereka pasti sempat berpikir mengapa diri mereka begitu ...

Magicom

Magicom. Sebutan yang kusematkan untuk rice cooker putih yang teronggok indah di kamar kosku. Malam ini saya belajar satu hal dari benda mati yang baru saya miliki sekitar 16 hari ini, sejak saya ‘berkemah’ di salah satu kamar kecil khusus wanita beberapa ratus meter dari tempat saya bekerja. Selama 15 hari ini saya sering kesal karena banyak nasi yang menempel di permukaan magicom. Kesal karena fungsi ‘anti lengket’ yang ada di dalamnya seakan tak berguna. Kesal karena kupikir aku sudah membeli barang yang tak berfungsi ‘fitur’ tambahannya. Kesal karena nasi matang selalu menempel disana. Karena itulah saya harus merendam wadah dengan nasi yang menempel agar tak merusak permukaan anti lengketnya. Tapi malam ini berbeda *ceileh. Entah pasal apa perut saya tidak terlalu lapar. Tak ada demonstrasi yang dilakukan cacing-cacing di perut dan suara kurubuk-kurubuk. Tak lapar, pun tak kenyang. Saya memutuskan menanak nasi dan melakukan aktivitas lain sampai merasa lapar. Aktivitas apa? ...

14 September ke-25

Wuih..ngerasain juga punya umur sampai 25 tahun. Alhamdulillah. Entah ini anugerah atau musibah. Entah keberuntungan atau malah petaka. Tapi lagi-lagi saya bersyukur kepada Allah atas izin-Nya masih bisa curcol di blog ini sampe usia ke-25.  Jujur, saya tidak pernah terpikir bagaimana diri ini di usia seperempat abad. Lebih baikkah? Lebih ini lebih itu kah? Sudah ini sudah itu kah? Tak terpikirkan. Saya akui perencanaan kehidupan saya rada kacrut dan gak baik. Hidup saya mengalir seperti air, padahal katanya hidup itu harus seperti ikan salmon yang kuat melawan arus demi tetap hidup dan juga dapat berkembang biak. Tapi saya kok yakin hidup saya bukan hanya untuk berkembang biak ya? Jadi ya santai aja kayak di pantai, selow kayak di pulau #PLAK! Meskipun hidup saya juga tak jauh dari kemampuan perencanaan hidup saya yang notabene sama-sama kacrut, saya bersyukur dapat mengalami banyak hal yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Pernah menjejak ke beragam tempat yang saya ...

Rindu

Sungguh kurang ajar rindu itu. Datang tiba-tiba lalu mengakar dengan mudahnya. Padahal, apa balasan dari rindu? Tak ada. Bahkan kadang rindu merusak segalanya. Meredam rindu adalah respon wajib para perindu bila yang dirindukan tak pernah diamini oleh norma dan agama. Menyimpan kerinduan adalah alternatif yang paling aman dilakukan oleh mereka yang meredam perasaan. Mengenyahkan rasa rindu adalah jawaban yang selalu dilakukan. Karena apa baiknya mengubar rindu? Apa dampaknya menyampaikan kerinduan? Apa untungnya memelihara hal yang bisa membuat kita silap hati dan rasa? Biarkan rindu ikut menyelinap diantara hembusan angin. Biarkan rindu ikut berpencar diantar percikan hujan. Biarkan rindu ikut membahana diantara tawa manusia. Karena dasarnya, kita benar-benar tak tahu apa rasa ini sesungguhnya. Benarkah itu rindu atau sekedar hawa nafsu? Ciparay, 23 Agustus 2015 Iya. Saya sedang rindu.

Masih tentang penghargaan

Masih tentang penghargaan. Saya tiba-tiba berangan-angan bagaimana jika saya mendapatkan penghargaan, walaupun ini cenderung mustahil untuk didapatkan. Hahaha. Tapi anggaplah khayalan ini nyata. Jika saya mendapatkan penghargaan, saya akan mengatakan ini: Assalamu'alaikum wr wb. Alhamdulillah, hingga detik ini Allah masih sayang kepada saya dan kita semua sehingga kita masih bisa bernafas. Terimakasih juga kepada Allah atas kejutan-kejutan yang bertubi-tubi datang di tahun ini. Ada yang menyenangkan dan ada yang tidak. Dan hari ini saya mendapat kejutan yang menyenangkan. Terimakasih kepada seluruh voter yang memilih saya. Semoga anda semua selalu disayang Tuhan dan tidak menyesal telah menetapkan pilihan ini kepada saya. Terimakasih juga kepada kalian, barisan para mantan dan semua yang pergi tanpa pernah aku miliki *malahnyanyi*. Semoga hati ini tetap membumi dan menyadari bahwa diri ini terbuat dari saripati tanah dan akan berakhir di sebuah lubang di tanah. Sekian. Fenomen...

Penghargaan

Kemarin, tanggal 17 Agustus 2015 adalah hari yang melelahkan bagi saya. Saya menjadi salah satu panitia acara 17 Agustus di kantor. Saat pertama kali diajak (tepatnya ditunjuk) menjadi panitia, saya cukup enggan. Cukuplah di kampus saja sibuk-sibuk gak jelas dalam beragam kegiatan mahasiswa, di tempat kerja mah udah bukan waktunya lagi, pikir saya. Namun di sisi lain, saya juga suka sibuk-sibuk gak jelas dan sok sibuk. Jadi saya terima lamaran si anu. Heeeh, apa sih. Hahaha. Singkat cerita jadilah saya panitia dan diberi amanah sebagai divisi acara. Agak canggung jadi panitia event di pabrik mah. Serasa beda drastis dengan di kampus.  Peringatan detik-detik proklamasi Indonesia ini dijadikan satu dengan acara penghargaan Culture of Excellence di Barry Callebaut Asia Pasific. Jadi, acara kemarin itu adalah acara launching CoE se-Asia Pasific. Satu sisi merasa keren dan terhormat, namun sisi lain pasti capek dan merasa 'terbebani'. Pasca acara saya sukses tidur dari jam 4 s...

Hari Merdeka

Umbul-umbul bertebaran dimana-mana. Penjual bendera hadir dan dapat ditemukan dengan mudahnya. Bahkan, gapura berdiri di jalan kampungku yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kata adikku, dulu saat Peringatan Hari Kemerdekaan ke-60 diselenggarakan, gapura itu juga berdiri megah disana. Ah ya, kami larut dalam suka cita hari ulang tahun lahirnya negara Indonesia tercinta. Sore ini Bandung diguyur hujan deras. Saya masih bekerja saat itu. Hujan membuat saya waswas. Karena daerah kantor saya adalah daerah banjir di Bandung yang terkenal dimana-mana: Dayeuhkolot. Hujan deras itu sempat membuat jalan raya di depan kantor terendam genangan air. Tentu saja warnanya hitam pekat, bercampur dengan limbah pabrik tekstil yang ada diberbagai penjuru Dayeuhkolot, Palasari, Cisirung dan sebagainya. Tapi bukan tentang banjir yang akan saya ceritakan disini. Saat pulang, saya melewati kawasan Ciodeng, Bojongmalaka dan Andir. Semua daerah itu adalah daerah banjir parah. Kedalaman air bisa mencapai 1-2...

Jauh

Image
Jauh. Sebenarnya menurut siapa jauh itu? Apa ukuran mengukur jauh? Kilometer? Tak selalu. Banyak manusia yang duduk berdampingan namun mereka merasa jauh satu sama lain. Seperti para manusia yang duduk berdempetan di angkot misalnya. Tanya mereka, siapa yang merasa dekat satu sama lain? Mungkin mereka akan mengangkat tangannya bila mereka duduk bersama dengan teman dekatnya. Tapi benarkah mereka benar-benar dekat? Nisbi. Semua ukuran rasanya nisbi. Tergantung siapa yang melihat dan dari sudut pandang apa. Keluarga mungkin manusia terdekat yang seseorang punya, tapi bisa saja menjadi manusia yang terjauh yang dimilikinya. Sumber: disini Kata orang, setiap manusia perlu menjauh dari lingkungan terdekatnya, zona nyamannya. Tapi benarkah demikian? Maswadit alias Wahyu Aditya bahkan mencapai kesuksesan saat ia menggambar, kegiatan yang menurutnya ada di zona nyaman. Berbeda dengan banyak motivator yang bilang bahwa zona nyaman itu merusak. Merusak semangat dan potensi ...

Membuat Tenang

Kata orang, memilih pasangan itu salah satu kriterianya adalah bisa membuat tenang. Bukan mereka yang malah membuat hati gundah, bahkan gegana alias gelisah galau merana *goyang maaang* Tapi bagi saya, membuat tenang juga ada di salah satu kriteria memilih teman. Mengapa teman harus dipilih? Karena menurut saya teman bisa menjadi alternatif solusi sarana perbaikan diri. Jadi, saya tak ingin sembarang berteman. Mungkin ini juga yang membuat saya cenderung kaku dan kurang membaur. Mari tinggalkan bahasan tentang saya, kita bahas tentang teman yang membuat tenang. Begini, teman bak cerminan diri kita sendiri. Meskipun terkadang diri ini berbeda dengan mereka yang menjadi teman kita. Mereka tempat berbagi mimpi, harapan bahkan beragam topik pembicaraan baik yang jelas maupun tidak. Mereka adalah keluarga sementara saat manusia di rumah tak mengerti dan tak mau mengerti tentang kita (atau sebaliknya). Teman memang tak bisa menggantikan posisi keluarga sebagai manusia terdekat kita. Tapi...

Kesatuan

Image
Bersatu. Itulah yang sulit dilakukan oleh manusia di daerah multietnik, termasuk Afghanistan. Etnik Pashtun, Hazara dan etnik lainnya masih menganggap diri mereka lebih baik daripada etnik lainnya. Semua manusia tak ingin direndahkan tapi dengan mudah merendahkan orang lain. Primordialisme menjadi penyebab dasar adanya perpecahan dan sulit bangkitnya manusia Afghanistan dari keterpurukan pasca perang. Tak peduli berapa negara dan organisasi asing yang membantu, mereka tak pernah bisa benar-benar bangkit dan bersatu. Etnik Pashtun menganggap dirinya menjadi manusia terbaik dan suku yang paling pantas menjadi pemimpin. Etnik lainnya muak dengan para pemimpin dari Pashtun. Etnik Tajik, Kirghiz dan etnik-etnik lainnya kesal tiada dua. Ekspresi kekecewaan ini diekspresikan melalui keengganan etnik tertentu berbicara bahasa etnik lainnya. Enggan berbahasa Dari, berbahasa Pashto dan bahasa lainnya. Sumber:  deafitsa.blogspot.com Begitulah cuplikan deskripsi Agustinus Wibowo ya...

Batas Beda

Image
Sore ini saya masih membaca tumpukan diksi pilihan Agustinus Wibowo dalam bukunya, Selimut Debu. Ia mengisahkan perjalanannya di Afghanistan dan Pakistan dengan apik. Begitupun dengan negeri stan-stan lainnya yang lahir setelah runtuhnya Uni Soviet. Kemelut di negeri debu Afghanistan memang tak pernah berhenti selesai. Sebagai supplier opium nomor wahid di dunia, harusnya negara ini digdaya tiada tara. Sayangnya, yang terjadi adalah sebaliknya.  Saat banyak negara sibuk menghujat maupun mendukung legalisasi pernikahan sejenis, suku Pashtun Afghanistan sudah sejak lama menjadikan murid-murid lelaki sebagai pelepas hasrat seksual mereka yang kemudian dibasmi oleh Taliban. Saat banyak negara mengasihani wanita-wanita Afghan dibalik burqo  mereka, wanita-wanita Afghan tersebut berbalik mengasihani wanita-wanita yang harus bertelanjang padahal berbaju dan ikut berjibaku mencari uang untuk sebongkah berlian. Saat celana berbahan denim sudah menjadi hal umum di luar sana, di Af...

Kapan ke, Dari

Image
Saya punya kebiasaan minta oleh-oleh yang bisa dititipkan kepada siapapun yang sedang bepergian. Saya tidak minta dibelikan gantungan kunci atau postcard bahkan coklat dan apapun yang bisa menambah biaya perjalanan teman saya membengkak (setidaknya bertambah). Saya gak setega itu. Saya hanya minta doa dan foto dari tulisan ajakan yang dipotret dari tempat terindah yang mereka kunjungi. Proyek meminta oleh-oleh ini saya beri nama: Kapan ke, Dari. Terimakasih a Indra, Tony dll yang sudah TIDAK LUPA ngasih oleh-oleh ini (soalnya kebanyakan malah lupa karena yang diminta bukan berupa barang. Hahaha). Kapan ke Uzbekistan? Dari Tony. Kapan ke Uzbekistan? Dari Tony.

Stabil

Stabil. Menurut KBBI, stabil berarti mantap, kuku, tidak goyah, tetap jalannya, tenang. Siapa sih yang tidak suka kondisi stabil? Ah ya, ada saja orang-orang yang menyukainya, mereka orang-orang yang mudah beradaptasi dengan perubahan. Bagaimana yang tidak? Itulah persoalannya.  Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman yang baru saja diterima bekerja secara temporal di sebuah perusahaan multinasional. Meskipun pekerjaannya sangat bertolak belakang dengan latar belakang pendidikannya, teman saya itu tetap memutuskan untuk mengambil tawaran pekerjaan tersebut. Namun baru seminggu, triger stress seolah-olah menghantuinya.  Ia mengeluhkan minimnya arahan dari superior, rumitnya tugas dan dampaknya terhadap psikisnya. Saat itu saya baru tahu ada riwayat hyperstress yang pernah ia alami karena beberapa masalah di perkuliahan dan kehidupannya beberapa tahun yang lalu. Ia takut riwayat sakitnya akan terulang bila ia terus bergelut dengan pekerjaannya sekarang.  De...

Review: Gadis Pantai

Image
Malam itu tiba-tiba saja saya ingin membuka akun twitter. Entah pasal apa, tiba-tiba saya sibuk membaca kicauan-kicauan dari @PramQuotes yang berisikan kutipan kata-kata bijak dari sastrawan ternama Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Tiba-tiba, saya menemukan akun @susastra_ dan ternyata akun ini menjual buku-buku Pram. Tertariklah saya pada paket buku bernuansa wanita: Gadis Pantai, Larasati dan Cerita Calon Arang. Sebetulnya, saya agak trauma dengan tulisan Pram. Sejak membaca Manusia Bumi dan satu lagi saya lupa judulnya, selalu saja ada bagian cerita tentang zina sang tokoh utama. Namun Pram dengan apik membalutnya dengan kata-kata yang menurut saya mengurangi kadar mesumnya. Berharap di buku itu tak ada hal negatif yang sama, akhirnya saya pesan paket murah-meriah tersebut.  Paket datang sekitar 5 hari setelah pemesanan. Gadis Pantai adalah buku pertama yang saya baca. Cerita tentang brengseknya para priyayi yang pintar mengaji dan tak pernah absen sholat 5 kali ...

Secuil Cerita tentang Keluarga

Image
Yeah, entah kenapa hari ini ingin bahas salah satu topik yang menurut saya termasuk privasi: keluarga. Sejujurnya, saya kurang merasa nyaman bila ditanya tentang hal-hal yang menyangkut tentang keluarga. Apalagi kalau baru kenal, eh udah nanya tentang keluarga, males deh. Tapi kali ini saya mau curcol tentang keluarga saya. Sebagai anak CEWEK pertama dari 6 bersaudara (adik saya gak ikut foto bareng karena belum balik dari tugasnya sebagai pelajar di Univ Al-Azhar, Kairo, Mesir), saya pernah merasa sangat malu dan sering berbohong saat ditanya jumlah saudara kandung. Dipikiran saya, angka 6 itu banyak sekali. Apalagi rata-rata teman-teman saya hanya 2-4 bersaudara, malah banyak juga yang jadi anak tunggal. Jadi saya sering bohong kalau ditanya jumlah saudara kandung. Saya sering jawab "punya adik perempuan dan adik laki-laki". Titik. Secara rasional sih betul ya, orang-orang yang dengar jawaban saya pasti mikir kalau saya 3 bersaudara, padahal mah 2 adik perempuan dan 3...

Wanita Cantik vs Nasib Baik

Image
Cantik. Hampir setiap wanita ingin menjadi cantik, menjadi menarik, menjadi berbeda dengan wanita lain atau sama dengan para wanita di atas rata-rata. Walau banyak juga wanita yang tak begitu ingin cantik, tapi rasanya agak mustahil rasa itu tak pernah muncul di hatinya. Supaya yakin dirinya tetap cantik, banyak wanita melengkapi bawaanya dengan make up dan cermin. Kau tahu, cermin dalam bahasa arab mir-atun. Sedangkan wanita dalam bahasa arab yaitu mar-atun. Mirip ya? Mungkin karena wanita suka bercermin dan cermin identik dengan wanita. Tapi saya tak akan bahas tentang sejarah cermin dan sejak kapan wanita suka bercermin. Kembali ke cantik. Saya pernah membaca sebuah candaan dimana wanita selalu mengeluhkan kondisi wajah dan tubuhnya di setiap pagi saat bercermin. Sedangkan para lelaki selalu dengan PDnya meyakini 'kegantengan' mereka saat bercermin di pagi hari. Sebegitu ingin cantik kah wanita? Namun saya selalu menemukan cantik tak saja identik dengan hal-hal yang ...

Malaysia, We Are Coming!!! #4

Ternyata manusia itu manusia yang kami tunggu sejak tadi. Melati. Ia sudah menunggu lebih dari setengah jam yang lalu. Padahal kami sudah mengamati setiap orang yang keluar dari train sejak tadi dan tidak menemukan sosoknya. Ada yang lucu saat kami menunggu Melati. Ada dua orang bule wanita yang menggunakan dress berwarna hijau mencolok dan kuning mencolok. Warna stabilo. Kami hanya tersenyum saja. Ternyata ada yang iseng nyeletuk, "Nice color and nice dress, madam. You are so beautiful." Si bule dengan santainya tersenyum dan mengatakan terimakasih. Padahal kami tahu semua orang di sekitar dua wanita itu tersenyum dan beberapa tertawa karena warna baju yang 'sesuatu' sekali. Setelah bertemu Melati, kami beranjak ke Petronas Twin Tower. Jam setengah 12 malam pun pelataran kantor Petronas ini masih ramai. Bule-bule juga pada norak ya kalau foto-foto. Segera kami buat tulisan supaya kekinian. Malah ada segerombolan bule yang bawa banner mini dengan tulisan. "...

Malaysia, We are Coming!!! #3

Sore di Terminal Bersepadu Selatan, kami lelah dan duduk senderan di samping tong sampah. Sedih ya? Hanya itu satu-satunya tiang yang ada terminal kosongnya dan tak bertuan. Ceileh bahasanya tak bertuan. Hahaha. Saat kami mulai lemas dan waswas karena makhluk bernama Melati yang memilih tinggal di Singapura lebih lama daripada ikut saya dan Ica untuk pergi ke Melaka belum datang juga. Tiba-tiba ada seseorang yang mencolek saya. Saya menoleh. Ternyata ada manusia cantik berkacamata yang tersenyum pada kami. Ooo em jiiii. Azka! Kami pikir nasib naas kami hanya milik kami saja. Nyatanya, lebih naas lagi nasib Azka. Calon guide kami yang memang belajar di Malaysia ini sudah menunggu kami sejak jam 9 PAGI! PAGI loh PAGI!!! Sedangkan kami sampai di KL jam 5 sore. Fufufu. Sejenak melepas lelah perjalanan Masjid Jamek-TBS, kami mengobrol ringan. Tanpa diminta, Azka sudah bercerita panjang lebar tentang kegiatannya, kesibukannya dan pengalamannya ikut lomba debat antar negara di Qatar beb...